nativity mary joseph

“Allah Beserta Kita” adalah Janji Kekal

Kamis, 18 Desember 2025, Kamis Hari Biasa Khusus Adven
Bacaan: Yer 23:5-8Mzm 72:2.12-13.18-19Mat 1:18-24.

“Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel,’ yang berarti: Allah menyertai kita.” [Mat 1: 21 – 23]

Kemarin, 17 Desember, kita dengarkan Silsilah Yesus yang mengingatkan kita bahwa kasih karunia Allah sering kali terwujud melalui keadaan yang tak terduga dan tidak konvensional. Hal itu menyoroti bagaimana Allah bekerja melalui kelemahan manusia untuk mewujudkan rencana ilahi-Nya. Sekarang ini, ketika Gereja menghadapi tantangan di dunia yang dipenuhi perpecahan, ketidakadilan, dan perubahan yang cepat, pesan ini memberikan harapan: belas kasih Allah melampaui norma-norma sosial dan batasan manusia.

Hari ini kita dengarkan narasi kelahiran Kristus versi Matius. Situasi “tidak biasa” Maria sebagai perawan yang mengandung oleh Roh Kudus mencerminkan intervensi Allah yang mengusik dalam sejarah, mengingatkan kita bahwa tujuan ilahi sering berbeda dengan harapan manusia. Tanggapan Yusuf—keadilan yang didasarkan pada belas kasihan ketimbang legalisme kaku—mengajak kita untuk mempertimbangkan bagaimana kita menghadapi tantangan kontemporer dengan belas kasih. Di negeri kita, di mana ketegangan sosial dan ketidakpastian ekonomi terus berlanjut, teladan Yusuf mengajak kita untuk mewujudkan cinta Kristus dengan memprioritaskan kepedulian dan perhatian bagi yang rentan dan memupuk rekonsiliasi di tengah perselisihan.

Bayi yang dilahirkan Maria diberi namaYesus (“Yahweh menyelamatkan”) dan juga disebut Immanuel (“Allah beserta kita”). Nama-nama tersebut memberikan penghiburan di masa-masa yang penuh gejolak ini. Secara global, saat Gereja menangani isu-isu seperti sinodalitas, krisis lingkungan, dan transformasi digital dalam pewartaan Injil, nama-nama ini menegaskan kehadiran Allah yang abadi dan panggilan-Nya untuk terlibat aktif dalam membangun Kerajaan-Nya.

Warisan Katolik kita yang kaya mengingatkan kita bahwa, seperti silsilah Yesus, kisah komunitas kita adalah “tenunan” individu-individu yang beragam, bersatu dalam iman. Saat kita menghadapi tantangan masa kini, marilah kita percaya pada penyelenggaraan Allah dan, seperti Yusuf, memilih mendahulukan belas kasih daripada penghakiman.

Semoga Yesus, Penyelamat kita dan Immanuel, menginspirasi kita untuk menjadi pelita harapan, membangun jembatan perdamaian dan keadilan di dunia yang merindukan kasih Allah. “Allah beserta kita” adalah jaminan dan misi kita hari ini.

Tuhan, sebagaimana Engkau adalah Immanuel, Allah beserta kami, semoga kami juga berada bersama saudara-saudari kami dalam kebutuhan rohani dan materi mereka. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *