Jumat, 24 April 2026, Jumat Pekan Paskah III
Bacaan: Kis. 9:1-20; Mzm. 117:1,2; Yoh. 6:52-59.
“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh 6: 54 – 56).
Seorang nenek yang buta huruf hidup sangat miskin. Melihat hal itu Pastor paroki setempat memberi bantuan makanan baginya sekali seminggu. Belakangan pastor parokinya itu mendengar bahwa sebenarnya anak dari nenek itu hidup sukses di Amerika. Maka ia bertanya kepada nenek itu, apakah anaknya tidak pernah mengirim sesuatu sama sekali. Nenek itu menjawab bahwa anaknya di Amerika hanya mengirim gambar yang sama setiap bulan. Maka disimpannya gambar itu dalam sebuah kotak. Nenek itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak yang penuh dengan gambar itu, yang sebenarnya adalah uang kertas US $ 100. Nenek itu sebenarnya kaya, tetapi ia tidak mengetahuinya.
Kutipan Injil hari ini mengingatkan kita tentang apa yang sesungguhnya kita terima dalam Ekaristi Kudus. Dalam Ekaristi Kudus, kita tidak hanya dikenyangkan dengan Sabda Tuhan tetapi, sesungguhnya, kita menerima Yesus Kristus sendiri. Setiap kali kita menghadiri Misa dan menerima komuni, kita tidak hanya menerima sekeping wafer atau roti yang dikonsekrir. Bahkan itu bukan hanya lambang atau simbol kehadiran Tuhan tetapi Tuhan sendiri, pribadi kedua dari Trinitas, yang lahir dari Perawan Maria; Yesus yang sama yang sungguh-sungguh hidup di tengah kita, yang mengerjakan mukjizat-mukjizat dan yang mewartakan Kerajaan Allah; Yesus yang sama yang menderita sengsara dan wafat tetapi telah bangkit dari mati. Maka, ketika kita mengambil bagian dalam roti dan anggur, indera fisik kita bertemu dengan yang ilahi. Ini adalah sebuah persekutuan yang menyatukan kita dengan Kristus sendiri. Betapa kaya kita! Semoga kita tidak seperti nenek tadi. Hidup dalam kemiskinan rohani, tanpa menyadari, betapa luar biasanya kekayaan yang kita terima dalam Ekaristi kudus.
Sepanjang pekan ini, kita telah merenungkan Bab 6 Injil Yohanes dan mencoba untuk memahami pentingnya panggilan Yesus untuk mengambil bagian dalam daging dan darah-Nya. Bersatu dengan Kristus berarti bersatu dengan cara berpikir dan berperilaku Yesus, menyerap seluruh pribadi Yesus. Hal ini melibatkan kemampuan untuk menyatakan, seperti Paulus, “Aku hidup, namun bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” St. Paulus juga berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia,” tegas Yesus.
Perlu diingat bahwa semua itu tidak hanya berhenti pada komuni selama Ekaristi. Ekaristi pada dasarnya adalah sebuah perayaan komunal atas identitas kita sebagai saudara dan saudari yang mewujudkan Tubuh Kristus bagi satu sama lain dan bagi seluruh dunia. Kita menerima daging dan darah Yesus tidak hanya melalui Sabda Tuhan yang diwartakan selama Liturgi dan pembagian Roti dan Anggur, tetapi juga melalui setiap interaksi yang penuh kasih dalam komunitas. Oleh karena itu, Ekaristi tidak lengkap tanpa kehadiran Tubuh Kristus yang menjadi nyata dalam kehidupan bersama kita.
St. Agustinus berkata, “Kita menjadi apa yang kita makan.” Dengan menerima dan bersatu dengan Kristus, kita menjadi Kristus yang lain. Pelayanan kasih kita, seperti dikatakan oleh Ibu Teresa dari Calcutta, adalah pemberian kita yang terbesar, sebab kita membagikan Yesus, hanya Yesus, dan selalu Yesus.
Yesus, Roti Hidup, berikanlah aku makanan tubuh, jiwa dan rohku. Amin.

