Sabda Hidup
Selasa, 1 September 2026, Selasa Pekan Biasa XXII
Bacaan: 1Kor 2:10b-16; Mzm 145:8-9.10-11.12-13ab.13cd-14; Luk 4:31-37.
“Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras: "Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Engkau datang hendak membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah." Tetapi Yesus menghardiknya, kata-Nya: "Diam, keluarlah dari padanya!" [Luk 4: 33 – 35a].
Ketika Yesus dihadapkan pada Setan yang menampakkan diri dalam wujud seorang pria yang kerasukan, menariknya Ia tidak berdiskusi dengan iblis itu. Ia hanya memerintahkan, “Diam, keluarlah dari padanya!”
Iblis masih menjadi kenyataan hingga saat ini. Ia tidak mendatangi kita dalam wujud orang yang kerasukan, atau dengan tanduk dan ekor. Tidak, mungkin iblis memakai Prada, mungkin naik Fortuner atau Mercedes, artinya ia telah menyesuaikan diri dengan dunia modern dan bisa jadi menyamar sebagai orang yang baik. Yesus telah datang untuk membebaskan kita. Ia akan membebaskan dunia dari kehadiran Setan selamanya, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Wahyu. Setan mungkin masih memenangkan beberapa pertempuran, tetapi ia telah kalah dalam perang ini. Kita tidak boleh takut padanya; sebaliknya, marilah kita menolaknya ketika kita merasa ia sedang menggoda kita.
Namun, kita tidak boleh melupakan bahwa ada Roh yang lain yang berkuasa — Roh Kudus. St. Paulus, dalam Bacaan Pertama hari ini, berbicara tentang dua jenis orang: mereka yang belum dapat “melihat” hal-hal Allah, seperti rencana keselamatan-Nya, karena mereka tidak tahu cara menggunakan “mikroskop rohani”, dan mereka yang dapat melihat semua realitas indah itu dengan menggunakan mikroskop rohani.
St. Paulus secara spontan menyebut mikroskop rohani ini sebagai Roh Kudus, perantara alami yang menyampaikan wahyu Allah kepada kita. Paulus menjelaskan bahwa sama seperti kita sendiri yang mengetahui pikiran terdalam kita melalui kerja pikiran kita, demikian pula hanya Roh Allah yang dapat mengetahui rahasia-rahasia-Nya yang paling dalam dan menyampaikannya kepada kita.
Kita tidak dapat melihat Roh Kudus, tetapi kita dapat melihat dampaknya melalui karunia-karunia rohani-Nya. Hal ini seperti angin yang tidak dapat kita lihat. Kita merasakan angin hanya melalui dampaknya: merasakan kesejukannya atau melihat daun-daun di pohon bergoyang.
Namun, salah satu dampak terpenting dari Roh Kudus adalah membuat kita fokus pada Yesus dan Bapa. Itulah sebabnya Yesus begitu terus akan mengutus Roh-Nya — agar kita akhirnya dapat memahami siapa Yesus sebenarnya.
Jika kita ingin berkembang pesat dalam perjalanan rohani kita, marilah kita menyerahkan diri kita kepada Roh Kudus dan, sebagai “dampak” sampingan, kita juga akan mampu menahan godaan roh gelap itu, yaitu iblis.
Apakah Anda menyadari adanya peperangan rohani yang sedang berlangsung di dalam hati Anda dan di dunia di sekitar Anda? Apakah Anda berpegang teguh pada Roh Kudus untuk menahan godaan?
Tuhan, utuslah Roh Kudus-Mu yang berkuasa agar aku tidak pernah menyerah pada godaan si jahat. Amin.

