Jumat, 15 Mei 2026, Jumat Pekan Paskah VI
Bacaan: Kis. 18:9-18; Mzm. 47:2-3,4-5,6-7; Yoh. 16:20-23a.
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku,” [Yoh 16: 23]
Perikope Bacaan Injil hari ini sangat menghibur untuk direnungkan. Nampak di sini, Yesus sedang mempersiapkan para murid-Nya untuk menghadapi masa-masa sulit yang akan datang dalam hidup dan pelayanan mereka. Persiapan ini sangat diperlukan agar mereka dapat tetap teguh di tengah masa-masa penganiayaan.
Yesus tidak hanya memberikan kata-kata penghiburan dan janji-janji kosong. Tidak seperti yang sering dilakukan oleh para politisi zaman sekarang. Sepanjang waktu pemilihan umum, kita mendengar banjir janji dan jaminan dari para politisi. Begitu mereka berkuasa, mereka dengan mudah melupakan semua jaminan dan janji itu hingga pemilu berikutnya. Mereka tahu bahwa ingatan kolektif masyarakat sangat lemah, sehingga mudah untuk memanipulasinya. Yesus bukanlah politisi murahan. Jika Ia berkata sesuatu, Ia sungguh-sungguh mengatakannya. Jaminan-Nya abadi. Janji-Nya takkan pernah berubah.
Bersama dengan jaminan-Nya, Yesus menjanjikan perantaraan-Nya di hadapan Bapa. Yesus tahu betul bahwa para murid akan jatuh di tengah jalan jika mereka hanya mengandalkan kemampuan mereka sendiri. Untuk ketekunan dalam iman, kita, para murid membutuhkan perantaraan yang kuat dari Yesus di hadapan Bapa. Itulah mengapa Ia menginstruksikan para murid untuk berdoa dalam nama-Nya agar mereka menerima dengan melimpah. Namun, kita harus ingat bahwa berdoa dalam nama Yesus bukanlah rumus ajaib, mantra, atau sekadar ritual.
Hal lain yang perlu kita perhatikan di sini adalah bahwa kita harus berdoa sesuai dengan kebutuhan Kerajaan Allah. Permohonan kita dalam doa bukan hanya untuk kesejahteraan dan pertumbuhan materi kita. Prioritas bagi Kerajaan Allah harus ada dalam doa-doa kita. Bapa di surga tidak boleh dipandang sebagai Sinterklas yang memenuhi keinginan dan kebutuhan kita. Saat berdoa, kita tidak boleh meminta sesuai dengan keinginan dan kehendak kita sendiri. Kita harus membiarkan Roh yang tinggal di dalam diri kita yang berdoa, sehingga kita dapat berdoa sesuai dengan kehendak Bapa. St. Paulus berkata kepada kita: “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus,” [Rom 8: 26 – 27].
Kita memiliki jaminan dari Yesus bahwa jika kita memohon sesuatu kepada Bapa dalam nama-Nya, Ia akan mengabulkannya. Seandainya kita memiliki iman yang cukup, kita tidak akan pernah ragu atau cemas.
Ya Bapa, tolonglah kami agar dapat memandang segala sesuatu sebagaimana Engkau memandangnya. Berikanlah kami rahmat untuk bertekun dan bertumbuh, sekalipun hidup ini penuh tantangan. Mungkin Engkau tidak memberikan tepat seperti apa yang kami minta, tetapi kami tahu Engkau tidak akan pernah gagal memberikan apa yang kami butuhkan. Amin.

