Jumat, 19 Desember 2025, Hari Biasa Khusus Advent
Bacaan: Hak. 13:2-7,24-25a; Mzm. 71:3-4a,5-6ab,16-17; Luk. 1:5-25.
“Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya; ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya." (Luk 1: 13 – 17)
Bacaan Injil hari ini mengisahkan kabar sukacita bagi Zakharia dan Elizabeth. Kabar sukacita, yang dalam perhitungan dan pertimbangan manusia rasanya tidak mungkin terjadi. Dan karena keraguannya, Zakharia menjadi bisu. Ia lupa bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil.
Ada beberapa hal dapat kita renungkan dari perikope Injil hari ini: Pertama, Allah mempunyai rencana keselamatan untuk umat manusia. Rencana keselamatan itu mungkin perlu waktu berabad-abad untuk dinyatakan, namun tetap akan dilaksanakan. Zakharia dan Elisabet mempunyai peran di dalamnya: menjadi orang tua dari pendahulu Sang Juruselamat, yakni Yohanes. Bahwa mereka sudah lanjut usia dan Elisabet mandul, itu tidak relevan, sebab tiada yang mustahil bagi Allah. Bagaimana dengan kita? Apakah kita siap dipakai oleh Allah untuk rencana-rencana-Nya kapanpun? Apakah kita mau melaksanakan kehendak-Nya dalam hidup kita, walau itu sulit?
Kedua, Allah memilih sesuai dengan kehendak-Nya. Ia memilih Zakharia, Elisabet, dan orang-orang lainnya lagi untuk rencana-rencana-Nya. Ia memilih setiap orang untuk panggilan tertentu. Apakah kita akan melewatkan tugas yang diembankan kepada kita oleh Allah? Entah itu sebagai imam, biarawan-biarawati, single, atau menikah. Kita memang tidak layak, tetapi tugas kita adalah menjawab panggilan itu sebaik-baiknya, seperti Maria melaksanakan kehendak-Nya.
Ketiga, Allah melaksanakan rencana-Nya. Mungkin untuk melaksanakan rencana-Nya itu dibutuhkan waktu yang sangat panjang, tetapi tetap akan terlaksana. Zakharia dan Elisabet terlalu lama menantikan kelahiran anak. Sisa-sisa Israel juga terlalu lama menantikan kedatangan Sang Juruselamat. Dalam hidup kita, tak jarang kita merasakan seperti itu. Kita mengharapkan sesuatu dari Tuhan, namun seakan-akan Tuhan membutuhkan waktu terlalu panjang untuk bertindak. Tetapi siapakah kita ini yang mempertanyakan Tuhan? Konsep kita tentang waktu adalah kronos (kronologi) dan kita khawatir dengan waktu kita yang terbatas, sehingga kita ingin memanfaatkan setiap momen dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, waktu Tuhan adalah kairos (penggenapan), waktu rahmat, dan bagi-Nya segala sesuatu dan setiap peristiwa memiliki waktu-waktu terbaiknya. Waktu Tuhan pasti yang terbaik!
Oleh karena itu, memiliki iman yang besar kepada Tuhan berarti tidak hanya berharap – tetapi berharap dengan kesabaran. Marilah kita berdoa agar kebajikan ini menjadi salah satu berkat Adven kita. Renungkan, apa alasan Anda menjadi tidak sabar? Bawalah itu ke dalam doa.
Tuhan, aku percaya kepada-Mu, atas rencana-Mu untuk hidupku. Aku percaya bahwa rencana-Mu pasti akan terlaksana. Jika Engkau menunda untuk melaksanakannya, itu karena engkau memberikan yang lebih sempurna sesuai rencana-Mu. Amin.

