bersahabat dengan yesus

Menjadi Sahabat Yesus

Jumat, 8 Mei 2026, Jumat Pekan Paskah V
Bacaan: Kis 15:22-31Mzm 57:8-9.10-12Yoh 15:12-17.

“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yoh 15: 15)

Dalam Injil hari ini, kita dengar sabda Yesus yang sangat menyentuh hati kita: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba….tetapi Aku menyebut kamu sahabat.” Inilah sabda Allah yang menjadi manusia dan tinggal bersama kita. Persahabatan adalah kedekatan, intimitas, keakraban. Nampaknya ini berkebalikan dengan kodrat Allah yang biasa kita kenal: absolut, transenden, jauh, sungguh berbeda dengan kita.

Apa maksud dari sabda Yesus tersebut?

Pertama, dengan menyebut kita sahabat-sahabat-Nya, kita sungguh berharga bagi-Nya. Kita hanya bersahabat dan sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi dekat dengan mereka yang dengannya kita temukan “chemistry”, mereka yang kita sayangi. Dalam pengalaman manusiawi kita, menjadi sahabat sering kali menjadi langkah pertama pada relasi yang lebih dalam. Sering kali bersahabat juga menjadi langkah pertama bagi mereka yang saling jatuh cinta. Seperti itulah persahabatan kita dengan Yesus. Namun, kita bersahabat dengan-Nya karena Ia memilih kita. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” Cinta-Nya kepada kita jauh lebih besar dari cinta kita kepada-Nya. Dialah sang Pencinta, dan kitalah yang dicintai-Nya.

Kedua, Yesus atas salah satu cara terpikat terhadap kita. Seorang pencinta biasanya “tak berdaya” dengan yang dicintainya. Ia terpikat . Dia mengetahui kelemahan kita namun tetap mempercayakan hati-Nya kepada kita. Dia membagikan kepada kita segala sesuatu yang telah Dia terima dari Bapa. Dia memanggil kita “yang terkasih”, yang dicintai, melebihi kemampuan kita, melampaui keberdosaan kita, mengundang kita untuk tinggal di dalam kasih-Nya tanpa rasa takut. Ia menghargai kebebasan kita. Ia mencintai saya, mencintai anda. Betapa kita tidak bersyukur dan bersukacita?

Hari ini, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: Siapa Yesus bagi saya? Orang asing yang jauh, atau sahabat sejati? Apakah saya menyambut kasih-Nya, dan apakah saya mencerminkan persahabatan-Nya kepada orang lain – terutama kepada mereka yang membutuhkan pengampunan dan belas kasih?

Inti dari kehidupan Kristen bukanlah sekadar kewajiban, tetapi persahabatan yang penuh sukacita dengan Tuhan yang hidup. Ini adalah hubungan yang mengubah kita dan mengutus kita untuk membangun ikatan kasih ke mana pun kita pergi.

Yesus memanggil Anda sebagai sahabat-Nya – tetaplah berada dalam kasih-Nya, dan bagikanlah persahabatan itu ke manapun Anda melangkah.

Tuhan, berilah aku rahmat untuk menghidupi persahabatan dengan-Mu dan membagikannya dalam persahabatan dengan sesama. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *