Sabda Hidup
Kamis, 2 Juli 2026, Kamis Pekan Biasa XIII
Bacaan: Am. 7:10-17; Mzm. 19:8,9,10,11; Mat. 9:1-8.
"Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." (Mat 9: 2)
Perikope Injil hari ini berkisah tentang Yesus yang menyembuhkan seorang lumpuh. Dibawalah kepada-Nya seorang yang lumpuh. Ketika Yesus melihat iman mereka yang membawa si lumpuh itu Ia berkata: “Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni.” Seperti biasanya, ahli-ahli Taurat terusik hati mereka, sebab hanya Allah dapat mengampuni dosa sehingga mereka berkata, “Ia menghujat Allah.”
Pendekatan Yesus terhadap orang lumpuh itu mungkin tampak mengejutkan. Ia memulai dengan mengatakan kepadanya bahwa dosanya telah diampuni. Ada dua alasan di balik hal itu. Di Israel, terdapat keyakinan umum bahwa segala penyakit adalah akibat dosa, dan bahwa tidak ada penyakit yang dapat disembuhkan sebelum dosanya diampuni.
Hal itu nampak misalnya dalam ajaran para Rabi abad-abad awal Masehi. Rabi Ammi berkata, “Tidak ada kematian tanpa dosa, dan tidak ada penderitaan tanpa pelanggaran.” Rabbi Alexander berkata, “Orang sakit tidak akan sembuh dari penyakitnya, sampai dosanya diampuni.” Rabbi Hiya bar Abba berkata, “Tidak ada orang sakit yang sembuh dari penyakitnya, sampai semua dosanya diampuni.”
Hubungan yang tak terpisahkan antara penderitaan dan dosa ini merupakan bagian dari keyakinan Yahudi ortodoks pada zaman Yesus. Karena alasan itulah, tidak ada keraguan sama sekali bahwa orang lumpuh itu tidak akan pernah bisa sembuh, sampai ia yakin bahwa dosanya telah diampuni. Sangat mungkin bahwa ia memang seorang pendosa, dan ia yakin bahwa penyakitnya adalah akibat dosanya, sebagaimana memang mungkin terjadi; dan tanpa jaminan pengampunan, kesembuhan tidak akan pernah datang kepadanya.
Faktanya, kedokteran modern pun sepenuhnya setuju bahwa pikiran dapat dan memang memengaruhi kondisi fisik tubuh, dan bahwa seseorang tidak akan pernah memiliki tubuh yang sehat jika pikirannya tidak dalam keadaan sehat. Orang lumpuh dalam kisah Injil ini tahu bahwa ia adalah seorang pendosa; karena ia adalah seorang pendosa, ia yakin bahwa Allah menghukumnya; karena ia merasa Allah memusuhinya, ia lumpuh dan sakit. Begitu Yesus memberinya pengampunan Allah, ia tahu bahwa Allah bukan lagi “musuh”-nya, melainkan sahabatnya, dan karenanya ia disembuhkan.
Namun, cara Yesus menyembuhkan orang itulah yang membuat para ahli Taurat terkejut. Yesus berani mengampuni dosa; mengampuni dosa adalah hak prerogatif Allah; oleh karena itu, menurut mereka, Yesus telah menghujat Allah. Yesus menantang mereka di bidang mereka sendiri. Ia menantang para ahli Taurat itu: Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?” Ingat bahwa para ahli Taurat ini percaya bahwa tidak ada seorang pun yang dapat bangun dan berjalan kecuali dosanya telah diampuni. Jika Yesus mampu membuat orang ini bangun dan berjalan, maka itu adalah bukti tak terbantahkan bahwa dosa-dosa orang itu telah diampuni, dan bahwa klaim Yesus itu benar. Jadi, Yesus menunjukkan bahwa Ia mampu memberikan pengampunan bagi jiwa seseorang dan kesembuhan bagi tubuhnya.
Dan tetaplah benar selamanya bahwa kita tidak akan pernah sehat secara fisik sebelum kita sehat secara rohani; bahwa kesehatan tubuh dan damai sejahtera dari Allah berjalan beriringan. Mari renungkan, apakah saya masih memelihara kemarahan atau ketidakmampuan untuk mengampuni dalam hidup saya hari ini, yang mungkin menjadi penyebab masalah kesehatan saya baik fisik maupun batin? Serahkanlah kepada Yesus hari ini, terutama dalam Ekaristi Kudus. Yesus sedang menanti untuk menyembuhkan saya, tetapi saya harus melakukan bagian saya dan membuka diri saya kepada Sang Tabib Ilahi, baik melalui doa maupun dengan sakramen Rekonsiliasi.
Mari, sebagai tindakan kita hari ini, kita memeriksa diri kita di hadapan Tuhan dan berekonsiliasi dengan Allah dan sesama.
Ampuni aku Tuhan, dan sembuhkanlah aku. Amin.

