Senin, 8 Juni 2026, Senin Pekan Biasa X
Bacaan: 1Raj 17:1-6; Mzm 121:1-2.3-4.5-6.7-8; Mat 5:1-12.
“Berbahagialah......” (Mat 5: 1 – 12)
Musa menerima Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai dan menyampaikannya kepada bangsa Israel. Dalam Injil hari ini, Yesus, Musa yang baru, naik ke atas “gunung”, mengumumkan perintah-perintah baru. Namun, tidak seperti Musa, Yesus naik ke atas bukit, dikelilingi oleh para murid-Nya dan orang-orang yang mendengarkan-Nya.
Hukum baru itu bukanlah serangkaian aturan dan kewajiban baru, melainkan “rumus” kebahagiaan: Yesus menyatakan siapa yang berbahagia dan diberkati di mata Allah. Tampak aneh jika menyebut mereka yang berduka, yang lapar, serta yang menderita dan dianiaya sebagai orang-orang yang berbahagia.
Mari kita perhatikan: Yesus tidak memerintahkan kita untuk menerima saja meskipun kita miskin. Dia tidak menyuruh kita untuk pasrah saja meskipun kita menderita atau bahkan ketika kita tidak memiliki sesuap nasi pun. Ingat – Yesus yang sama adalah Yesus yang memberi makan orang banyak, karena Ia tergerak oleh belas kasih kepada mereka dan tidak ingin mengusir mereka (bdk. Mat. 15:32). Ia juga menyembuhkan segala macam penyakit dan kelemahan, baik jasmani maupun rohani. Oleh karena itu, Yesus tidak menyuruh kita untuk puas dengan nasib kita dan apa yang harus kita lakukan adalah menerima rasa sakit dan penderitaan hidup dan yang penting, berbahagia.
Di atas bukit itu, Yesus sedang berbicara tentang diri-Nya sendiri. Ia menawarkan potret diri-Nya kepada kita dan memberitahu pendengarnya bahwa Ia bahagia karena Ia adalah Anak Tunggal yang dikasihi Bapa. Namun, dengan mengambil bagian dalam kondisi manusiawi kita, Ia menanggung semua penderitaan, kebencian, dan penganiayaan yang menimpa manusia. Ia ingin berbagi kebahagiaan-Nya dengan kita, sahabat-sahabat-Nya, saudara dan saudari-Nya, dengan mengundang kita untuk turut serta menjadi anak Allah. Allah tidak pernah mengecewakan kita; Ia memandang kita dengan cinta, memberkati kita, dan menyambut kita sebagai anak-anak-Nya.
Selain itu, Sabda Bahagia menuntut sikap belas kasih dengan membersihkan hati kita. Sabda Bahagia juga menuntut kita bekerja untuk perdamaian dan berjuang untuk keadilan, meskipun kita dianiaya karenanya. Artinya, untuk berbahagia, kita harus secara aktif berpartisipasi dalam pembangunan dunia baru yang telah didirikan oleh Yesus.
Ketika kita terhindar dari penderitaan akibat kemiskinan, perang, dan kekerasan, kita sungguh terberkati di bumi ini. Namun, Yesus memanggil kita untuk bertindak, bukan untuk mengabaikan tetapi untuk menjangkau mereka yang mengalami kesengsaraan. Melalui empati dan tindakan kita, kita dapat menjadi pembawa damai dan menjadi orang-orang yang diberkati Tuhan.
Tuhan, kami menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan kami menjadi penuh hanya ada di dalam Engkau. Tolonglah kami untuk menghayati Sabda Bahagia ini agar dapat menemukan kebahagiaan yang kekal. Amin.

