Senin, 27 April 2026, Senin Pekan Paskah IV
Bacaan: Kis. 11:1-18; Mzm. 42:2-3; 43:3,4; Yoh. 10:11-18.
“Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.” [Yoh 10: 14 – 15].
Karya seni Kristen paling awal dapat ditemukan di Katakombe Roma. Salah satu gambaran Yesus yang terdapat di katakombe tersebut adalah gambaran Gembala yang Baik. Yesus digambarkan sebagai seorang pemuda berjanggut tipis dengan seekor domba yang dipanggul di bahunya.
Jelaslah bahwa gambaran Yesus sebagai Gembala yang Baik yang kita temukan dalam bacaan Injil hari ini telah menyentuh hati umat Kristen sejak masa-masa awal Gereja. Mungkin salah satu alasan mengapa gambaran ini menarik bagi umat Kristen sejak awal adalah karena gambaran itu menyampaikan sesuatu tentang hubungan antara Yesus dan para pengikut-Nya yang bersifat personal. Gambaran Gembala Baik dari Katakombe itu menyampaikan rasa hubungan pribadi yang erat yang dimiliki gembala dengan masing-masing domba.
Gembala itu pergi mencari seekor domba yang tersesat dan, setelah menemukannya, ia memanggul domba itu di pundaknya dan membawanya kembali ke kawanan. Ada ikatan pribadi antara gembala dan domba itu. Itulah yang Yesus sampaikan dalam bacaan Injil hari ini. Ia menyatakan bahwa Ia mengenal domba-domba-Nya dan domba-domba-Nya mengenal-Nya, sama seperti Bapa mengenal-Nya dan Ia mengenal Bapa.
Yesus mengatakan bahwa hubungan yang Ia miliki dengan masing-masing dari kita sama intimnya dengan hubungan yang Ia miliki dengan Bapa-Nya di surga. Ketika berbicara tentang Tuhan, kita ini bukan sekadar salah satu dari kerumunan, tersesat di lautan wajah. Tuhan berhubungan dengan kita secara pribadi dan Ia mengundang kita untuk berhubungan dengan-Nya secara pribadi.
Saya sering terkesan oleh sebuah kalimat dalam surat Santo Paulus kepada jemaat di Galatia, “Aku hidup oleh iman kepada Anak Allah yang mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untukku.” Kita masing-masing dapat menjadikan kata-kata Santo Paulus itu sebagai milik kita sendiri. Ketika Yesus berkata dalam bacaan Injil hari ini bahwa, sebagai gembala yang baik, “Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku,” itu berarti bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi masing-masing dari kita secara pribadi.
Bagaimanakah anda mengalami kasih Yesus yang begitu besar itu secara pribadi? Bagaimana hubungan pribadi anda dengan-Nya? Apakah Ia sungguh menjadi gembala anda? Atau ada hal-hal lain telah “mencuri” anda dari-Nya?
Tuhan, Gembala yang Baik, jangan biarkan kami tersesat tetapi semoga kami tetap setia mengikuti Engkau. Amin.

