Rabu, 22 April 2026, Rabu Pekan Paskah III
Bacaan: Kis. 8:1b-8; Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a; Yoh. 6:35-40.
"Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi,” (Yoh 6: 35).
Tingkat kelaparan dunia tahun 2026 diperkirakan mencapai titik rekor tertinggi, dengan Program Pangan Dunia (WFP) memperkirakan hingga 318 juta orang menghadapi kelaparan akut akibat konflik, krisis ekonomi, dan dampak iklim. Krisis ini diperparah dengan tingginya harga energi dan potensi gangguan produksi akibat El Nino.
Hal ini mengingatkan akan arti penting makanan, sehingga kita tidak “taken it for granted” atau boros atau bahkan membuang-buang makanan.
Hidup itu berharga dan kita akan berusaha apa saja untuk menjaga kelangsungannya. Ketika Allah menciptakan dan memberikan kita kehidupan, Ia ingin agar kita juga menjaga kelangsungannya. Malahan, Ia tidak hanya menghendaki kita menjaga kelangsungannya untuk suatu kurun waktu tertentu, tetapi sampai kekal. Allah tahu bahwa tak ada makanan yang dapat membuat kita hidup selamanya. Dan karena makanan yang kita makan tidak dapat memberi hidup kekal, maka Ia memberi makanan yang lain. Namanya, Roti Hidup. Apa itu Roti Hidup? Atau lebih tepat, siapakah Roti Hidup?
Injil hari ini memberi jawaban: YESUS. Kepada orang banyak yang mengikuti-Nya ia berkata: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh 6: 35). Itulah makanan yang kita perlukan untuk hidup kekal. Yang membuatnya spesial adalah bahwa Ia adalah makanan, tetapi sekaligus juga Hidup. Makanan yang biasa kita makan sudah mati. Kita membunuhnya dulu, memasaknya sebelum kita makan. Tetapi Yesus, Roti Hidup, adalah Hidup itu sendiri. Maka tidak mengherankan bahwa “yang makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya akan memperoleh hidup kekal.”
Yesus menunjuk pada Ekaristi Kudus. Kita merasakan, betapa hampa hidup kita tanpa Ekaristi. Mari kita ingat bahwa makan tubuh-Nya dan minum darah-Nya lebih dari sekadar menghadiri misa dan menerima komuni. Itu berarti bahwa kita mempunyai relasi yang mendalam dengan Kristus. Bersatu dengan-Nya. Itulah artinya “percaya”. Persatuan dengan-Nya itu kita nyatakan melalui doa, kontemplasi dan juga hidup yang dibagikan demi kehidupan sesama, dengan menghormati kehidupan dan martabat manusia. Dengan itu kita kita berada pada jalan menuju hidup kekal.
Apakah anda mengalami kekuatan dan pertumbuhan sebagai seorang beriman dengan menerima Ekaristi, Roti Hidup? Apakah Roti Hidup yang saya terima mendorong saya juga untuk berbagi “roti” dalam kehidupan sehari-hari dengan mereka yang berkekurangan?
Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah roti hidup. Hanya Engkau yang dapat memuaskan rasa lapar di dalam hatiku. Semoga aku selalu menemukan di dalam Engkau, roti sejati dari surga, sumber kehidupan dan makanan yang aku butuhkan untuk perjalananku menuju tanah air surgawi. Bantulah aku, yang telah Engkau kenyangkan dengan Roti Surgawi, berbagi hidup dengan mereka yang berkebutuhan.

