Selasa, 30 Desember 2025, Hari Keenam dalam Oktaf Natal
Bacaan: 1Yoh 2:12-17; Mzm. 96:7-8a,8b-9,10; Luk. 2:36-40.
“Di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya, dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem,” (Luk 2: 36 – 38).
Injil hari ini memperkenalkan tokoh Hana, seorang nabi perempuan. Mari kita coba menangkap simbolisme yang diberikan Lukas melalui sosok nabi perempuan ini dengan pesan-pesannya untuk hidup kita. Dia diperkenalkan berasal dari suku Asyer. Suku ini adalah, keturununan Asyer, anak kedelapan dari Yakub, suku yang terkecil dan paling tidak berarti di antara suku-suku Israel yang menetap di dekat Laut Tengah. Mereka tinggal di sepanjang pesisir Galilea, tanah yang sangat subur dan kaya materi, namun godaan pun datang. Suku ini secara bertahap tercampur dengan perilaku orang-orang kafir. Meskipun kaya materi namun secara rohani dangkal, mereka menghilang dari panggung sejarah ketika orang-orang Asyur menyerang, menghancurkan mereka, dan suku Asyer pun lenyap selamanya.
Lukas menampilkan Hana sebagai sisa kecil yang setia dari suku yang tidak setia itu. Ada pesan untuk hidup kita: apapun yang terjadi dalam hidup, bahkan jika semua orang di sekitar kita meninggalkan iman mereka, tetaplah setia kepada Allah dan nantikan janji-Nya, karena Tuhan setia pada firman-Nya.
Sosok janda tua ini menampilkan banyak simbolisme dari penginjil: ia berusia 84 tahun; ia setia kepada suaminya selama tujuh tahun hidup bersama. Angka 84 ini merupakan hasil dari 7 kali 12: angka 7 melambangkan kesempurnaan dan 12 melambangkan bangsa Israel. Dalam literatur Ibrani, Israel digambarkan sebagai istri Yahweh, Tuhan. Oleh karena itu, Hana yang berusia 84 tahun mewakili Israel, yang kini menatang Sang Mesias di tangannya dan memperkenalkannya kepada dunia – menyerahkannya kepada umat manusia.
Hana – kini simbol Israel, dan karenanya, istri Yahweh, tidak pernah meninggalkan Bait Suci karena Bait Suci adalah rumah “suami”-nya. Ia tidak mencari kekasih, ia tidak punya waktu untuk sia-sia, ia tidak berkeliling dari rumah ke rumah untuk menghabiskan waktu dalam obrolan yang tidak berguna, dalam rumpi, dalam fitnah…
Siapa pun yang mencintai Kristus, menjadi seperti istrinya. Istri yang hidup dalam harmoni dengan-Nya di dalam bait suci menjalankan misi yang sangat penting: berbicara tentang-Nya karena siapa pun yang mencintai tidak dapat menyimpan kebahagiaan untuk diri sendiri; mereka yang mencintai Kristus memaklumkan-Nya kepada semua yang membutuhkan terang hidup, untuk memberi makna pada hidup mereka.
Cara Hana menjadi tua pun memiliki pesan penting bagi kita, yakni bagaimana menjadi tua secara bermakna. Ketika kita telah memahami sukacita berada bersama Tuhan, maka kita tidak akan menyia-nyiakan waktu. Seperti nabiah tua ini, kepada kita dipercayakan misi untuk berbicara tentang Yesus kepada semua yang mencari makna dan pandangan hidup yang bahagia; kita diutus memberi kesaksian kepada anak-anak, cucu-cucu, dan orang-orang muda, tentang hidup yang bermakna, yakni hidup yang dijalani dalam kesetiaan hubungan cinta dengan Tuhan.
Tuhan, biarkanlah kami selalu menerima dengan syukur hidup dan cahaya Yesus dan mengikuti jejak-Nya dengan setia, sebab dalam Dia kami menemukan makna hidup. Amin.

