Kamis, 11 Desember 2025, Kamis Pekan Advent II
Bacaan: Yes 41:13-20; Mzm 145:1.9.10-11.12-13ab; Mat 11:11-15.
“Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar dari pada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar dari padanya,” (Mat 11: 11).
Pernahkah anda merintis sesuatu namun anda tidak pernah menyaksikan hasilnya? Itulah yang terjadi dengan Yohanes Pembaptis. Ia tampil sebagai nabi terakhir Perjanjian Lama yang mempersiapkan datangnya Sang Juruselamat, namun ia tidak pernah menyaksikan kepenuhan karya penebusan dalam diri Yesus. Itulah sebabnya, setelah memuji bahwa di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada yang lebih besar dari Yohanes, Yesus berkata, “yang terkecil dalam Kerajaan Sorga lebih besar daripadanya.”
St Yohanes Pembaptis adalah salah satu tokoh penting dalam masa Advent. Seruan dan wartanya jelas: pertobatan dan pembaharuan hidup. Pujian Yesus kepada Yohanes Pembaptis, tidak hanya dimaksudkan untuk memujinya, namun terlebih mengingatkan orang akan pertobatan dan pembaharuan hidup yang diserukannya.
Sayangnya, hanya sedikit yang mendengarkannya. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 11: 15). Tak semua yang bertelinga, mendengar! Terlebih lagi mendengarkan. Mendengar hanya ada pada level indrawi, seperti mendengar suara, mendengar burung berkicau, mendengar mobil lewat. Tetapi mendengarkan mengandaikan persepsi dan gerak untuk menanggapi apa yang didengarkan. Bukan hanya dengan telinga, kita perlu mendengarkan dengan hati.
Seruan Yohanes mengingatkan bahwa Natal tidaklah hanya berpusat pada hal-hal materi, kukis, baju baru dan hadiah-hadiah natal, tetapi menantang kita untuk berubah dan bertobat. Di paroki-paroki mungkin sudah mulai diselenggarakan penerimaan Sakramen Tobat. Di berbagai tempat, penerimaan Sakramen Tobat dilaksanakan di wilayah-wilayah rohani atau lingkungan agar semakin banyak yang datang menerima Sakramen Tobat. Mari gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
Namun, selain itu, diperlukan aksi nyata dalam pertobatan. Kita baru saja menjadi saksi bencana yang terjadi di pelbagai penjuru negeri kita. Sebagian besar bencana itu dapat dikatakan bukan bencana alam, melainkan bencana yang terjadi karena kita sudah merusak alam. Banjir besar yang menghanyutkan ribuan gelondongan kayu menjadi teguran keras untuk pertobatan ekologis! Pertobatan yang tidak dapat ditawar lagi. Sebuah seruan pertobatan yang harus didengarkan. Mungkin dalam skala kecil, kita masing-masing dapat berbuat sesuatu. Kita perlu menyuarakan pertobatan bersama. Selain bersuara tentang perlunya pertobatan ekologis, mari kita laksanakan tindakan nyata untuk mengubah cara pandang dan perilaku merusak terhadap alam menjadi sikap peduli dan merawat bumi, dimulai dari hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan, hemat energi, memilah sampah, hingga gerakan besar seperti menanam pohon, membangun ekonomi sirkular, dan mengadopsi gaya hidup lestari, sebagai respons terhadap krisis ekologi dan panggilan untuk menjaga ciptaan Tuhan.
Mungkin yang kita buat hanyalah langkah-langkah kecil, tetapi perjalanan menuju perubahan yang kita cita-citakan tak akan pernah terjadi tanpa diawali dengan langkah-langkah kecil yang kita buat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!
Tuhan, anugerahkanlah kepada kami tobat yang sejati, untuk mempersiapkan ruang bagi kedatangan-Mu. Amin.

