Senin, 1 Desember 2025, Peringatan Beato Dionisius dan Redemptus, para martir Indonesia
Bacaan: Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mzm 122:1-2.3-4a.(Mzm 122: 4b-5.6-7.) Mzm 122:8-9; Mat 8:5-11.
“Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh….. "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.” (Mat 8: 8. 10).
Saat kita memasuki masa Advent, bacaan hari ini menyoroti kasih karunia Allah yang tak terbatas dan visi-Nya bagi damai dan pemulihan. Dalam bacaan pertama, Nabi Yesaya menggambarkan masa depan di mana kehancuran menjadi batu loncatan menuju pembaruan. Bahkan di tengah tragedi, rencana penyelamatan Allah terus berlanjut, melindungi sisa umat-Nya yang setia. Zion, gunung suci tempat rumah Allah, bersinar sebagai pelita harapan.
Namun, Injil hari ini menantang kita untuk memperluas pemahaman kita tentang kerajaan Allah. Seorang perwira Romawi—simbol kekuasaan dan “orang luar” dari iman Israel—menunjukkan kerendahan hati dan kepercayaan yang mendalam kepada Yesus. Meskipun ada hambatan budaya dan agama, imannya membawanya kepada Kristus, dan hambanya disembuhkan. Yesus terkesima oleh iman perwira Romawi itu, menyatakan bahwa imannya lebih besar daripada yang pernah Ia temukan di Israel. Pada saat ini, Injil mengungkapkan bahwa Kerajaan Allah tidak mengenal batas; Ia terbuka bagi semua yang mencari-Nya dengan hati yang tulus.
Pada masa Advent ini, kita diundang untuk meneladani kerendahan hati dan iman perwira Romawi itu, mengakui kehadiran Kristus baik dalam situasi suci maupun sehari-hari. Sama seperti orang Israel yang naik ke Gunung Zion, kita membutuhkan momen keheningan di Gereja untuk bertemu dengan Allah. Namun, iman kita juga harus mendorong kita ke “pasar kehidupan”, di mana seruan saudara-saudari kita yang berkebutuhan dan tanggapan kita menantang kita untuk menampakkan Kristus di dunia kita.
Saat ini, kita sedang mempersiapkan diri bagi kedatangan Tuhan—bukan hanya pada Natal, tetapi dalam setiap momen di mana iman bertemu dengan kebutuhan, cinta melampaui batas, dan harapan mengubah hidup.
Mari kita renungkan, bagaimana saya dapat tumbuh dalam kerendahan hati dan kepercayaan seperti perwira Romawi itu? Di mana Kristus memanggil saya untuk membawa kehadiran-Nya ke dalam hidup orang lain pada masa Advent ini?
Tuhan, mampukan kami membawa kehadiran-Mu dalam hidup sesama kami di sekitar kami. Amin.

