terang dunia

Terang Sesungguhnya Sedang Datang

Kamis, 25 Desember 2025, Hari Raya Natal
Bacaan: Yes. 52:7-10Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6Ibr. 1:1-6Yoh. 1:1-18.

“Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya,” (Yoh 1: 9 – 11)

Selama berabad-abad, nampaknya simbol yang paling bermakna dan mudah dipahami sehubungan dengan perayaan Kelahiran Kristus adalah terang atau cahaya. Pelbagai macam ornamen yang berhubungan dengan “terang” dipasang: lampu yang berkerlap-kerlip, bintang. Terang, cahaya, dibutuhkan di ruangan-ruangan rumah kita, di teras kita, diperlukan untuk menerangi pohon-pohon dan semak-semak di sekitar rumah, dan menjadikan toko-toko dan taman-taman tempat yang indah dan bercahaya. Di sebuah paroki yang saya kunjungi beberapa hari yang lalu, di lorong-lorong kampung, orang memasang gapura-gapura yang dililit dengan lampu hias. Tentu cahaya lampu itu menampilkan pemandangan yang indah.

Bagi orang Kristen, lampu-lampu Natal harus memiliki makna yang jauh lebih dalam. Lampu-lampu itu menjadi pengingat yang paling penting: Kristus, Terang Dunia, telah datang untuk menghancurkan kegelapan pekat ketidaksempurnaan dan dosa manusia. Dia datang untuk membawa terang itu, kehidupan Allah sendiri, kepada mereka yang menanti dan dengan iman dan cinta menerima terang dan kehidupan itu ke dalam hati dan rumah mereka.

Namun, sekali lagi seperti yang dikatakan St. Yohanes: “Terang sejati… Terang yang sesungguhnya…. datang ke dunia… Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya.” Terang yang menghancurkan kegelapan pagi ini tidak hanya ditemukan di sini di tempat suci kita, altar, dan kandang Natal, tetapi juga menerangi Anda saat Anda berlutut dalam doa. Ia juga menerangi para pengemis miskin yang berbalut kain lusuh di bawah jembatan atau jalan toll di kota-kota kita. Ia menerangi kemewahan dan kemegahan gedung-gedung yang tinggi menjulang, namun juga menerangi kelompok-kelompok kecil orang miskin dan tunawisma yang meringkuk kedinginan di sela-sela tiang jalan layang. Ia menerangi kota-kota di negara-negara maju namun juga mereka yang mencari penghormatan dan martabat dengan membakar tanah dengan api serta kerusuhan yang menghanguskan kota-kota dan desa-desa. Ia menerangi menara pencakar langit yang menakjubkan di kota-kota besar dan kehancuran yang mengerikan di pelbagai penjuru negeri yang dilanda bencana, beserta penduduknya yang terlantar. Ia menerangi pejabat yang duduk goyang kaki sambil menghitung keuntungan yang dikeruk, menerangi mereka yang membabat hutan secara membabi buta, tapi juga menerangi orang-orang yang harus mengais sampah untuk mencari makan. Ia membuka seluruh dunia bagi kita detik demi detik: model-model terkenal di catwalk dunia mode, orang-orang kelaparan di Sudan dan Ethiopia, orang-orang yang bersenang-senang di Mardi Gras Rio de Janeiro, pagar kawat di Kuba dan kamp tawanan perang di Timur Tengah, ia menerangi orang-orang miskin, yang paling miskin di antara yang miskin, di Kalkuta, yang dicintai oleh Ibu Teresa, ia memperlihatkan gedung-gedung mewah dan raksasa di Hong Kong, dengan ribuan orang tunawisma terbaring di jalanan. Terang Kristus telah tiba. Dan dalam banyak kasus: “Ia telah datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya.”

Di Utara dan Selatan, Timur dan Barat, terang-Nya bersinar. Terangnya bersinar di atas bukit-bukit di padang Bethlehem, tempat para gembala pertama kali menyambutnya, dan terangnya bersinar di atas bukit-bukit dan jalur Gaza, di mana para pembunuh berusaha membinasakan-Nya. Terang-Nya melintasi Afghanistan, Pakistan, Ukraina, Rusia. Terang itu menunjukkan kepada kita perdamaian, langkah demi langkah kecil menuju Iran, Korea Utara, Thailand, Kamboja. Ia menyaksikan kejahatan manusia terhadap sesamanya dalam semua perilaku teror dan pembunuhan orang tak bersalah, namun Ia tetap membawa terang menuju jalan damai, persaudaraan, dan kebebasan. Namun, benarkah kita saat ini, seperti dunia pada zaman Kristus, lebih mencintai kegelapan daripada terang, memilih kematian daripada kehidupan?

Saya ingat sebuah lagu indah dalam bahasa Inggris yang mengatakan: “Let there be peace on earth, and let it begin with me!” Semoga ada damai di bumi, dan biarlah damai itu mulai dari diriku sendiri. Dan itulah seluruh cerita dalam beberapa kata. Meskipun begitu banyak orang menolak untuk menjadi bagian dari penyebaran Terang Kristus di seluruh bumi, tugas seorang Kristen sejati adalah memegang obor Terang Kristus itu dan meneruskannya. Seperti obor Olimpiade yang dibawa melintasi pelbagai negara di dunia untuk mempersatukan bangsa-bangsa dalam damai dan harapan, begitu pula Terang Kristus, harus berjalan terus melintasi seluruh penjuru bumi. Dan itu mulai dari saya dan anda sendiri.

Terang Kristus pasti mengusik dan mengganggu mereka yang acuh tak acuh menjalankan agama mereka. Dia mengusik para “Farisi” yang di luar nampak mulus, sementara di dalam “penuh dengan tulang-tulang orang mati.” Dia menghadapi kehidupan dan tindakan orang-orang yang setengah hati, yang tidak bersemangat. Dan Dia akan terus berusaha untuk memulihkan keteraturan dari kekacauan kesalehan palsu, kemunafikan, prasangka, ketidakadilan, dan ketidakpedulian yang membanjiri tanah ciptaan-Nya.

Dan upaya-Nya yang terus-menerus untuk membawa terang ke dunia hanya akan terwujud melalui kita semua. Sambutlah sang Terang di hati kita masing-masing. Terima tugas untuk membawa Terang itu ke manapun kita pergi. Hanya ketika kita semua menerima dan melaksanakan tugas itu, dunia kita akan mengenal damai dan cinta untuk semua. Jika Anda adalah orang yang lebih sering mencintai kegelapan, gunakan perayaan hari ini untuk mengubah hidup Anda. Anda akan menjadi lebih baik karenanya, dan betapa dunia akan menjadi lebih baik  jika kita menghidupi kata-kata Yesaya:

“Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai,” (Yes 9: 1 – 6).

Mari, sebarkan Terang! Dialah “cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah” sendiri (Ibr 1: 3).

Selamat Natal untuk kita semua. Semoga Terang Kristus bersinar sepanjang Tahun Baru kita!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *