Senin, 17 November 2025, Peringatan Wajib St. Elisabeth dari Hungaria
Bacaan: 1Mak. 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mzm. 119:53,61,134,150,155,158; Luk. 18:35-43.
"Tuhan, supaya aku dapat melihat!" (Luk 18: 41)
Yerikho menjadi latar belakang kisah penyembuhan orang buta yang kita dengar dari bacaan Injil hari ini. Kita harus ingat bahwa Yesus sedang berada pada hari-hari terakhir perjalanan-Nya menuju Yerusalem, tempat di mana Ia akan mengorbankan hidup-Nya. Rute ziarah dari Galilea ke Yerusalem melewati Yerikho. Sebagian besar peziarah memilih rute ini untuk menghindari Samaria.
Orang buta di pinggir jalan Yerikho itu duduk mengemis. Ia penasaran dengan kegaduhan orang banyak yang lewat dan bertanya, “Apa itu?” Ketika orang mengatakan kepadanya, “Yesus, orang Nazaret lewat,” ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Sangat mengherankan bahwa Ia menyebut Yesus: “Anak Daud.” Ia melihat jauh melebihi orang-orang sezamannya. Memanggil-Nya dengan gelar kehormatan “Anak Daud” menunjukkan imannya kepada Yesus. Dengan memanggil-Nya “anak Daud,” maka ia juga telah mengakui-Nya sebagai Mesias, Sang Juruselamat. Meskipun matanya buta, hatinya dapat melihat!
Yesus mungkin terkejut si buta itu memanggil-Nya dengan sebutan itu. Ia menyuruh agar orang itu dibawa kepada-Nya. “Apa yang kaukehendaki Aku perbuat bagimu?” tanyanya. “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” pintanya. Melihat iman orang buta itu, Yesus berkata: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Iman si buta membawa keselamatan. Imannya membawa pembebasan. Karena imannya, ia buta tetapi melihat. Ia melihat dengan mata imannya.
Permohonan si buta itu, hendaknya menjadi doa kita. “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Mengapa? Secara fisik kita melihat. Tetapi sering kali kita juga telah menjadi buta. Mata kita dapat melihat, namun kita sengaja menjadikan diri kita buta. Maka permohonan si buta itu pantas menjadi doa kita.
Melihat apa dan ke mana?
Pertama, melihat ke atas – kepada Tuhan. Ingat, bahwa hidup kita ini pun bukan milik kita. Segala-galanya milik Allah. Maka, bersyukurlah apabila kita masih diperbolehkan untuk “menikmati” hidup.
Kedua, melihat ke dalam diri sendiri. Betapa kita ini adalah pendosa yang patut untuk dikasihani. Kita membutuhkan pengampunan, membutuhkan belas kasih Allah, membutuhkan penyembuhan, perlu pertobatan.
Ketiga, melihat sesama. Kita tidak hidup sendiri. Mari saling membantu, saling bahu-membahu, membangun dunia agar menjadi tempat yang lebih layak untuk dihuni.
“Tuhan, supaya aku dapat melihat!”
St. Elisabeth dari Hungaria [Elisabeth dari Thüringen]
Menurut tradisi, ia dilahirkan di sebuah kastil di Sarospatak, Hungaria, pada tanggal 7 Juli, 1207. Ia merupakan putri Raja András II dari Hungaria dan Gertrud dari Andechs-Merania, dan pada usia 4 tahun ia dibawa ke istana raja Thüringen di Jerman Tengah, untuk menjadi calon mempelai bagi pangeran Thüringen. Pada tahun 1221, ketika ia baru berusia 14 tahun, Elizabeth dinikahkan dengan raja Louis, penguasa Thuringia. Elizabeth seorang mempelai yang cantik, yang amat mengasihi suaminya yang tampan. Louis membalas kasih isterinya dengan segenap hatinya. Tuhan mengaruniakan kepada mereka tiga anak dan mereka hidup berbahagia selama enam tahun.

Pada musim semi tahun 1226, ketika banjir, kelaparan, dan wabah malapetaka menimpa Thüringia, Raja Louis, sedang mewakili Kaisar Romawi Suci dalam Reichstag (Parlemen Negara) di kota Cremona. Elizabeth berusaha keras mengendalikan pemerintahan dalam negeri dan mendistribusikan bantuan kesemua bagian wilayah yang terkena bencana. Ratu bahkan juga mendermakan jubah kenegaraan beserta hiasannya kepada orang miskin. Di bawah Kastil Wartburg, ia membangun sebuah rumah sakit dengan 28 ranjang dan mengunjunginya setiap hari untuk merawat mereka yang sakit.
Hidup Elizabeth berubah dengan drastis pada tanggal 11 September, 1227 ketika suaminya Louis berangkat bersama pasukan Thuringia dan bertempur pada Perang Salib Keenam. Dalam perjalanan Louis meninggal terkena wabah di Otranto, Italia. Jenazahnya dikembalikan pada Elizabeth pada tahun 1228 dan dimakamkan di Reinhardsbrunn; ketika mendengar kabar kematian suaminya, Elizabeth konon mengatakan, “Ia sudah mati. Sepertinya untukku seluruh dunia dan segala kesenangannya sudah mati hari ini.” Dihadapan Jenazah suaminya Elizabeth pun bersumpah untuk tidak menikah lagi dan akan melanjutkan hidupnya sebagai seorang biarawati.
Sanak-saudara Louis tidak pernah menyukai Elizabeth karena ia biasa membagikan banyak makanan kepada kaum miskin. Semasa Louis masih hidup, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi sekarang, mereka dapat dan mereka melakukannya. Segera saja, puteri yang cantik serta lemah lembut ini beserta ketiga anaknya diusir dari kastil. Mereka menderita kelaparan serta kedinginan. Namun, Elizabeth tidaklah mengeluh akan penderitaannya yang berat itu. Malahan ia mengucap syukur kepada Tuhan karena Ia memperoleh kesempatan untuk meneladani semangat kemiskinan St. Fransiskus Asisi. Elizabeth menerima penderitaannya sama seperti ia menerima kabahagiaannya.
Sanak-saudara Elizabeth datang menolongnya. Ia beserta anak-anaknya mempunyai tempat tinggal kembali. Pamannya menghendaki agar Elizabeth menikah lagi, karena ia masih muda dan menarik. Tetapi Elizabeth menolak. Ia telah bertekad untuk mempersembahkan dirinya kepada Tuhan. Ketika pamannya berusaha memaksanya untuk menikah; Elizabeth tetap teguh pada sumpahnya, bahkan mengancam akan memotong hidungnya sendiri supaya tidak ada pria yang akan tertarik dan menikahinya. Dan sang paman pun akhirnya menyerah.
Elizabeth kemudian bergabung menjadi anggota Ordo ketiga Fransiskan, dan membangun sebuah rumah sakit di Marburg untuk orang miskin dan sakit dari semua hartanya yang tersisa; bahkan uang mas kawinnya. Ia menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya dengan melayani mereka yang sakit serta miskin. Ia bahkan pergi memancing sebagai usaha untuk memperoleh tambahan uang untuk membeli obat-obatan bagi kaum miskin yang dikasihinya.
St. Elizabeth baru berusia dua puluh empat tahun ketika ia wafat. Menjelang ajalnya, orang dapat mendengarnya bersenandung pelan di atas pembaringannya. Ia yakin betul bahwa Yesus akan membawanya kepada-Nya. Elizabeth wafat pada tahun 1231.
Setelah kematian Elizabeth, banyak keajaiban terutama keajaiban dalam penyembuhan dilaporkan terjadi di makamnya di dalam gereja dan di rumah sakit yang didirikannya. Atas perintah Paus, penyelidikan diadakan pada orang-orang yang telah secara ajaib disembuhkan antara bulan Agustus 1232 dan Januari 1235. Hasil dari penyelidikan tersebut dilengkapi oleh vita dari seorang calon santa, dan bersama dengan testamen dari para pelayan Elizabeth (tercantum di dalam buku yang disebut the Libellus de dictis quatuor ancillarum s. Elisabeth confectus), membuktikan alasan yang cukup untuk memberikan Gelar Kudus (kanoninasi ) pada Elizabeth.
Maka pada tahun 1235 di Kota Perugia Italia; Paus Gregorius IX memaklumkan secara resmi Elizabeth dari Thuringia sebagai Santa. Piagam kepausan tersebut ada di dalam layar “Schatzkammer” dari Deutschordenskirche di Wina, Austria. Jenazah St.Elizabeth kemudian dibaringkan di sebuah altar dari emas yang masih dapat dilihat sampai sekarang di Gereja St. Elisabeth di Marburg. Pada saat Reformasi Protestan; Gereja ini diambil alih oleh para pengikut Protestan sampai saat ini. Namun demikian umat Khatolik masih diberi tempat tersendiri untuk beribadah dalam Gereja tersebut.

