gandum dan gulma

Gandum dan Gulma

Sabda Hidup
Minggu, 19 Juli 2026, Minggu Biasa XVI Tahun A
Bacaan: Keb. 12:13,16-19Mzm. 86:5-6,9-10,15-16aRm. 8:26-27Mat. 13:24-43 (panjang) atau Mat. 13:24-30 (singkat).

“Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai,” (Mat 13: 28 – 30).

Kita mungkin berpikir, jadi petani koq gitu? Rumput dibiarkan tumbuh bersama dengan gandum! Kalau kita tabur benih dan gulma juga tumbuh bersama, tentu kita cabut! Dalam kehidupan kita pun bertanya-tanya… Tuhan, kenapa sih orang-orang jahat dibiarkan hidup? Kenapa yang korupsi hampir setengah triliun dan simpan emas berpuluh-puluh kilogram baik-baik saja? Mereka kelihatan lebih sukses lagi! Sedangkan kita-kita ini yang rajin misa, rajin berdoa, rajin beramal, hidup sengsara terus! Mereka yang jahat itu kenapa tidak kena penyakit saja lalu mati!?

Kita tidak dapat mengharapkan kehidupan manusiawi yang sempurna di mana hanya ada orang-orang baik. Yang baik dan yang jahat selalu ada bersama sampai akhir jaman. Baik dan jahat akan selalu dapat ditemukan bersama di antara pribadi-pribadi dalam komunitas kita. Tuhan menghargai keduanya dan bersabar. Ia memberi matahari dan hujan baik bagi orang benar maupun orang tidak benar, bagi orang baik maupun orang jahat.

Sebenarnya dalam bahasa Yunani dipakai kata ζιζάνια (zizania) – yang mungkin kurang tepat diterjemahkan sebagai “lalang” sebab kurang nampak maksud dari perumpamaan itu. Zizania, adalah gulma yang bentuknya sangat mirip dengan gandum, sehingga sangat sulit dibedakan dengan gandum. Demikian juga tidak gampang membedakan yang baik dengan yang jahat. Allah tahu bahwa gandum akan bertahan hidup meski ada gulma. Demikian juga orang-orang baik tetap dapat bertumbuh dalam jalan Tuhan meski orang-orang dengan maksud-maksud jahat menyerang mereka.

Ada beberapa poin yang dapat kita renungkan bersama dari perikope Injil hari ini. Pertama, Tuhan bukanlah sumber kejahatan. Tuhan itu amat baik. Tuhan selalu baik! Dalam perumpamaan Injil tadi, benih yang ditaburkan oleh pemilik ladang gandum adalah “baik”. “Musuh” (Iblis) adalah sumbernya. Dan iblis, terus menyebarkan kebohongan, tipu daya dan kebingungan di dunia. Ada kejahatan yang datang darinya, tetapi banyak juga yang dilakukan oleh para pengabdi kegelapan dan para pengikutnya. Marilah kita berhati-hati agar kita tidak menjadi salah satu dari mereka yang menyebarkan kejahatan di sekitar kita.

Kedua, Tuhan sungguh bersabar. Dia tidak menginginkan kematian orang berdosa tetapi pertobatan mereka. Mungkin kita bisa bilang: “Hidup ini sangat tidak adil!” Tetapi marilah kita ingat bahwa pikiran Allah berbeda dari pikiran manusia. Standar-Nya berbeda dari standar kita. “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku.” (Yes 55:8). Dia mencintai kita secara berbeda! Itulah sebabnya Tuhan, juga menginginkan kita mempunyai kesabaran dan yang sama. “Bersabarlah karena Tuhan bersabar denganmu!” Tuhan sabar karena Dia adalah kasih! Orang yang benar-benar mengasihi harus sabar, memahami kekurangan orang lain dan selalu bersedia memaafkan mereka yang melakukan kesalahan. Coba bayangkan kalau Tuhan tidak bersabar dengan Petrus yang menyangkal-Nya! Atau Ia tidak sabar dengan Saulus yang setelah bertobat menjadi Paulus! Atau Ia tidak sabar menantikan pertobatan Agustinus!

Ketiga, kita, manusia juga dapat membuat kejahatan beranak-pinak di dunia. Kejahatan, dapat datang dari hati setiap orang karena penyalahgunaan kebebasannya. Kebebasan itu tidak berarti bahwa kita dapat melakukan apa saja yang kita inginkan. Kita masih harus mempertimbangkan tindakan kita demi kebaikan orang lain dan diri kita sendiri, dengan memilah-milah tindakan dan keputusan yang kita buat setiap hari. Bahkan, martabat kita sebagai “anak Allah” tidak menghilangkan kemungkinan kita untuk melakukan kejahatan. Yang baik dan yang buruk masih bertarung dalam diri kita. Kabar baiknya, Tuhan senantiasa memberi kesempatan kepada kita. Ia yang “menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5: 45) memberikan kesempatan yang sama kepada setiap orang. Hidup ini adalah kesempatan! Harus jadi berkat, jangan jadi jahat! Jadi gandum dan bukan lalang!

Jadi, apakah saya ini gandum atau lalang? Apakah saya bertahan dalam cara hidup dalam dosa? Adakah kemauan untuk bertobat?

Tuhan jadikanlah hati kami seperti hati-Mu: sabar, mengampuni, penuh kasih. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *