Sabda Hidup
Rabu, 1 Juli 2026, Rabu Pekan Biasa XIII
Bacaan: Am 5:14-15.21-24; Mzm 50:7.8-9.10-11.12-13.16bc-17; Mat 8:28-34.
“Keluarlah seluruh kota mendapatkan Yesus dan setelah mereka berjumpa dengan Dia, merekapun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka,” (Mat 8: 34).
Bacaan Injil hari ini menarik. Yesus masuk di wilayah Gadara, sebelah timur danau Galilea. Dua orang kerasukan roh-roh jahat keluar dari pekuburan menemui Yesus. Roh-roh jahat itu mengenali siapa Yesus. Mereka tahu kuasa-Nya. Roh-roh jahat itu meminta agar mereka tidak diusir dari wilayah itu, tetapi pindah kepada kawanan babi yang ada di situ. Menjawab permintaan mereka itu, Yesus berkata, “Pergilah!” Maka pergilah roh-roh jahat itu masuk ke dalam babi-babi dan menyebabkan babi-babi itu terjun dari tepi jurang dan mati di dalam danau. Kuasa Yesus sungguh luar biasa! Hanya dengan sepatah kata, Ia membungkam setan, menenangkan badai, dan membangkitkan orang mati.
Namun amat mengherankan bahwa penduduk kota yang mendengar tentang mujizat itu tidak menerima kehadiran Yesus. Mereka menemui-Nya dan meminta-Nya pergi. Mengapa? Mungkin mereka takut. Atau merasa rugi kehilangan babi-babi itu yang bagi mereka lebih berharga bagi daripada kebebasan dua orang yang menderita itu dari cengkeraman roh jahat.
Rupanya mereka lebih memilih babi-babi itu ketimbang kehadiran Yesus. Mereka lebih memilih babi-babi daripada dibebaskan dari kuasa setan.
Mari kita renungkan, barangkali ada area-area tertentu dalam kehidupan kita dimana kita lebih suka jika Yesus tidak ikut campur di dalamnya? Mungkin kita merasakan pengenalan kita akan Kristus terlalu menuntut? Ia bermaksud untuk memurnikan dan membebaskan kita dari cengkeraman kuasa roh jahat dan kebiasaan kita yang berdosa, tetapi barangkali kita masih lebih suka tawar-menawar dengan-Nya….. Tuhan saya ingin hidup baik dan suci…tapi jangan sekarang…..
Salah satu doa St. Agustinus dalam Confessiones (Pengakuan) berbunyi: “Lord, make me pure, but not yet.” Tuhan, buatlah saya murni, tapi jangan sekarang…. Sepertinya Agustinus mau mengatakan, Tuhan saya ingin jadi suci, saya ingin jadi sempurna, tetapi jangan sekarang deh….. Kita pun sering kali seperti itu. Tuhan, saya ingin berhenti minum dan mabuk, tapi jangan sekarang…. Tuhan, saya tahu tidak jujur itu tidak baik. Saya ingin jujur, tapi jangan sekarang… rugi, yang lain juga korupsi…. Tuhan saya tahu hubungan saya dengan seseorang tidak baik, saya ingin memutuskannya, tapi jangan sekarang deh…..
Namun St. Agustinus berkata jujur. Ia bukannya enggan untuk berubah, tetapi mengakui bahwa ia sungguh berjuang untuk melepaskan kesenangan daging di masa mudanya.
Semoga kita juga jujur seperti St Agustinus. Kita dengan rendah hati mengakui di hadapan Tuhan bahwa kita berjuang untuk menjadi baik, menjadi murni dan kudus dan bukan berkompromi dengan dosa, bukan enggan untuk berubah menjadi lebih baik, bukan enggan menerima Yesus sebagai pengendali hidup kita.
Tuhan Yesus, berilah aku rahmat untuk membuka diri dan menyerahkan diri seluruhnya kepada-Mu. Amin.

