tanda nabi yunus (1)

Tanda Pertobatan

Sabda Hidup
Senin, 20 Juli 2026, Senin Pekan Biasa XVI
Bacaan: Mi 6:1-4.6-8Mzm 50:5-6.8-9.16bc-17.21.23Mat 12:38-42.

“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: "Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu." Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Mat 12: 38 – 39).

Dalam khasanah bahasa gaul sehari-hari kita pasti pernah mendengar istilah “lebay”. “Please deh… gak usah lebay!” Itu yang kita katakan atau dengar ketika menanggapi perilaku, sikap, tindakan atau reaksi yang berlebihan. Entah kapan muncul kata “lebay” ini dalam khasanah bahasa gaul. Nampaknya kata “lebay” berasal kata “lebih”.

Dalam Injil hari ini dikatakan bahwa para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi meminta tanda dari Yesus.  “Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Mereka meminta Yesus untuk memberi mereka tanda dan bukti akan identitas-Nya. Mereka meminta Yesus untuk menunjukkan tanda-tanda bahwa Ia sungguh-sungguh Sang Juruselamat. Padahal mereka sudah melihat apa yang dikerjakan-Nya. Mereka telah melihat mujizat yang dilakukan oleh-Nya. Bukankah mereka telah menyaksikan “orang buta dapat melihat, orang lumpuh dapat berjalan, orang yang sakit kusta ditahirkan, orang tuli dapat mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang-orang miskin diberitakan kabar baik”? (Mat 11: 5). Menghadapi tanda yang terbaik dan sempurna di depan mata, dan masih meminta tanda yang lebih baik, adalah puncak kebutaan dan ketidaksetiaan. Maka pantaslah permintaan mereka itu dikatakan “lebay”.

Untuk menjawab permintaan mereka, Yesus menunjuk pada kisah Yunus. “Kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus,” [Mat 12:39]. Tanda nabi Yunus adalah pesan pertobatan, pesan pertobatan yang diterima dengan baik oleh orang-orang Niniwe. Yesus menafsirkan peristiwa Yunus yang ditelan dan tinggal di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam, lalu dimuntahkan kembali di tempat yang sama di Niniwe, sebagai gambaran akan wafat  dan kebangkitan-Nya sendiri. Wafat dan kebangkitan-Nya membawa pertobatan bagi banyak orang. Ia menawarkan kebebasan dari dosa kepada kita jika kita mendengarkan-Nya.

Apa artinya bertobat? Bertobat berarti berbalik. Dalam Perjanjian Baru, bertobat berarti berbalik dari dosa. Kita dipanggil oleh Allah untuk berbalik dari dosa. Bahkan, semua orang di mana pun diperintahkan oleh Allah untuk bertobat dari dosa-dosa mereka (Kisah Para Rasul 17:30). Kesabaran Allah yang begitu panjang menuntun kita kepada pertobatan (2 Petrus 3:9), demikian pula kebaikan-Nya (Roma 2:4). Dan pertobatan merupakan aspek mendasar dari kehidupan Kristen. Hal ini disebabkan oleh kesadaran kita akan dosa-dosa. Dosa-dosa tidak sekadar jatuh dari langit, melainkan merupakan hasil dari keputusan individu untuk melakukan kejahatan. Tindakan-tindakan jahat individu juga memiliki dampak langsung terhadap masyarakat secara luas.

Kardinal Francis Xavier Nguyen Van Thuan dalam bukunya, The Road of Hope: A Gospel from Prison, berkata: “Seberapa banyak kita harus membaharui diri? Terus-menerus! Kita selalu membutuhkan awal yang baru. Kita harus selalu mengarahkan diri pada pertobatan kita. Jangan puas jika hari ini kamu belum maju satu langkah pun dari kemarin dalam persatuanmu dengan Allah. Kamu bisa yakin bahwa begitu kamu mandeg, kamu mulai tergelincir kembali ke kebiasaan lamamu.”Apa yang dikatakan oleh Kardinal Van Thuan ini sangat familiar bukan? Yakni sering kali kita mandeg. Kita jatuh dalam kebiasaan lama, dalam dosa yang lama. Sudah mengaku dosa, eh… berbuat dosa yang itu-itu lagi…. Itulah sebabnya, kita membutuhkan pertobatan terus menerus.

Tuhan, tumbuhkan semangat pertobatan terus menerus dalam diriku. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *