Sabda Hidup
Senin, 11 Agustus 2025, Senin Pekan Biasa XIX, Peringatan Wajib St. Clara
Bacaan: Ul. 10:12-22; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Mat. 17:22-27.
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum datanglah pemungut bea Bait Allah kepada Petrus dan berkata: "Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu?" Jawabnya: "Memang membayar." Dan ketika Petrus masuk rumah, Yesus mendahuluinya dengan pertanyaan: "Apakah pendapatmu, Simon? Dari siapakah raja-raja dunia ini memungut bea dan pajak? Dari rakyatnya atau dari orang asing?" Jawab Petrus: "Dari orang asing!" Maka kata Yesus kepadanya: "Jadi bebaslah rakyatnya. Tetapi supaya jangan kita menjadi batu sandungan bagi mereka, pergilah memancing ke danau. Dan ikan pertama yang kaupancing, tangkaplah dan bukalah mulutnya, maka engkau akan menemukan mata uang empat dirham di dalamnya. Ambillah itu dan bayarkanlah kepada mereka, bagi-Ku dan bagimu juga." (Mat 17: 24 – 27)
Pada zaman Yesus, setiap lelaki Yahudi yang berusia di atas 20 tahun diwajibkan membayar setiap tahun sebesar dua dirham untuk mendukung ibadah kepada Allah di Bait Suci Yerusalem (lih. Keluaran 30:11-16; Nehemia 10:33). Kewajiban ini berlaku bagi semua orang, termasuk orang-orang Yahudi yang merantau atau diaspora. Bait Suci memerlukan biaya yang mahal untuk pengelolaannya. Pajak ini memungkinkan imam-imam untuk mengandalkan sumber keuangan yang lebih pasti dari sekadar persembahan sukarela dari pengunjung Bait Suci yang tidak pasti.
Para pemungut pajak Bait Suci tahu bahwa Yesus adalah pemimpin kelompok-Nya, tetapi Petrus adalah orang yang sering mengurus urusan duniawi kelompok tersebut. Ketika pemungut pajak di Kapernaum mengingatkan Petrus tentang kewajiban tersebut, Petrus menjawab tanpa berkonsultasi dengan Yesus bahwa Gurunya tentu saja mematuhi hukum ini dan secara rutin membayar pajak. Yesus sama seperti kita dalam segala hal, bahkan dalam hal membayar pajak!
Di bawah pemerintahan kerajaan kuno, upeti atau pajak dianggap sebagai pembayaran khusus untuk kepentingan keluarga kerajaan. Oleh karena itu, pertanyaan Yesus kepada Petrus tentang siapa yang membayar bea dan pajak kepada raja-raja di bumi. Jawaban Petrus mudah: Itu berasal dari orang-orang asing. Maka rakyat tidak membayar pajak. Apalagi anak-anak raja tidak membayar pajak kepada ayahnya (ay. 25). Yesus adalah Anak Allah. Sedangkan Bait Allah adalah milik Allah. Maka sejatinya, Yesus bebas dari kewajiban untuk membayar pajak Bait Allah. Dengan menyatakan diri-Nya bebas dari kewajiban itu Yesus memanfaatkan kesempatan untuk mengajarkan bahwa Dia adalah Anak Allah. Meskipun bebas dari kewajiban membayar pajak Bait Allah, demi menghindari skandal (ay. 27), Yesus memenuhi kewajibannya sebagai warga negara, seperti orang lain.
Bagian ini tampaknya mencerminkan dilema Gereja perdana. Haruskah orang Kristen Yahudi terus membayar pajak Bait Suci? Atau haruskah orang Kristen pada umumnya membayar pajak kepada pemerintah kafir, terutama yang kaisarnya mengaku sebagai Allah? Yesus telah menjawab pertanyaan itu pada kesempatan lain: Berikanlah kepada kaisar apa yang menjadi milik kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah.
Sebagai murid-murid Kristus dan warga negara yang baik, kita harus mematuhi hukum Gereja dan negara serta berkontribusi bagi kebutuhan Gereja dan misinya, dan sementara kita melaksanakan kewajiban kita sebagai warga masyarakat dan negara. Yesus sebenarnya bebas dari pajak. Namun Ia memilih untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Bagaimana kita menggunakan kebebasan kita? Bagaimanakah kehadiran kita? Menjadi berkat atau batu sandungan bagi sesama?
Ya Allah, semoga kami menjadi warga kerajaan-Mu yang baik sekaligus menjadi warga masyarakat yang baik pula. Amin.

