Kamis, 23 April 2026, Kamis Pekan Paskah III
Bacaan: Kis 8:26-40; Mzm 66:8-9,16-17,20; Yoh 6:44-51.
“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." [Yoh 6: 51]
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata dengan tegas: “Akulah roti hidup”. Ia mengingatkan akan manna yang diberikan Allah di padang gurun, namun menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar—diri-Nya sendiri. Sama seperti makanan yang menopang tubuh kita, hanya Yesus yang memberi makan jiwa kita. Ia bukanlah hidangan pendamping untuk keadaan darurat dalam hidup, melainkan hidangan utama untuk setiap hari.
Mendiang Paus Fransiskus mengingatkan kita bahwa hanya Yesus yang dapat mengisi rasa lapar terdalam di hati kita. “Hanya Dia yang mengampuni kita, menguatkan kita untuk mencintai dan mengampuni, serta membantu kita merasa dicintai—bahkan ketika orang lain mengecewakan kita.” Ketika kita mencoba menghadapi hidup dengan kekuatan sendiri dan hanya ingat Yesus saat krisis, kita memperlakukan-Nya sebagai sesuatu yang opsional. Namun, Roti Hidup itu esensial.
Terkadang kita lebih suka Tuhan yang jauh, yang tidak “campur tangan.” Namun, Kristus menjadi manusia untuk dekat dengan kita—untuk berjalan bersama kita, memberi makan kita dengan Firman-Nya dan Tubuh-Nya sendiri. Ia ingin hadir tidak hanya di gereja, tetapi di meja makan kita, dalam perjuangan sehari-hari kita, dan dalam kehidupan keluarga kita.
Bayangkan jika setiap hari, sebelum kita makan, kita mengundang Yesus untuk bergabung dengan kita. Doa sederhana saat makan dapat menyambut kehadiran-Nya ke dalam rumah dan hati kita. Ia menjadi kekuatan kita, damai kita, sukacita kita.
Ekaristi lebih dari sekadar ritual—itu adalah undangan untuk menjadi seperti Kristus. “Memakan daging-Nya” berarti hidup dalam persahabatan yang begitu erat dengan Yesus sehingga hidup kita mulai mencerminkan kasih-Nya, belas kasihan-Nya, dan cara-Nya.
Semoga Maria, yang mengandung Sang Sabda yang menjadi daging, membantu kita menjadikan Yesus pusat hidup kita. Marilah kita menjadikan-Nya roti harian kita—bukan sekadar tambahan atau sampingan, tetapi sumber dari segala yang kita lakukan.
Tuhan, semoga Ekaristi menghidupkan komunitas-komunitas kami dalam semangat pelayanan dan keadilan. Amin.

