Sabtu, 6 Desember 2025, Sabtu Pekan Advent I
Bacaan: Yes 30:19-21.23-26; Mzm 147:1-2.3-4.5-6; Mat 9:35-10:1.6-8
“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” [Mat 10: 8]
Bagaimana jadinya jika Tuhan menagih kita atas semua berkat dan anugerah yang kita terima dari-Nya setiap hari? Misalnya, matahari yang kita nikmati sepanjang hari, hujan, air, makanan, kehidupan kita, laut, dan bahkan udara yang kita hirup. Jika hal itu terjadi, Tuhan akan menjadi orang terkaya di dunia saat ini bahkan tanpa persetujuan majalah Forbes. Akan tetapi, itu bukanlah Tuhan yang kita kenal sejak awal dunia. Itu bukanlah Tuhan yang Yesus ajarkan kepada kita dan ingin berhubungan dengan kita. Tuhan yang kita kenal adalah Tuhan yang penuh kasih dan murah hati. Dia tidak membutuhkan semua barang material dan uang. Sebab Dia bahkan menciptakan semuanya dari ketiadaan.
Hanya saja, Yesus, dalam Injil hari ini, ingin mengajarkan sesuatu kepada kita: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma,” (Mat 10:8). Yesus sendiri hidup sesuai dengan yang Ia ajarkan karena Dia menyembuhkan orang sakit; membuat orang buta melihat, mengusir setan, memberi makan orang lapar dengan sabda-Nya dan makanan; menghidupkan orang mati; menahirkan orang kusta, dan seterusnya tanpa meminta bayaran!
Sifat dasar Allah adalah memberi. Allah adalah Pemberi. Karena Dia adalah Pemberi, kita telah menerima segala sesuatu yang kita miliki saat ini, seperti: penciptaan, penebusan, dan pengudusan. Namun, dalam menerima semua ini dari-Nya, kita dipanggil untuk masuk ke dalam “logika ilahi” untuk memberi juga. Dosa hanyalah menerima tanpa memberi. Dosa dan orang berdosa adalah “penerima.” Penerima dan pemberi tidak dapat dicampuradukkan. Marilah kita menjadi pemberi agar Allah ada di dalam kita dan kita di dalam Allah. “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.”
Dengan kata lain, Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk melanjutkan pekerjaan yang telah dimulai-Nya, yaitu memberitakan firman Allah tentang Kerajaan dan membawa kuasa penyembuhan-Nya kepada yang lelah dan tertindas. Apa yang mereka terima dari Yesus harus mereka berikan kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Mereka harus menunjukkan melalui sikap mereka bahwa kepentingan utama mereka adalah Allah, bukan keuntungan materi. Kata-kata Yesus tetap relevan hingga hari ini: Kerajaan Surga sudah dekat. Kita tidak dapat membeli Surga; tetapi mereka yang mengenal cinta dan belas kasih Yesus sudah memiliki Surga di dalam hati mereka. Tuhan membawa Kerajaan-Nya atau pemerintahan surgawi-Nya kepada mereka yang menerimanya dengan iman dan ketaatan. Ketika Tuhan kembali dalam kemuliaan-Nya, Ia akan sepenuhnya memulihkan Kerajaan-Nya yang abadi, penuh keadilan dan damai.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan kepada kita bahwa: “Murid Kristus harus mempertahankan iman dan harus hidup darinya, harus mengakuinya, harus memberi kesaksian dengan berani dan melanjutkannya” (KGK no. 1816). Iman adalah anugerah gratis dari Allah, dan dimaksudkan untuk dibagikan dan dirambatkan. Begitu banyak jiwa yang mencari tetapi belum menemukan Kristus. Mengapa? Karena mereka perlu melihat iman yang dihidupi. Kita dipanggil untuk menjadi saksi hidup dari iman itu.
Bagaimanakah kita memberi kesaksian?
Tuhan, melalui baptisan, Engkau memanggilku untuk menjadi murid-Mu. Ingatkanlah aku, Tuhan, dan mampukanlah aku hidup sebagai murid-Mu yang sejati, dengan berbagi apa yang telah kuterima dari-Mu. Amin.

