Sabtu, 6 Juni 2026, Sabtu Pekan Biasa IX
Bacaan: 2Tim 4:1-8; Mzm 71:8-9.14-15ab.16-17.22; Mrk 12:38-44.
“Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.….. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (Mrk 12: 42 – 44)”
Mungkinkah kita memberikan segalanya yang kita miliki? Saya takut mengatakannya karena saya tidak yakin seberapa banyak yang bisa saya relakan! Janda dalam Injil hari ini “memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya,” kata Yesus kepada kita. Hal itu membutuhkan keberanian yang besar dan kepercayaan penuh pada pemeliharaan ilahi.
Namun, orang-orang seperti itu tidaklah langka! Kisah-kisah tentang orang-orang seperti itu di masa lalu dapat ditemukan di sekitar kita, menceritakan perbuatan amal mereka yang luar biasa. Sebenarnya kita tidak perlu jauh-jauh menelusuri buku-buku sejarah. Kita dapat menjumpai perbuatan amal yang murah hati di sekitar kita. Kita dapat saksikan mereka yang peduli pada sesama, memberi tanpa batas, dan mencintai tanpa syarat.
Selain itu, Yesus mengingatkan kita bahwa perbuatan amal ini harus dilakukan dalam “keheningan”. Tanpa hingar bingar publikasi, tanpa mempostingnya di media sosial, dan tanpa tangan kiri tahu apa yang dilakukan tangan kanan. Amal bukanlah kesempatan untuk berfoto – ini adalah prinsip esensial yang harus dipelajari oleh generasi saat ini karena Tuhan sudah tahu apa yang kita lakukan dan tidak kita lakukan.
Kebahagiaan tidak terletak pada menerima, melainkan pada memberi, walau mungkin tidak mudah untuk kita. Ada sebuah kisah terkenal berjudul “The Little Grain of Gold” karya Rabindranath Tagore. Kisah itu bertutur tentang seorang pengemis yang suatu hari bertemu dengan raja. Kisah itu berbunyi sebagai berikut:
“Aku sedang meminta-minta, dari pintu ke pintu, di jalan menuju desa, ketika kereta emas-Mu muncul di kejauhan, seperti mimpi yang megah. Dan aku bertanya-tanya, siapa Raja di atas segala raja itu! Harapanku melambung ke langit, dan aku berpikir hari-hari burukku telah berakhir. Dan aku menanti sedekah yang tak terduga, harta yang tumpah dari debu. Kereta itu berhenti di sisiku. Kau menatapku dan turun dengan senyum. Aku merasa kebahagiaan hidup telah berakhir. Dan tiba-tiba kau mengulurkan tangan kananmu kepadaku sambil berkata: “Bisakah kau memberiku sesuatu?” Ah, betapa lucunya kebesaranmu! Meminta kepada seorang pengemis! Dan aku bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Lalu aku perlahan mengambil sebutir gandum dari kantongku dan memberikannya padamu. Namun betapa terkejutnya aku ketika aku mengosongkan kantongku di tanah pada sore hari, aku menemukan sebutir emas di tengah tumpukan yang menyedihkan itu.”
Yesus memberikan segala yang dimilikinya dan segala yang ada padanya – seluruh diri-Nya, untuk membawa kehidupan dan kebahagiaan bagi orang lain. Seperti Dia, marilah kita tidak menghitung-hitung pemberian kita.
Ya Tuhan, ajarilah aku untuk menjadi murah hati,
untuk melayani-Mu sebagaimana layaknya,
untuk memberi tanpa menghitung-hitung,
untuk berjuang tanpa mempedulikan luka,
untuk bekerja keras tanpa mencari istirahat,
untuk berjerih payah tanpa mengharapkan imbalan apa pun,
kecuali kepuasan mengetahui bahwa aku melakukan kehendak-Mu yang suci.
(St. Ignatius Loyola).

