Rabu, 10 Desember 2025, Rabu Pekan Advent II
Bacaan: Yes. 40:25-31; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10; Mat. 11:28-30.
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.” (Mat 11: 28 -30).
Dalam perikop Injil hari ini, kita dengar undangan lembut Yesus, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Undangan ini bergema di sepanjang waktu, menyapa keletihan dan beban yang memberatkan hati manusia. Yesus mengerti perjuangan dan kerja keras kita dalam kehidupan, mengundang semua orang yang merasa terbebani untuk menemukan penghiburan di dalam Dia.
Gambaran kuk, yang secara tradisional merupakan simbol kerja keras dan kesulitan, memiliki arti yang baru. Yesus tidak menjanjikan kehidupan tanpa tantangan, melainkan sebuah kuk bersama, yang menandakan sebuah kemitraan di mana Dia memikul beban bersama kita. Kuk bersama ini mencerminkan belas kasih-Nya dan kesediaan-Nya untuk berjalan bersama kita melalui kesulitan-kesulitan hidup.
Janji “istirahat”atau kelegaan tidak hanya bersifat fisik tetapi juga mencakup jiwa. Yesus menawarkan istirahat yang mendalam yang melampaui keletihan tubuh, memberikan kedamaian dan pembaharuan hingga ke inti keberadaan kita.
Istilah “enak” dalam janji Yesus tidak menyiratkan kehidupan yang mudah, melainkan sebuah kuk yang sesuai, yang pas, cara hidup yang selaras dengan ajaran-Nya dan prinsip-prinsip kerajaan Allah. Mengikut Yesus bukanlah sebuah kewajiban yang memberatkan, melainkan sebuah jalan yang memiliki tujuan dan penggenapan.
Panggilan untuk memikul kuk yang dipasang oleh Yesus dan belajar dari-Nya menunjukkan sifat pemuridan yang transformatif. Ini adalah undangan untuk dibentuk oleh ajaran-Nya, mengalami hati yang lembut dan rendah hati yang menjadi ciri kehidupan-Nya sendiri.
Ketika kita merenungkan perikop ini, marilah kita memeriksa tanggapan kita terhadap undangan Yesus. Apakah kita memikul beban sendirian, merasa mampu mengatasi segalanya sendiri, atau sudahkah kita memikul kuk yang Yesus tawarkan?
Advent mengingatkan kita bahwa Allah Putera datang dan menjadi manusia dan menjadi sama dengan kita. Meski ia tidak berdosa, ia mengalami segala efek dosa dan beban yang menyertainya. Ia menghidupi kemanusiaan secara utuh, mengalami segala kesulitan dan beban kita.
Memikul kuk bersama dengan Yesus, kita mempunyai keyakinan bahwa “orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya,” (Yes 40: 31).
Semoga kita menemukan kenyamanan dan kelegaan di hadirat-Nya, menyerahkan beban berat kita dan menemukan ritme kasih karunia yang dianugerahkan karena kita berjalan dekat dengan Sang Juruselamat kita.
Tuhan, jauhkan dari hati kita segala kesombongan dan kekerasan hati, dan jadikan lemah lembut dan rendah hati karena kami belajar pada-Mu. Amin

