Jumat, 29 Mei 2026, Jumat Pekan Biasa VIII
Bacaan: 1Ptr 4:7-13; Mzm 96:10.11-12.13; Mrk 11:11-26.
"Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya… Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya: "Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!" [ Mrk 11: 15. 17]
Markus menyajikan dua kisah untuk menggambarkan kekeringan dan kemandulan dalam kehidupan beragama bangsa Israel; tanda-tanda ini menunjukkan ketidaksetiaan umat terpilih terhadap Allah mereka. Yang pertama adalah pohon ara yang tidak berbuah ketika Yesus “merasa lapar”, dan yang kedua adalah penyucian Bait Suci. Kedua tanda tersebut menyoroti kurangnya iman di kalangan umat terpilih.
Para Nabi Perjanjian Lama telah mengecam ibadah yang “kosong” dan tandus ini: “Bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku,” (Yes 29: 13, Mat 15: 8). Pohon ara dengan daun yang lebat melambangkan agama Yahudi. Tampaknya begitu hidup dan sehat, tetapi tidak berbuah! Markus berusaha menggambarkan keadaan agama pada masa itu – tampak penuh kehidupan dan makmur, seperti pohon ara yang hijau, tetapi ketika dilihat lebih dekat ternyata ia mandul! Kutukan Yesus terhadap pohon ara itu mengungkapkan kekeringan dan kemandulan yang radikal dari umat terpilih ini.
Santo Yohanes berkata: “Barangsiapa berkata bahwa ia mengasihi Allah tetapi tidak menaati perintah-Nya, ia adalah pendusta” (bdk 1 Yoh 4: 19 – 21). Santo Matius mengingatkan kita: “Dari perbuatan mereka kamu akan mengenal mereka; pohon yang baik tidak menghasilkan buah yang buruk.” Agama tidak berguna jika hanya berisi doa, devosi, ibadah, dan pewartaan, tetapi tidak berkontribusi dalam menyelesaikan masalah orang miskin dan terpinggirkan.
Tidak cukup juga hanya memberi roti kepada yang lapar, minuman kepada yang haus, dan pakaian kepada yang telanjang, tetapi juga harus memperhatikan martabat mereka. Tindakan Yesus di Bait Suci nampak provokatif. Namun dengan itu Ia menantang para imam tepat di pusat kekuasaan mereka. Tindakan-Nya mungkin tidak ditujukan kepada para pedagang yang berjualan di situ, tetapi kepada praktek kekuasaan yang korup di Bait Suci.
Dengan memisahkan komentar Yesus tentang pohon ara dan menempatkannya sebelum dan sesudah pemurnian Bait Suci, Markus bermaksud agar pembacanya melihat nasib pohon ara sebagai pencerahan makna tindakan-Nya di Bait Suci.
Yesus juga berkata“Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut….. maka hal itu akan terjadi baginya.” Gunung yang dimaksud oleh Yesus adalah seluruh sistem keagamaan, sosial, dan budaya yang berpusat di Bait Suci. Sehari sebelumnya, Yesus secara simbolis telah menghentikan kegiatan Bait Suci. Kini Ia merujuk pada penggulingan seluruh sistem tersebut. Sistem itu telah dikutuk dan layu secara radikal hingga ke akarnya. Meski tampak megah di luar, sistem itu gagal menghasilkan buah, yaitu buah dari kasih yang sejati. Bagaimanakah hidup kita? Jika Ia datang, apakah Ia akan menemukan buah? Apakah kita telah menghasilkan buah-buah yang baik untuk kehidupan sesama kita?
Tuhan, semoga kami mampu menyembah Engkau dalam Roh dan Kebenaran. Jauhkan kami dari segala bentuk formalitas, agar kami dapat menyembah-Mu dengan seluruh hidup kami dan menghasilkan buah yang abadi. Amin.

