rekonsiliasi

Koreksi Persaudaraan

Sabda Hidup
Rabu, 12 Agustus 2026, Rabu Pekan Biasa XIX
Bacaan: Yeh. 9:1-7; 10:18-22Mzm. 113:1-2.3-4.5-6Mat. 18:15-20.

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” (Mat 18: 15 – 17)

Penginjil Matius memaparkan prinsip-prinsip panduan Yesus bagi komunitas-komunitas Kristen. Seluruh bab 18 menggambarkan nilai-nilai dan praktik-praktik mendasar yang membedakan komunitas murid-murid-Nya dari komunitas lainnya: solidaritas satu sama lain sebagai “anak-anak” (Matius 18:1-5), menghindari tindakan yang menyebabkan orang lain “tersandung” (18:6-9), memperhatikan mereka yang paling rentan (18:6, 10, 14), memulihkan mereka yang telah sesat (18:12-14, 15-17), dan pengampunan tanpa batas (18:21-35).

Dalam terang visi dan praktik-praktik ini, komunitas tersebut mewakili gambaran surga di bumi (18:18-19) dan Yesus sendiri hadir di tengah-tengah mereka (18:20). Tidaklah mudah untuk mengoreksi saudara atau saudari yang melakukan kesalahan, dan kita cenderung memandang praktik itu sebagai hal yang kontraproduktif dan ketinggalan jaman di tengah gaya hidup relativistik dan individualistik ini.

Dalam Mat 18:15-17, kita melihat contoh konkret dari pendekatan yang hati-hati, teratur, dan yang terpenting, gigih dalam menangani konflik antarpribadi. Ditekankan di sana peran dialog, yang merupakan cara lain untuk mengatakan bahwa konsensus harus selalu dicari. Diutamakan peran dialog persaudaraan yang tujuan utamanya adalah memenangkan hati si pelanggar. Tidak ada ruang untuk memendam kekesalan, membalas dendam, atau menggosipkan masalah tersebut.

Seorang penulis rohani berkata: “Kita tidak boleh membiarkan pelanggaran itu menggerogoti hati kita dengan berdiam diri dalam kesedihan, juga tidak boleh menyebarkan masalah tersebut ke mana-mana. Kita harus mencari si pelanggar dan memberitahunya tentang kesalahannya seolah-olah ia tidak menyadarinya; karena mungkin saja ia memang tidak menyadarinya.”

Hal ini membutuhkan kesabaran besar dan penanganan yang penuh kelembutan. Mengandalkan usaha manusia semata mungkin tidak cukup untuk berhasil dalam upaya ini. Yesus menjanjikan bimbingan dan kehadiran-Nya kepada kita sepanjang masa.

Banyak keluarga dan hubungan yang hancur, perpisahan, kekecewaan, dan kepahitan yang ditemukan di dalam komunitas Kristen. Siapa yang tidak ingin hidup dalam keharmonisan dan menikmati berkat-berkat kehidupan yang damai?

Perbedaan antara komunitas rohani dan yang bukan bukanlah ada atau tidak adanya konflik, melainkan pada sikap dalam menanganinya. Kita membangun komunitas rohani ketika kita memanfaatkan konflik sebagai kesempatan untuk sepenuhnya menggali sumber daya rohani kita. Dan jangan lupa, berbicara dari hati ke hati itu penting, namun pertama-tama yang mengubah hati orang adalah rahmat Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat mengubah orang. Hanya rahmat Tuhan yang membuat hati bertobat, bukan kita. Itulah sebabnya, doa adalah sangat penting, bagian paling vital dalam koreksi persaudaraan.

Tuhan, saat memberikan koreksi terhadap sesama, berilah aku kasih. Ketika menerima koreksi, berilah aku kerendahan hati. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *