Kamis, 30 April 2026, Kamis Pekan Paskah IV
Bacaan: Kis. 13:13-25; Mzm. 89:2-3,21-22,25,27; Yoh. 13:16-20.
“Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah genap nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya, bahwa Akulah Dia.” (Yoh 13: 18 – 19)
Kita masih dalam masa sukacita atas Kebangkitan Kristus, namun Injil hari ini membawa kita kembali ke Ruang Atas – ke momen ketika Yesus membasuh kaki para murid-Nya. Ini menjadi pengingat yang kuat bagi kita bahwa jalan menuju Kebangkitan selalu melalui Salib, dan melalui kasih yang memberi diri.
Yesus, yang sepenuhnya sadar akan pengkhianatan yang menanti-Nya, berlutut di hadapan para murid-Nya dengan kerendahan hati. Dia bahkan membasuh kaki Yudas dan berbagi roti dengannya – sebuah tanda persahabatan yang mendalam. Namun, Yesus tidak membela diri-Nya dari rasa sakit hati. Sebaliknya, Dia menghadapi pengkhianatan bukan dengan kemarahan atau dengan mengambil jarak, tetapi dengan kasih. Dengan demikian, Dia menyatakan hati Allah: penuh belas kasih, sabar dan mengampuni.
Ini bukanlah kasih yang mudah. Dengan itu Yesus menunjukkan dengan nyata perintah-Nya: “Kasihilah seorang akan yang lain seperti Aku telah mengasihi kamu.” Ini adalah kasih yang memberikan diri sepenuhnya, bahkan kepada mereka yang tidak layak untuk dikasihi. Kasih ini memanggil kita untuk mengampuni, melayani, dan tetap setia bahkan ketika orang lain mengecewakan kita.
Masa Paskah bukan hanya sebuah perayaan kemenangan atas kematian, tetapi juga sebuah tantangan untuk hidup sebagai umat Paskah. Dalam terang Kristus yang telah bangkit, kita dipanggil untuk memikul salib kita dengan penuh pengharapan, mengampuni dengan penuh keberanian, dan mengasihi dengan penuh kerendahan hati.
Hari ini, marilah kita renungkan: ketika kita disakiti atau dikhianati, apakah kita memilih untuk membalas atau mengasihi? Dapatkah kita, seperti Yesus, membasuh kaki orang-orang yang mengecewakan kita?
Saat kita berjalan dalam sukacita Kebangkitan, kiranya kita mengikuti teladan Tuhan kita yang telah Bangkit, yang mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan sejati datang melalui kasih yang rendah hati.
Tuhan, mampukan kami mengasihi seperti Engkau. Amin.

