gusti yesus sare

Gusti Sare, Tuhan Tertidur

Sabtu, 31 Januari 2026, Peringatan St. Yohanes Bosco
Bacaan: 2Sam. 12:1-7a,10-17Mzm. 51:12-13,14-15,16-17Mrk. 4:35-41.

“Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali,” (Mrk 4: 37 – 39)

“Marilah kita bertolak ke seberang,” kata Yesus kepada para murid-Nya dalam Injil hari ini. Bayangkan Dia mengatakannya kepada kita, umat Kristen saat ini, di tengah krisis kesehatan, ekonomi, sosial, politik, dan krisis global saat ini … Gereja, yang juga menghadapi krisisnya sendiri, krisis kepercayaan, dihantam sana-sini, tidak bisa hadir sebagai ibu yang mendengarkan….. dan kita harus mendengarkan Tuhan yang mengajak kita untuk melangkah maju, mengubah perspektif kita, cara kita memahami iman, dan menghidupinya. Mari kita bertolak ke seberang!

Kita dihadapkan pada sebuah teologi yang mengandung banyak referensi Kitab Suci. Dalam Injil, tujuan penginjil adalah untuk secara bertahap mengungkapkan identitas Yesus dan menjawab pertanyaan yang telah diajukan orang sejak awal kehidupan publik-Nya: “Siapakah orang ini?”

Dalam literatur kuno, perahu melambangkan komunitas atau perkumpulan. Dalam kisah kita, perahu melambangkan komunitas Kristen bersama dengan komunitas-komunitas Kristen lain yang sudah ada pada saat Markus menulis Injil. Perahu itu membawa Kristus ke tanah orang-orang kafir. Yesus tertidur di buritan perahu! Buritan perahu adalah tempat nahkoda. Bagaimana mungkin seorang nahkoda tertidur tanpa menyadari badai dan bahaya yang mengancam!

Tidur dalam Kitab Suci sering digunakan untuk menunjukkan kematian (Ayub 14:12; Sir 46:19). Bahkan Yesus menggunakan kata tidur secara kiasan, “Lazarus, saudara kita, telah tertidur” (Yoh 11:11); “Anak ini tidak mati, tetapi tidur” (Mrk 5:39-40). Oleh karena itu, tidur Yesus merujuk pada kematian-Nya. Sekarang para murid terombang-ambing oleh gelombang—yang melambangkan tragedi hidup, penganiayaan, ketegangan, dan perselisihan di dalam komunitas Gereja. Namun, Yesus, meskipun hadir di dalam perahu, sedang tidur dan tidak campur tangan secara langsung dalam sejarah manusia.

Tak jarang kita merasa sendirian menghadapi masalah, kesengsaraan, kegagalan, dan bertanya, “Di mana Allah? Di mana Kristus? Kita mengulang pertanyaan para murid: “Tuhan, Engkau tidak peduli?”
Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bahwa anakku sakit?
Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bahwa pernikahanku hancur?
Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bahwa teman-temanku telah meninggalkanku?
Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bahwa aku tidak punya uang?
Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bahwa aku merasa sangat sendirian?
Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bahwa aku ingin menyerah?
Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bahwa suamiku telah meninggal?
Tuhan, apakah Engkau tidak peduli bahwa aku kehilangan pekerjaanku?
Mengapa Engkau tidak memperlihatkan kuasa-Mu?”

Terkadang kita merasa Dia jauh atau tidak ada; keheningan-Nya membingungkan kita dan menanamkan ketakutan. Lalu kita berseru kepada-Nya, bersama dengan Pemazmur: “Bangunlah, ya Tuhan, mengapa Engkau tertidur?”

Yesus mengungkapkan kepada kita seorang Allah yang “tertidur”, yang membiarkan segala sesuatu tetap seperti adanya, yang tidak takut menghadapi ledakan kekerasan kejahatan, yang tidak takut kehilangan kendali atas situasi. Dia adalah Allah yang “membiarkan”, yang “membiarkan” iri hati, persaingan, kebohongan, dan ketidakadilan merajalela. Kemudian, ketika kejahatan sepertinya memiliki kata terakhir, Dia membalikkan keadaan.

Namun, kesan bahwa Dia seakan-akan tertidur tetap ada. Dengan doa kita, kita ingin membangunkan-Nya dan memaksa-Nya untuk campur tangan. Namun sebenarnya Dia sudah terjaga, Gusti mboten sare, Dia hanya memiliki pandangan yang berbeda tentang bahaya dan cara menghadapinya. Dia meminta kepercayaan kita tanpa syarat, total. Ya, kita terombang-ambing oleh gelombang laut, tetapi meskipun kita tidak menyadarinya, Ia selalu beserta kita. Ia tidak pernah mengingkari janji-Nya: “Aku menyertai kamu sampai akhir jaman.”

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita bisa mengendalikan segalanya atau kita bisa bertumbuh, tetapi kita tidak bisa melakukan keduanya. Naik ke perahu bersama Yesus berarti melepaskan hak kita untuk mengendalikan segalanya.

Yesus adalah Tuhan atas badai dan gelombang.
Ketika Dia memanggil kita, kita naik ke perahu.
Ketika Dia tidur, kita terus bekerja.
Ketika badai datang, kita berseru kepada-Nya.
Ketika Dia bangun, Dia menenangkan badai.
Ketika badai berlalu, iman kita menjadi lebih kuat.

Inilah pelajaran bagi kita: Badai tidak akan bertahan lama, dan perahu tidak akan tenggelam.

Apakah Anda sedang berada dalam badai pada saat ini? Anda tidak berada di sana secara kebetulan, tetapi sesuai dengan rencana Bapa. Dia tidak bermaksud menyakiti Anda, meskipun Anda merasa ingin berteriak karena rasa sakit Anda begitu besar.

Anda tidak sendirian, meskipun terasa seperti itu. Anda mungkin telah kehilangan segalanya, tetapi Anda belum kehilangan Tuhan. Dia masih bersama Anda, meskipun Anda tidak dapat melihat-Nya atau merasakan kehadiran-Nya.

Jangan takut.
Tetaplah percaya.

Tuhan yang menguasai laut ada di sisi Anda.

Ketika waktunya tiba, Dia akan berkata, “Tenanglah, diamlah,” dan badai akan mereda, dan laut akan menjadi bening seperti kaca. Akhirnya, hari akan terbit, dan Anda akan melihat matahari bersinar kembali. Ketika Anda menengok ke belakang, Anda akan melihat bahwa iman Anda telah tumbuh lebih kuat karena badai yang telah Anda lalui.

Tuhan, saat kami ragu bahwa Engkau beserta kami, teguhkan Iman kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *