Senin, 8 Desember 2025, Hari Raya St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa
Bacaan: Kej 3:9-15.20; Mzm 98:1.2-3ab.3bc-4; Ef 1:3-6.11-12; Luk 1:26-38.
“Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau,” [Luk 1: 28]
Hari Raya St. Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, dalam bentuknya yang paling awal, kembali ke abad ketujuh, ketika gereja-gereja di Timur mulai merayakan Pesta Dikandungnya Santa Anna, ibunda Maria. Hari Raya ini merayakan konsepsi (dikandungnya) Santa Perawan Maria di rahim Santa Anna; dan sembilan bulan kemudian, pada tanggal 8 September, kita merayakan Kelahiran Santa Perawan Maria.
Seperti yang dahulu dirayakan (dan sebagaimana masih dirayakan di Gereja-gereja Ortodoks Timur), Pesta Konsepsi (Dikandungnya) Santa Anna tentu tidak memiliki pemahaman yang sama seperti Hari Raya Maria Dikandung Tanpa Noda di Gereja Katolik saat ini. Pesta ini masuk ke gereja Barat sekitar abad ke-11 dan kemudian mulai diikuti dengan kontroversi teologis yang berkembang. Baik Gereja Timur maupun Gereja Barat mempertahankan bahwa Maria terbebas dari dosa sepanjang hidupnya, namun ada perbedaan pengertian tentang arti dari hal itu.
Perkembangan Ajaran tentang Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa
Karena doktrin dosa asal, beberapa orang di Barat mulai percaya bahwa Maria tidak mungkin tidak berdosa kecuali jika dia diselamatkan dari Dosa Asal pada saat konsepsinya (dengan demikian ia dikandung “tak bernoda”). Akan tetapi para teolog lain, termasuk St. Thomas Aquinas, berpendapat bahwa Maria tidak dapat ditebus jika dia tidak punya dosa, paling tidak punya dosa asal.
Terhadap keberatan Santo Thomas Aquinas itu, muncul tanggapan seperti dikatakan oleh Beato John Duns Scotus (wafat tahun 1308), adalah bahwa Tuhan telah menguduskan Maria pada saat pembuahannya sebagai “persiapan” Perawan Maria untuk melahirkan Kristus. Dengan kata lain, dia juga telah ditebus, namun penebusannya selesai pada saat pembuahannya, dan bukan dalam pembaptisan seperti kita.
Penyebaran Pesta ini di Barat
Setelah pembelaan Duns Scotus itu pesta ini menyebar ke seluruh penjuru gereja Barat, meski sering dirayakan pada Pesta Dikandungnya Santa Anna. Pada tanggal 28 Februari 1476, Paus Sixtus IV memperluas pesta itu ke seluruh Gereja Barat, dan pada tahun 1483 mengancam akan mengekskomunikasi mereka yang menentang doktrin Konsepsi Tak Bernoda. Menjelang pertengahan abad ke-17, semua oposisi terhadap doktrin tersebut di Gereja Katolik padam.
Pemakluman Dogma dari Maria Dikandung Tanpa Noda
Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX secara resmi mengumumkan Maria Dikandung Tanpa Noda sebagai dogma Gereja, yang berarti bahwa semua orang Katolik harus menerimanya sebagai kebenaran. Seperti yang Bapa Suci tulis dalam Konstitusi Apostolik Ineffabilis Deus, “Kami menyatakan, mengumumkan, dan menentukan bahwa doktrin yang menyatakan bahwa Santa Perawan Maria, sejak konsepsinya (sejak ia dikandung), dengan kasih karunia dan perkenanan Allah Yang Maha Kuasa , mengingat jasa Yesus Kristus, Juruselamat umat manusia, dipelihara bebas dari semua noda dosa asal, adalah sebuah doktrin yang diwahyukan oleh Tuhan dan oleh karena itu dapat dipercaya dengan teguh dan tetap oleh semua umat beriman.” Kelak, Maria sendiri menyatakan pada tahun 1858 dengan mengatakan kepada St. Bernadette dalam penampakannya di Lourdes, “Akulah yang dikandung dengan suci dan tak bernoda.”
Salam, hai engkau yang dikaruniai!
Dalam Injil hari ini kita dengar Malaikat Gabriel memberi salam kepada Maria dan menyapanya sebagai “yang dikaruniai”. Untuk menjadi ibu Sang Juruselamat, Maria diperlengkapi oleh Allah dengan karunia-karunia yang memampukannya untuk mengambil peran yang luar biasa ini. Ada tradisi di antara orang-orang Kristen, yang berasal dari gereja purba, untuk menghormati Maria sebagai perawan tak bercela yang mengandung Anak Allah di dalam rahimnya. Beberapa bapa gereja mula-mula mengaitkan ketaatan Maria dengan kasih karunia Allah yang luar biasa ini. “Menjadi taat dia menjadi sumber keselamatan bagi dirinya sendiri dan bagi seluruh umat manusia… Simpul ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria: apa yang diikat oleh Hawa dengan ketidakpercayaannya, dilepaskan oleh Maria karena imannya” (dari Adv. haeres 3.22.4, oleh Irenaeus, uskup Lyons, 130-200 M).
Apa kunci yang dapat membuka kuasa dan anugerah kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi kita? Yang pasti adalah Iman dan ketaatan! Ketika Adam dan Hawa tidak taat kepada Allah, mereka segera mengalami akibat dari tindakan mereka, yakni keterpisahan dari Allah yang mengasihi mereka. Namun, Allah dalam rahmat-Nya menjanjikan kepada mereka seorang Penebus yang akan menebus dosa mereka dan dosa dunia. Kita melihat penyingkapan yang luar biasa dari rencana penebusan Allah dalam peristiwa-peristiwa menjelang Inkarnasi, kelahiran Mesias. Jawaban “ya” dari Maria terhadap pesan ilahi adalah model iman bagi semua orang percaya. Maria percaya janji Tuhan bahkan ketika hal itu tampak mustahil. Dia penuh dengan kasih karunia karena dia percaya bahwa apa yang Tuhan katakan itu benar dan akan digenapi. Dia bersedia dan taat untuk melakukan kehendak Tuhan, meskipun itu tampak sulit dan mustahil.
Orang mungkin bisa saja berargumen bahwa anugerah Konsepsi Tak Bernoda yang dianugerahkan kepada Maria itu memungkinkan dia untuk menanggapi pesan ilahi itu dengan cara seperti itu. Namun, kenyataannya, kita tidak jauh berbeda: anugerah yang diberikan kepadanya pada saat konsepsi juga diberikan kepada kita pada saat baptisan kita. Anugerah yang sama dapat memberdayakan kita untuk mengatakan “ya” kepada kehendak Allah, kecuali jika kita memilih sebaliknya.
Tuhan memberi kita rahmat untuk dapat mengatakan “ya” pada kehendak-Nya dan karya transformasi-Nya dalam hidup kita. Ia memberi kita rahmat dan mengharapkan kita untuk menanggapi dengan kehendak bebas, ketaatan, dan kepercayaan hati yang sama seperti yang dilakukan Maria. Ketika Tuhan memerintahkan, Ia juga memberikan rahmat, kekuatan, dan sarana untuk menanggapi. Kita bisa memilih untuk berserah pada kasih karunia-Nya atau menolak dan menempuh jalan kita sendiri. Percayakah anda pada janji-janji Allah? Apakah anda berserah pada kasih karunia-Nya?
Setiap ibu tentu menghendaki agar anak-anaknya mewarisi kebaikannya. Demikian juga Ibunda Surgawi kita menginginkan kita semua anak-anaknya kudus, murni dan taat. Mari kita hormati dia dengan menghidupi keutamaan-keutamaan iman dan ketaatannya. Allah juga telah memperlengkapi kita dengan kasih karunia untuk melaksanakan perintah-Nya: mengasihi Dia dan sesama.
Bapa Surgawi, Engkau mengaruniakan kepada kami rahmat, belas kasihan, dan pengampunan yang melimpah melalui Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Bantu kami untuk menjalani kehidupan yang penuh rahmat seperti Maria, dengan percaya pada janji-janji-Mu dan dengan menjawab “ya” tanpa syarat terhadap kehendak dan rencana-Mu. Amin.

