iman petrus yang ragu

Iman itu Percaya

Sabda Hidup
Minggu, 9 Agustus 2026, Minggu Biasa XIX Tahun A
Bacaan: 1Raj. 19:9a,11-13aMzm. 85:9ab-10,11-12,13-14Rm. 9:1-5Mat. 14:22-33.

“Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." Kata Yesus: "Datanglah!" Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" Lalu mereka naik ke perahu dan anginpun redalah,” (Mat 14: 28 – 32).

Bacaan-bacaan hari Minggu ini berbicara tentang kehadiran Allah yang menyelamatkan bagi umat-Nya serta pentingnya IMAN yang penuh kepercayaan kepada Allah yang penuh kasih dan penyedia segala kebutuhan, yang senantiasa menyertai kita. Dalam bacaan pertama, kehadiran Allah itu dialami oleh Elia, bukan dalam angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu, bukan dalam gempa, bukan pula dalam api, melainkan dalam angin sepoi-sepoi basa. Sering kali kita mengharapkan tanda-tanda kehadiran Allah dalam hal-hal atau kejadian-kejadian spektakuler dan hebat. Namun kenyataannya adalah bahwa Ia hadir dalam hal-hal yang biasa. Yang dibutuhkan adalah iman kita.

Injil juga menyajikan tema iman kepada kita. Dan hal itu disampaikan dengan cara yang sangat gamblang melalui sebuah contoh yang dapat kita pahami bersama. Beriman itu, dalam arti tertentu, seperti keluar dari rasa aman dalam perahu dan melompat ke dalam air di tengah badai. Itulah yang diminta Yesus kepada Petrus. Dalam arti tertentu, Ia menantangnya untuk mempercayai-Nya. Namun, Petrus ragu-ragu karena merasa tidak aman. Mungkin kita sering merasa seperti Petrus, merasa insecure, tidak aman. Dan kita mencari jaminan seperti Petrus, namun tidak akan kita temukan.

Terkadang kita berharap iman adalah hasil dari pembuktian ilmiah. Atau bahwa iman kita dinyatakan oleh suatu mukjizat atau sesuatu yang luar biasa atau spektakuler. Pada akhirnya, iman adalah sebuah hubungan, relasi. Iman seharusnya membawa kita ke dalam hubungan dengan Allah. Namun sering kali Tuhan dipandang sebagai sosok yang jauh, berkuasa, tak terjangkau dan bahkan “berbahaya” bagi kehidupan manusia, apalagi kalau Ia murka. Karena kita tidak merasa aman di hadapan-Nya, kita menginginkan bukti yang meyakinkan.

Kenyataannya, iman adalah sikap dasar yang menjadi landasan setiap hubungan. Contoh yang sangat jelas mengenai hal ini dapat ditemukan dalam hubungan cinta sepasang kekasih. Tak satu pun dari pasangan tersebut yang dapat mengatakan bahwa ia benar-benar yakin akan cinta pasangannya. Yang ada hanyalah tanda-tanda: senyuman, kata-kata, belaian, panggilan telepon, obrolan di messenger… tetapi tidak lebih dari itu. Tanda-tanda ini mengukuhkan cinta, namun tidak pernah menjadi bukti yang meyakinkan. Pada akhirnya, setiap orang harus mengambil langkah maju dan percaya. Saling percaya. Itulah kuncinya.

Hal ini persis sama dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita tidak punya pilihan selain mempercayai-Nya. Karena kita tidak memiliki dan tidak akan pernah memiliki bukti yang meyakinkan mengenai keberadaan-Nya. Yang kita miliki hanyalah saksi-saksi. Salah satu saksi utama: Yesus, yang menghabiskan hidup-Nya berbuat baik, menyembuhkan orang sakit, dan mengasihi setiap orang yang ditemui-Nya di sepanjang perjalanan, tepatnya atas nama Allah. Ia mengatakan kepada kita bahwa kasih-Nya adalah buah dari kasih Allah, bahwa Ia mengasihi kita dengan kasih Allah yang sama, dan bahwa kita harus percaya kepada-Nya. Dan kita memiliki banyak saksi lainnya.

Banyak orang yang telah mengikutinya, mempercayainya, dan hidup dengan penuh kasih serta berbuat baik. Namun, kita tidak memiliki bukti akan kasih itu. Kita hanya dapat percaya. Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk menceburkan diri ke dalam air, bahkan di saat badai, untuk hidup tanpa rasa takut, dengan percaya pada kasih Allah. Ia mengajak kita untuk percaya kepada-Nya dan yakin bahwa, bersama-Nya, kita dapat mengatasi bahaya apapun dalam hidup. Karena kasih-Nya selalu menyertai kita.

Tuhan, bantulah aku untuk PERCAYA. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *