Jumat, 19 Juni 2026, Jumat Pekan Biasa XI
Bacaan: 2Raj 11:1-4.9-18.20; Mzm 132:11.12.13-14.17-18; Mat 6:19-23.
“Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada,” (Mat 6: 19 – 21)
Menurut Kitab Suci, “hati” bukanlah sekadar organ fisik atau pusat emosi, melainkan pusat kehidupan terdalam manusia. Hati adalah tempat kediaman pikiran, kehendak, dan karakter, yang menjadi sumber dari segala tindakan, perkataan, dan respons seseorang terhadap Tuhan maupun sesama. Maka jika dikatakan, di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada, itu berarti seluruh diri kita terpusat pada harta itu. Jadi, di manakah hati Anda? Jawaban dari pertanyaan tersebut telah dijawab dalam kutipan Injil hari ini. Hati anda ada di mana pun harta anda berada. Maka, hal ini menimbulkan pertanyaan lainnya: “Apakah harta Anda?”
Injil menunjukkan kepada kita bahayanya menjadi terlalu terikat pada kekayaan materi. Tetapi hal yang sama berlaku tidak hanya untuk kekayaan materi, tetapi untuk apa saja dalam hidup kita yang dapat membuat kita cenderung melekat. Apa yang membuat Anda melekat? Apakah harta Anda?
Idealnya, hati kita hanya melekat pada apa yang Tuhan inginkan. Jika demikian, maka hal-hal yang kita kasihi adalah harta yang Tuhan kehendaki agar kita kasihi. Dan dengan mengasihi hal-hal tersebut, kita mengasihi Allah yang memberikannya serta memanggil kita untuk mengasihinya.
Harta kita seharusnya mencakup keluarga kita dan orang-orang lain yang dipercayakan untuk kita kasihi dan rawat dengan penuh kasih. Harta kita juga seharusnya berupa hidup doa dan ibadah kita. Itulah cara yang paling langsung untuk mengasihi Allah di dunia ini. Harta kita juga dapat berupa karya pelayanan penuh kasih dan perngorbanan, atau apa pun yang sesuai dengan kehendak Allah.
Apakah Anda mengasihi hal-hal tersebut? Apakah hal-hal itu adalah harta Anda? Masalahnya, terlalu sering kita cenderung mengasihi lebih dari apa yang dikehendaki Allah untuk kita kasihi. Kita menjadi sangat terikat pada keinginan untuk menjadi kaya dan memiliki banyak hal. Tetapi “cinta” kita yang tidak sehat dapat meluas bahkan melampaui kekayaan dan hal-hal materi.
Renungkanlah, hari ini, hal-hal yang mungkin telah Anda jadikan sebagai “harta” dalam hidup Anda. Apa yang membuat Anda terlalu terikat pada dunia yang fana ini? Apakah uang? Ketenaran? Popularitas? Kuasa? Ataukah sesuatu yang lain? Biarkan Tuhan membebaskan Anda. Itu adalah langkah pertama menuju kehidupan dengan kekayaan yang terbesar! Sebab barangsiapa memiliki Allah, ia memiliki segalanya.
Tuhan, tolonglah aku untuk menjaga hatiku agar tetap tertuju pada-Mu. Tolonglah aku untuk menghargai Engkau dan kehendak-Mu sebagai harta yang paling berharga. Amin.

