Sabda Hidup
Kamis, 24 September 2026, Kamis Pekan Biasa XXV
Bacaan: Pkh 1:2-11; Mzm 90:3-4.5-6.12-13.14.17; Luk 9:7-9.
Herodes berkata: "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. [Luk 9: 9]
Herodes mendengar tentang Yesus dan merasa bimbang. Banyak orang memberinya penjelasan yang saling bertentangan. Masih dihantui oleh pembunuhan Yohanes Pembaptis yang dilakukannya, Herodes bertanya-tanya, “Lalu, siapakah gerangan Dia ini?” dan ia ingin bertemu dengan Yesus. Namun, keinginannya itu bukanlah iman yang tulus — ini lebih berkaitan dengan hati nuraninya yang gelisah ketimbang keyakinan yang sejati.
Herodes berusaha menekan hati nuraninya yang bersalah. Namun, alih-alih mencari penyembuhan, ia mencoba membungkam hati nuraninya dengan menutupi satu kesalahan dengan kesalahan lainnya. Kisahnya menjadi peringatan: mengabaikan rasa bersalah tidak akan membuatnya hilang. Pembenaran, pengalihan perhatian, dan menyalahkan orang lain hanya akan memperdalam dan memperpanjang luka itu.
Hati nurani bukanlah musuh yang dikirim untuk menghukum kita. Ia adalah suara yang memanggil kita pulang. Ketidaknyamanan yang ditimbulkannya dapat menjadi anugerah jika hal itu menuntun kita pada kejujuran, pertobatan, dan tatapan penyembuhan Kristus. Yesus tidak meminta kita untuk menyembunyikan kegagalan kita; Ia mengundang kita untuk membawanya ke dalam terang, di mana pengampunan dapat menciptakan awal yang baru.
Herodes ingin melihat Yesus. Pertemuan yang sejati membutuhkan lebih dari sekadar rasa ingin tahu tentang mukjizat, ajaran, atau berita keagamaan. Mengenal Yesus berarti mengikuti-Nya, mendengarkan firman-Nya, dan membiarkan-Nya mengubah keputusan-keputusan kita.
Saat ini, mari kita bertanya: Kebenaran apa yang selama ini saya hindari? Gangguan batin mana yang telah saya coba redam melalui kesibukan, alasan, pembenaran atau kompromi yang berulang-ulang? Semoga Roh Kudus memberi kita keberanian untuk mendengarkan hati nurani tanpa putus asa. Ketika kebenaran bertemu dengan belas kasih, penyesalan berubah menjadi pertobatan, rasa bersalah berubah menjadi kebebasan, dan hati yang gelisah akhirnya menemukan kedamaian.
Tuhan, karuniakan kepadaku hati nurani yang jernih. Aku ingin mengikuti-Mu secara lebih sungguh, ya Juruselamatku. Amin.

