lalang dan gandum

Kesabaran Allah

Sabda Hidup
Selasa 28 Juli 2026, Selasa Pekan Biasa XVII
Bacaan: Yer. 14:17-22Mzm 79:8,9,11,13Mat. 13:36-43.

"Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.” [Mat 13: 37 – 42] 

Di sebuah stasi yang sering kali saya layani, ada seorang umat yang sering mengajukan pertanyaan seputar iman. Suatu hari, ia bertanya kepada saya: “Pastor, mengapa Tuhan tidak mempermudah segala sesuatu bagi kita? Tidak bisakah Dia mewujudkan damai saja di bumi ini dengan mempertahankan orang-orang baik agar tetap hidup dan menyingkirkan semua orang yang jahat?” Saya menjawab dengan sebuah pertanyaan juga: “Jika Anda adalah ibu dari sepuluh anak, lima di antaranya berperilaku baik, dan lima lainnya membuat Anda pusing kepala, apakah Anda akan menyingkirkan anak-anak yang nakal itu?” Tanpa ragu, ia menjawab: “Tentu saja tidak!”

Dalam perumpamaan tentang lalang (gulma) di antara gandum, Yesus menunjukkan Kerajaan Allah kepada kita sebagai suatu realitas yang terus bertumbuh, namun bukan tanpa ancaman dan rintangan. Setiap hari kita mendengar atau menyaksikan berita buruk dan situasi yang menakutkan. Di dalam komunitas kecil dan keluarga kita, kita juga menemukan “gulma” yang tumbuh di antara gandum. Ketika kita memeriksa diri kita sendiri, ternyata kita juga menemukan sisi terang dan gelap. Kita harus menghadapi kelemahan kita dan menyelesaikan konflik-konflik dalam diri kita. Pemazmur mengingatkan kita akan kasih Allah yang penuh belas kasih dan harapan akan keselamatan kita: “Jika Engkau menghitung-hitung kesalahan, ya Tuhan, siapakah dapat bertahan? Tetapi syukurlah Engkau suka mengampuni, sehingga orang mengabdi kepadaMu dengan takwa.” (Mazmur 130:3-4)

Tuhan menunjukkan kepada kita kesabaran dan kebaikan yang tak tertandingi, serta kesempatan tak berujung untuk menumbuhkan dan mengembangkan kebaikan di dalam diri kita. Kita harus memutuskan apakah akan membiarkan benih-benih baik itu tumbuh ataukah membiarkan lalang liar atau gulma memadamkan cahaya kebaikan di dalam hati kita. Dalam perumpamaan itu, Yesus juga berbicara tentang saat panen, perhitungan, penghakiman, serta kewajiban kita untuk mempertanggungjawabkan hidup kita kepada Pencipta kehidupan.

Ketika saat itu tiba, semoga kita mendapati diri kita tersenyum dan bernyanyi karena benih-benih kebaikan Kerajaan yang ditaburkan di dalam diri kita telah secara definitif menang atas gulma kesombongan dan keegoisan kita.

Tuhan beri kami rahmat kesabaran dan ketekunan untuk menumbuhkan dan mengembangkan yang baik dan tidak membiarkan dosa berkembang dalam diri kami. Seraya kami mengusahakan yang baik dalam diri kami, ajar kami untuk tidak terlalu cepat mengadili sesama. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *