menolak yesus

Jangan Banyak Alasan

Jumat, 12 Desember 2025, Jumat Pekan Advent II
Bacaan: Yes. 48:17-19Mzm. 1:1-2,3,4,6Mat. 11:16-19

“Dengan apakah akan Kuumpamakan angkatan ini? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, dan tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya." (Mat 11: 16 – 19).

Dalam Injil hari ini, Yesus menghadapi penolakan generasi-Nya terhadap pesan Allah. Seperti anak-anak yang keras kepala di pasar, mereka menolak baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus, dengan menciptakan alasan-alasan untuk mendiskreditkan mereka. Yohanes, dengan gaya hidupnya yang sederhana, dituduh sebagai orang yang kerasukan. Yesus, yang makan bersama orang berdosa, dianggap sebagai orang yang rakus dan pemabuk. Reaksi mereka mengungkapkan masalah yang lebih dalam: penolakan untuk menerima cara-cara Allah yang mengejutkan.

Penolakan itu masih berlangsung hingga saat ini. Pemimpin dan komunitas, baik di masyarakat maupun di Gereja, seringkali menolak tantangan yang mengusik kenyamanan atau tradisi mereka. Ketika dihadapkan pada suara-suara kenabian atau ekspresi iman yang baru, mereka mencapnya sebagai pemberontak atau bertentangan dengan norma yang telah ditetapkan. Kecenderungan untuk berpegang teguh pada tradisi kecil dan ide-ide kaku menghambat keterbukaan terhadap karya Roh Kudus di zaman kita.

Yesus mengungkap inkonsistensi sikap-sikap ini, membandingkan orang-orang yang mengkritik-Nya dengan anak-anak yang menuntut orang lain menari sesuai irama mereka. Kebijaksanaan sejati, bagaimanapun, tidak memaksakan kehendak sendiri tetapi mencari kehendak Allah dengan kerendahan hati. Kebijaksanaan bukan tentang mengendalikan narasi, tetapi mengenali kehadiran Allah di tempat-tempat dan suara-suara yang tak terduga.

Kita dipanggil untuk memeriksa hati kita sendiri. Apakah kita konsisten dalam hidup beriman, ataukah kita terjebak dalam perangkap prasangka dan resistensi yang sama? Iman membutuhkan hati nurani yang kritis, yang menantang ketidakadilan dan mencari pembaruan yang autentik, baik dalam masyarakat maupun dalam Gereja.

Injil mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan ilahi diwahyukan kepada orang-orang yang rendah hati dan terbuka hatinya. Mari kita tinggalkan alasan dan dalih, dan menerima pesan Injil yang tidak nyaman namun memberi kehidupan. Semoga Injil menantang dan mengubah kita setiap hari.

Tuhan, bantulah kami untuk memperhatikan dan menaati warta keselamatan-Mu, agar kami tidak hanya berpegang pada keinginan kami sendiri, melainkan terbuka terhadap tuntunan-Mu dan mengutamakan mencari kehendak-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *