perempuan pendarahan

Jamahan Kehidupan

Sabda Hidup
Senin, 6 Juli 2026, Senin Pekan Biasa XIV
Bacaan: Hos. 2:13,14b-15,18-19Mzm. 145:2-3,4-5,6-7,8-9Mat. 9:18-26.

"Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau." [Mat 9: 22]

Kisah Injil hari ini menceritakan Yesus yang menyembuhkan dua orang perempuan. Kisah mereka berbeda satu dengan yang lainnya, tetapi menemukan titik temu di hadapan kuasa penyembuhan Sang Guru. Yang pertama adalah kematian seorang perempuan muda di puncak usianya. Sedangkan perempuan yang lainnya hidup terasing karena dianggap najis akibat pendarahan yang tak kunjung sembuh. Satu-satunya kesamaan di antara mereka adalah kebutuhan untuk diselamatkan oleh seseorang yang memiliki kuasa untuk menyelamatkan nyawa mereka.

Dalam kasus perempuan muda itu, ayahnyalah yang mengambil langkah berani untuk mendekati Yesus dan memohon campur tangan-Nya. Namun, perempuan yang lebih tua itu mengambil inisiatif sendiri untuk “mencuri” mukjizat dari Yesus, melanggar sesuatu yang sangat suci bagi orang Yahudi. Meraba ujung jubah-Nya saja sudah dianggap penistaan, apalagi yang menjamah tersebut ada dalam keadaan najis akibat pendarahan.

Kisah kedua perempuan itu dapat menjadi kisah kita sendiri. Yesuslah yang membiarkan diri-Nya dijangkau oleh keduanya. Ia tidak menyingkirkan mereka ataupun mempersulit mereka. Tidak ada pertanyaan yang Ia ajukan tentang mereka. Tidak ada harga atau syarat yang melekat pada campur tangan-Nya yang segera itu. Ia tidak memandang penampilan seseorang atau kelas sosial maupun keagamaannya. Penderitaan orang-orang menggerakkan hati-Nya, dan Ia bereaksi terhadap penyakit dan kematian.

Ia tidak mencari pengakuan atas tanda-tanda yang Ia lakukan. Ia tidak mengklaim, “Akulah yang menyembuhkanmu atau menghidupkanmu kembali.” Ia hanya berucap, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” dan menggenggam tangan gadis yang telah meninggal itu. Ia mengedepankan nilai iman yang mampu melakukan hal yang mustahil.

Yesus selalu tergerak oleh mereka yang terpinggirkan oleh masyarakat, para penderita kusta, dan mereka yang ditinggalkan. Ia merengkuh mereka. Bagaimana dengan kita? Lebih sering kita menjaga jarak dari situasi dan orang-orang yang mungkin memengaruhi hidup kita. Tak ada cara yang lebih baik untuk berbagi hidup selain dengan menjangkau mereka yang membutuhkan, entah itu dengan senyuman, sapaan, pelukan, atau kata-kata penyemangat.

Janganlah sampai cinta diri dan sikap acuh tak acuh menghalangi kita untuk bersentuhan dengan realitas di sekitar kita atau mengenal orang lain, apalagi dengan mereka yang sangat berkebutuhan. Seperti yang Yesus lakukan dalam Injil ini, marilah kita berbagi kehidupan dengan orang lain. Di sekitar anda ada saudara-saudari kita yang sedang berkesusahan, menderita, sakit, berbeban berat? Biarlah anda menjadi tangan-tangan Tuhan yang menjamah mereka, menyembuhkan, meneguhkan, menguatkan. Dengan menjangkau orang-orang yang membutuhkan, kita pun akan menerima kehidupan, seperti perempuan yang sakit itu, karena rahmat ditemukan di antara orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan.

Tuhan, tumbuhkanlah dalam diri kami belas kasih seperti yang Engkau miliki. Ajar kami berbagi hidup seperti Engkau. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *