Sabda Hidup
Sabtu, 8 Agustus 2026, Peringatan Wajib St. Dominikus
Bacaan: Hab. 1:12-2:4; Mzm. 9:8-9.10-11.12-13; Mat. 17:14-20
“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: "Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita,” (Mat 17: 14 – 15a).
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita benar-benar tak berdaya. Seperti sang ayah dalam Injil hari ini, yang membawa putranya yang menderita kepada Yesus, pun ada saat-saat kita memikul beban penderitaan orang-orang yang kita cintai. Epilepsi yang diderita putranya, sebuah penyakit yang sungguh membuatnya menderita, membuatnya kehilangan kendali, terjatuh, dan terluka. Sang ayah tak bisa menolongnya. Ia hanya berdiri di samping, menyaksikan — mencintai, menderita, dan menunggu. Berapa banyak ibu dan ayah saat ini, berapa banyak teman dan anggota keluarga, yang merasakan ketidakberdayaan seperti itu, penderitaan yang sunyi ini?
Namun, ada penyakit lain yang diderita oleh banyak orang — sejenis epilepsi rohani. Penyakit ini tidak membuat tubuh kejang, tetapi mengguncang jiwa. Penyakit yang membuat orang merasa tidak berharga, seolah-olah mereka tidak berarti apa-apa. Penyakit ini membuat orang bingung, resah, dan tidak mampu menyelesaikan apa yang telah mereka mulai. Banyak yang merasa tak berdaya, seolah-olah tangisan mereka tak terdengar, bahkan oleh Tuhan.
Terhadap semua ini, Yesus memberikan tanggapan yang lembut namun tegas: “Bawalah dia kemari kepada-Ku.” Maka kita pun harus membawa diri kita sendiri—apa adanya—ke hadirat Tuhan. Dalam Injil yang lain para murid pernah bertanya mengapa mereka tak bisa menyembuhkan anak itu. Yesus berkata dengan jelas: “Jenis ini hanya dapat diusir dengan doa,” (Mrk 9: 29).
Ya, doa. Doa yang sejati, tulus, dan intim. Bahkan jika yang kita lakukan hanyalah duduk dalam keheningan, membiarkan Yesus memandang kita dengan kasih. Bahkan jika yang bisa kita lakukan hanyalah menangis di hadapan-Nya. Di sana, dalam doa, hati kita dipulihkan. Tuhan mendengarkan. Dia menyembuhkan. Dia mengangkat kita.
Jadi hari ini, janganlah kita takut untuk berdoa. Marilah kita membawa kepada Yesus penderitaan kita, keraguan kita, bahkan kekacauan rohani kita. Dalam kasih-Nya, ada kuasa. Di hadapan-Nya, ada damai sejahtera.
Dalam doa, ada mukjizat penyembuhan.
Tuhan Yesus, aku datang kepada-Mu. Sembuhkanlah aku. Santo Dominikus, doakanlah aku. Amin.

