iman kepada yesus

Percaya kepada Yesus

Senin, 16 Maret 2026, Senin Pekan Prapaskah IV
Bacaan: Yes. 65:17-21Mzm. 30:2,4,5-6,11-12a,13bYoh. 4:43-54.

“Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, anakmu hidup!" Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi.” [Yoh 4: 50]

Jelaslah bahwa tema Injil hari ini adalah iman. Iman yang tak tergoyahkan dari pegawai istana di Kapernaum itulah yang membawa kesembuhan bagi anaknya yang sakit.

Namun, ada suatu proses dalam imannya, suatu perkembangan dalam imannya yang patut kita renungkan.

Ketika pegawai istana itu pertama kali bertemu dengan Tuhan, ia memiliki iman terhadap karya-karya Tuhan. Hal ini karena ia telah mendengar bagaimana Yesus mengubah air menjadi anggur di Kana. Ia juga mengetahui mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus di Yerusalem selama pesta. Singkatnya, ia telah mendengar tentang mukjizat dan keajaiban yang dilakukan oleh Yesus Kristus. Jadi, imannya berasal dari pengetahuan akan karya-karya ajaib yang dikaitkan dengan Yesus.

Dengan iman semacam itu, pegawai istana itu mendekati Yesus. Namun, iman pejabat itu mengalami transformasi setelah mukjizat itu terjadi. Dari sekadar percaya pada karya-karya yang ditunjukkan oleh Yesus Kristus, ia berkembang menjadi memiliki iman tidak hanya pada karya-karya tersebut, tetapi juga pada pribadi yang melakukan karya-karya itu.

Ini adalah titik balik yang sangat penting dalam perkembangan iman pegawai istana itu, dari iman pada karya-karya menjadi iman pada pribadi, Yesus Kristus.

Kita pun harus bertumbuh dalam iman, bergeser dari iman yang berpusat pada pencapaian, kepada iman akan pribadi Yesus Kristus. Mengapa? Karena Yesus Kristus tidak datang kepada kita sekadar untuk melakukan mukjizat. Jika hubungan kita dengan Allah hanya didasarkan pada pemberian-Nya kepada kita, doa-doa dan keinginan kita yang dikabulkan, maka jika kita tidak menerima apa yang kita minta, kita akan menjadi kesal dan kecewa. Lalu kita menolak untuk berdoa, malas mengikuti Misa, karena dalam pikiran kita Allah tidak mendengarkan kita. Kita menyalahkan-Nya karena menolak memberi kita anugerah yang sangat sederhana. Kita merasa bahwa kehadiran kita di Misa setiap hari menjadi sia-sia karena Allah tidak mendengarkan permohonan kita.

Itulah iman yang berpusat pada perbuatan. Oleh karena itu, jika perbuatan berhenti, iman pun berhenti.

Tantangan bagi kita adalah untuk percaya tidak hanya pada perbuatan Yesus Kristus, tetapi pada pribadi Yesus Kristus, karena pribadi-Nya akan selalu ada.

Entah permohonan dikabulkan atau tidak, apakah doa didengar atau tidak, pribadi Yesus Kristus akan selalu ada. Oleh karena itu, jika iman anda bertumpu pada pribadi Yesus Kristus, maka, meskipun anda dihadapkan pada kehidupan yang sulit, krisis, dan masalah; meskipun doa anda seolah-olah tidak terjawab; anda tetap akan memiliki iman yang tetap, konsisten, dan gigih. Dengan atau tanpa perbuatan, anda percaya pada Yesus Kristus. Iman Anda tidak terletak pada apa yang Yesus lakukan untuk Anda, tetapi iman Anda terletak pada keberadaan-Nya sebagai Yesus Kristus.

Mari kita memohon kepada Tuhan untuk iman seperti itu. Hari ini mungkin kita berdoa karena berbagai alasan. Ada yang berdoa agar permohonan dikabulkan. Ada yang berdoa untuk memohon agar terhindar dari kesusahan. Ada yang berdoa demi kedamaian batin. Yang lainnya lagi berdoa agar dosa-dosanya diampuni. Namun, alasan sebenarnya kita berdoa bukanlah karena perbuatan-perbuatan yang dapat dilakukan Allah bagi kita. Alasan kita berdoa seharusnya karena seorang pribadi, seseorang yang sangat penting dalam hidup kita, yaitu Yesus Kristus. Biarlah iman kita bertumbuh, beralih dari iman pada perbuatan, kepada iman pada seorang pribadi: iman kepada Yesus Kristus.

Tuhan, tambahkanlah iman kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *