Sabda Hidup
Kamis, 13 Agustus 2026, Kamis Pekan Biasa XIX
Bacaan: Yeh. 12:1-12; Mzm. 78:56-57,58-59,61-62; Mat. 18:21-19:1.
“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali,” (Mat 18: 21 – 22)
Ada dua perumpamaan Yesus yang berfokus pada pengampunan, namun dengan dua cara yang berbeda: Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Injil Lukas dan perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni dalam Injil Matius yang merupakan bacaan hari ini. Pengampunan adalah keutamaan yang memberi berkat baik kepada pemberi pengampunan maupun penerimanya. Si pemberi terbebas dari beban dendam, sedangkan si penerima terbebas dari beban rasa bersalah. Perumpamaan ini merupakan kelanjutan dari doa yang diajarkan Yesus kepada para murid-Nya, yakni Doa Bapa Kami. Perumpamaan ini juga dipandang sebagai ilustrasi bagi bagian kedua doa tersebut yang berbicara tentang pengampunan.
Bagi Petrus, yang dibesarkan dalam tradisi yang mengajarkan bahwa ia hanya boleh membalas “mata ganti mata” dan tidak lebih dari itu, usulnya untuk mengampuni hingga tujuh kali tentu jauh melampaui standar yang diharapkan dari seorang Yahudi. Mungkin ia berpikir bahwa angka tujuh memberikan kesempurnaan ilahi pada usulnya yang sangat murah hati itu, terutama mengingat ajaran-ajaran berulang dari Gurunya mengenai pengampunan.
Namun, ia masih harus menempuh jalan yang panjang, sebagaimana ditunjukkan oleh koreksi Sang Guru dalam hal ini: “tujuh puluh kali tujuh kali”, yaitu, pengampunan yang ditetapkan Sang Guru sebagai tolok ukur bagi para murid-Nya, pengampunan yang melampaui angka-angka dan tentu saja melampaui perhitungan. Inilah pengampunan yang diterima anak yang hilang dari ayahnya. Perhitungan sang anak hanya membawanya sejauh kemungkinan mendapatkan pekerjaan di rumah ayahnya, tetapi pengampunan sang ayah yang tanpa syarat dan tanpa pamrih pasti telah sangat mengejutkan sang anak itu.
Pengampunan yang diberikan dan diterima dalam perumpamaan hari ini membawa kita selangkah lebih jauh. Perumpamaan tentang anak yang hilang mengajarkan kita pelajaran tentang belas kasih Bapa yang terlihat dalam pengampunan-Nya, sedangkan perumpamaan hari ini memberi kita pelajaran tentang kewajiban mereka yang pernah mengalami pengampunan-Nya melalui orang lain. Pengampunan ilahi yang kita terima harus diteruskan kepada orang lain melalui kita.
Di dunia kita saat ini yang terpecah belah oleh perselisihan dan dendam yang terus meningkat dan tak henti-hentinya berujung pada kehancuran harta benda maupun nyawa manusia, penghapusan tanpa syarat atas semua “hutang” yang tak terbayar dan pengampunan tanpa batas adalah penawar yang melaluinya penyembuhan dan perdamaian pada akhirnya akan datang ke dunia. Saat sebagian wilayah dunia berada dalam cengkeraman kekerasan, yang tak jarang dilancarkan atas nama Tuhan, dan orang-orang di sana mengalami penderitaan yang tak terkira, kita berdoa memohon karunia pengampunan dan semangat pengertian, agar setiap anak Tuhan yang berada dalam berbagai bentuk pengasingan – seperti ditunjukkan oleh Yehezkiel dalam bacaan pertama, dapat hidup dalam damai dan menikmati hidupnya di bumi kita ini.
Ya Hati Kudus Yesus yang Mahapengampun, jadikan hati kami seperti hati-Mu. Amin.

