semoga dapat melihat

Orang-Orang Buta

Minggu, 15 Maret 2026, Minggu Prapaskah IV Tahun A
Bacaan: 1Sam. 16:1b,6-7,10-13aMzm. 23:1-3a,3b-4,5,6Ef. 5:8-14Yoh. 9:1-41 (panjang) Yoh. 9:1,6-9,13-17,34-38 (singkat).

“Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” (Yoh 9: 39)

Minggu Prapaskah IV disebut Minggu Laetare (Minggu Sukacita). Antifon Pembukaan dalam Misa diambil dari Yesaya 66: 10 – 11 yang berbunyi: “Bersukacitalah, hai Yerusalem, dan berhimpunlah, kamu semua yang mencintainya; bergembiralah dengan sukacita, hai kamu yang dulu berduka, agar kamu bersorak-sorai dan dipuaskan dengan kelimpahan penghiburanmu.”

Dalam Minggu Laetare ini, kita bersukacita karena sudah separoh jalan menjalani masa Puasa dan Pantang (Masa Prapaskah). Kita bersukacita karena kita sudah berhasil dalam perjuangan untuk mengutamakan kehidupan rohani daripada kehidupan duniawi sampai pertengahan Masa Prapaskah. Minggu Laetare mengingatkan kita bahwa Masa Prapaskah merupakan simbol perjuangan kita di dunia untuk mencapai sukacita abadi yang dilambangkan dengan Paskah.

Sukacita abadi kita peroleh berkat kehidupan, wafat, dan kebangkitan Tuhan Yesus. Karena itu, Minggu Laetare (Minggu Sukacita) ini memberikan kepada kita semua semangat untuk menyelesaikan Masa Prapaskah ini dengan sukacita rohani yang besar.

Injil hari ini berpusat pada analogi dan perbedaan antara kebutaan jasmani dan rohani, seperti halnya sebagian besar kisah-kisah mukjizat dalam Injil di mana Yesus menyembuhkan orang buta. Jemaat Kristen purba melihat kebutaan fisik sebagai gambaran dari kebutaan rohani yang menghalangi orang untuk mengenali dan datang kepada Yesus. Oleh karena itu, kisah-kisah penyembuhan orang buta bersaksi tentang kuasa Yesus yang tidak hanya menyembuhkan kebutaan mata, tetapi juga kebutaan hati.

Petunjuk bahwa penulis Injil (Yohanes) bermaksud agar kisah ini dibaca dan dipahami dalam dua tingkatan, yaitu jasmani dan rohani, dapat ditemukan di akhir cerita:

Kata Yesus: "Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta." Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: "Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?" Jawab Yesus kepada mereka: "Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu," (Yoh 9: 39 – 41)

Pernyataan yang Yesus sampaikan di sini berlaku tidak hanya untuk orang Farisi tetapi juga untuk kita sekarang ini. Untuk belajar dari Yesus, pertama-tama kita harus mengakui ketidaktahuan kita, untuk disembuhkan, kita harus terlebih dahulu mengakui kebutaan kita, untuk diampuni, kita harus mengakui dosa-dosa kita. Mentalitas “saya baik-baik saja” yang begitu lazim saat ini mungkin sebenarnya tidak terlalu jauh dari mentalitas orang Farisi. Uskup Agung Fulton J. Sheen pernah mengatakan bahwa di masa lalu orang Katolik percaya bahwa hanya Maria yang “Dikandung Tanpa Dosa”, namun sekarang ini semua orang berpikir bahwa mereka juga “dikandung tanpa dosa”, merasa tidak punya dosa. Maka tidaklah mengherankan jika sakramen pertobatan ditertawakan dan sangat sedikit orang yang datang menerima sakramen rekonsiliasi – bahkan menjelang perayaan Paskah!

Sejak awal, kisah Injil hari ini telah dikaitkan dengan pembaptisan. Sama seperti orang buta yang masuk ke dalam air Siloam dan keluar sebagai seorang pribadi yang utuh, demikian juga orang-orang beriman yang dibenamkan ke dalam air baptis akan keluar sebagai pribadi yang utuh secara rohani, disembuhkan secara total dari kebutaan yang kita alami sejak lahir. Karena, seperti orang buta dalam Injil, kita semua dilahirkan dalam keadaan buta – secara rohani.

Alasan lain mengapa kisah ini digunakan dalam persiapan katekumen untuk pembaptisan adalah karena kisah ini menggambarkan dengan cara yang sangat dramatis tentang apa yang diperlukan untuk menjadi murid Yesus. Faktanya, kisah ini adalah kisah tentang bagaimana seorang buta yang tadinya hanya duduk dan meminta-minta menjadi seorang murid yang bersaksi tentang Yesus. Seperti kisah pertobatan perempuan Samaria di dekat sumur Yakub minggu lalu, kisah kesembuhan orang buta ini menunjukkan bahwa satu hal yang diperlukan untuk menjadi murid Yesus bukanlah dengan menerima pengajaran saja, tetapi dengan memiliki pengalaman. Krisis iman di zaman kita tidak jauh berbeda dengan krisis iman orang Farisi, yaitu berpikir bahwa kesalehan yang sejati berarti mengetahui dan menuruti Kitab Suci. Tetapi menjadi murid Kristus dicapai dengan mengenal dan mengikuti seorang Pribadi, yaitu pribadi Tuhan kita Yesus Kristus.

Masalah keanggotaan dan kehadiran yang kita miliki di gereja-gereja saat ini adalah hasil dari pemahaman bahwa menjadi seorang Kristen adalah soal mengikuti doktrin dan bentuk-bentuk ibadat tertentu. Hal yang paling penting, yakni relasi yang intim dengan Yesus diabaikan. Ironisnya, hanya setelah memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, orang baru bisa mulai menghargai pentingnya ibadah dan ajaran gereja bagi kehidupan iman. Teologi itu penting, namun pengalaman iman lebih penting daripada teologi.

Itulah sebabnya orang buta itu sampai pada iman yang benar kepada Yesus melebihi orang-orang Farisi yang terpelajar. Jadi, ketika dalam pelayanan kita, kita lebih menekankan doktrin dan ibadat saja ketimbang perjumpaan pribadi dengan Tuhan, kita mulai bertanya-tanya apakah kita tidak sedang menempatkan gerobak di depan kuda. Marilah hari ini kita mengakui kebutaan rohani kita dan berdoa bersama Santo Agustinus dari Hippo dalam semangat Prapaskah dan Injil hari ini: “Tuhan, agar kami dapat melihat.” Tuhan akan memberi kita terang agar kita dapat melihat kebenaran.

Yesus, dalam nama-Mu orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, dan orang mati dibangkitkan. Datanglah ke dalam hidup kami dan sembuhkanlah luka-luka hati kami yang hancur. Berikanlah kami mata iman untuk melihat kemuliaan-Mu dan hati yang berani untuk membawa kemuliaan bagi-Mu dalam segala hal yang kami katakan dan lakukan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *