ikutlah aku

Menyangkal Diri, Memikul Salib dan Mengikut Yesus

Sabda Hidup
Jumat, 7 Agustus 2026, Jumat Pekan Biasa XVIII
Bacaan: Nah. 1:15; 2:2; 3:1-3.6-7; MT Ul. 32:35cd-36ab.39abcd.41Mat. 16:24-28.

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya,” (Mat 16: 24 – 25).

Konteks perikope Injil kita hari ini adalah peristiwa pengakuan Petrus. Menjawab pertanyaan Yesus, “siapakah Anak Manusia itu,” Petrus menyatakan imannya kepada Yesus sebagai Mesias. Tetapi ketika ia mendengar Gurunya berbicara tentang penderitaan dan kematian, ia ingin mencegah Yesus untuk melanjutkan rencana tersebut. Karena itu Yesus dengan keras menegur Petrus dan berkata: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia,” (Mat 16: 23).

Setelah kejadian ini, Yesus menjelaskan persyaratan untuk mengikut-Nya. Tiga persyaratan mutlak disampaikan kepada siapa pun yang memilih untuk mengikuti Yesus: “Sangkal dirimu, pikullah salibmu, dan ikutilah Aku.”

Menyangkal diri berarti berhenti memikirkan diri sendiri. Ini adalah kebalikan dari prinsip-prinsip yang mengatur hubungan antarmanusia di dunia. Ini adalah penolakan terhadap pengejaran kepentingan pribadi, keinginan untuk mencapai kepuasan, pengakuan, dan keuntungan. Bahkan jika kita jujur, dalam tindakan kasih yang paling murni sekalipun, seringkali terselip bentuk-bentuk egoisme dan ambisi yang terselubung.

Murid Kristus dipanggil, pertama-tama, untuk melepaskan segala ambisi pribadi. Bahkan perbuatan baik atau amal kita pun tidak boleh dilakukan untuk mengumpulkan pahala di surga. Kita dipanggil untuk bertindak, hanya memikirkan saudara-saudari kita. Yesus memanggil kita untuk mengasihi dengan bebas, dalam pengorbanan yang murni, sebagaimana Bapa melakukannya.

Perintah kedua, “memikul salib,” tidak berarti menanggung penderitaan, entah kecil maupun besar dalam hidup. Salib tidak merujuk pada penderitaan sebagai sarana untuk menyenangkan Allah. Kita tidak mencari penderitaan, melainkan cinta. Salib adalah tanda cinta dan pemberian yang total. “Memikul salib” berarti mengikuti jalan Yesus: mencintai tanpa batas, berbuat baik, dan membuat orang lain bahagia.

Perintah ketiga, “Mengikut Aku,” berarti ambil bagian dalam pilihan-pilihan Yesus, ikut serta dalam rencana-Nya, dan mempertaruhkan hidup kita demi kasih. Dengan arti seperti itu, kita memaknai salib yang tergantung di dinding rumah, atau yang kita kalungkan di leher, menjadi tanda keinginan kita untuk bersatu dengan Kristus dalam melayani saudara-saudari kita dengan penuh kasih, terutama yang paling kecil dan paling rentan serta rapuh.

Salib adalah tanda suci Kasih Allah, merupakan lambang Pengorbanan Yesus, dan tidak boleh direduksi menjadi semaam “jimat” atau kalung hiasan. Setiap kali kita memusatkan pandangan pada Kristus yang disalibkan, marilah kita merenungkan bahwa Ia telah menuntaskan misi-Nya untuk memberi kita hidup, dengan mencurahkan Darah-Nya demi pengampunan dosa.

Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi murid-murid-Nya, kita dipanggil untuk menjadi semakin serupa dengan-Nya, mengorbankan hidup kita tanpa ragu-ragu, demi kasih kepada Allah dan sesama.

Semoga Bunda Maria, yang bersatu dengan Putra-Nya hingga di Kalvari, membantu kita agar tidak menyerah saat menghadapi cobaan dan penderitaan yang menyertai kesaksian akan Injil.

Bapa, kami bersedia untuk mengikuti Yesus, Putera-Mu. Namun bantulah kami ketika hati kami menjadi lemah, agar kami dapat terus berjalan bersama Dia yang adalah Tuhan kami untuk selama-lamanya. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *