Jumat, 13 Maret 2026, Jumat Pekan Prapaskah III
Bacaan: Hos. 14:2-10; Mzm. 81:6c-8a,8bc-9,10-11ab,14.17; Mrk. 12:28b-34.
“Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” [Mrk 12: 29 – 31]
“Hukum manakah yang paling utama?” tanya seorang Ahli Taurat kepada Yesus. Para ahli Taurat telah mempunyai 613 perintah (mitsvot, bentuk jamak dari mitsvah yang berarti perintah) yang merupakan penjabaran dari Hukum Taurat. Jadi ahli Taurat itu bertanya: Dari 613 perintah ini, manakah yang paling utama?
Yesus mengutip pengakuan iman bangsa Israel, yang terdapat dalam Kitab Ulangan, Bab 6. Kita sudah sangat akrab dengan ayat ini: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Kemudian Ia menambahkan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Perintah untuk mengasihi dianggap sebagai rangkuman dari seluruh etika Kristen, tetapi sering kali diabaikan bagaimana Tuhan menyampaikan perintah ini. Awalan yang digunakan dalam menyampaikan perintah ini juga sangat penting: “Dengarlah, hai orang Israel!”
“Shema Israel!” atau “Dengarlah, hai Israel!” Yesus mengidentifikasikan perintah pertama Tuhan sebagai “Dengarlah, hai Israel” – yaitu, “Dengarlah, hai umat pilihan Allah”. Kita adalah umat pilihan Tuhan, dan kita harus mendengarkan Firman Tuhan dan mengizinkan Firman Tuhan mengubah kita. “Dengarlah, hai Israel, Adonai adalah Allah kita yang esa… jika kamu mendengarkan Dia, kamu akan berpegang pada Firman-Nya.”
Kasih kita kepada Tuhan dan kasih kita kepada sesama berasal dari ketaatan kita kepada Firman Tuhan. Kasih kepada Allah tidak mungkin ada tanpa kasih kepada sesama kita. Bagaimana kita dapat hidup sesuai dengan perintah-perintah Yesus? Pertama, dengarkanlah Dia! Untuk mendengarkan suara Tuhan, kita harus memutuskan untuk berjalan bersama-Nya dalam perjalanan dari Galilea ke Yerusalem.
Seperti yang ditanyakan oleh Yohanes dalam Suratnya, “Bagaimana mungkin aku dapat mengatakan, bahwa aku mengasihi Allah yang tidak kulihat dan tidak mengasihi sesamaku manusia yang kulihat?” (1 Yoh 4: 20). Seorang Kristen adalah orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan juga siap sedia untuk mengasihi saudara-saudaranya.
Tuhan, tolonglah aku untuk selalu mengingat perintah kasih-Mu dan menghidupinya dengan segenap kekuatanku. Semoga imanku tidak hanya sebatas pengetahuan intelektual tentang perintah-perintah-Mu saja; namun menghidupinya hingga menghasilkan buah-buah kekudusan yang sejati. Amin.

