paus leo agung

Mewujudkan Belas Kasih Allah

Senin, 10 November 2025, Peringatan Wajib St. Leo Agung
Bacaan: Keb. 1:1-7Mzm. 139:1-3,4-6,7-8,9-10Luk. 17:1-6.

“Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini,” [Luk 17: 1 – 2].

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang tiga hal penting dalam kehidupan Kristen: skandal, pengampunan, dan iman.

Pertama, Tuhan memperingatkan kita agar tidak menjadi penyebab skandal. Membawa orang lain ke dalam dosa itu berarti memutar rambu-rambu kehidupan dan mengarahkan jiwa ke jalan yang salah. Seperti seseorang yang memutar arah penunjuk jalan sebagai lelucon dan tindakannya itu bisa saja menyesatkan orang selamanya. Pilihan dan keputusan kita atas tindakan kita memiliki dampak yang abadi.

Kedua, Yesus memanggil kita untuk mengampuni secara tak terbatas. Para rabi mengajarkan bahwa mengampuni tiga kali membuat seseorang sempurna, tetapi Yesus memperluas ini dengan menyatkaan bahwa belas kasih kita harus mencerminkan belas kasih Allah yang tak terbatas. Seorang murid Kristus tidak dapat memutuskan untuk mengampuni atas dasar suka atau tidak suka. Pengampunan harus menjadi ritme kehidupan Kristen. Pengampunan mencerminkan cinta yang telah kita terima.

Paus Santo Leo Agung, yang kita peringati hari ini, telah mempertahankan iman sejati dengan kejernihan dan keberanian, memastikan umat beriman tidak tersesat. Pada masa kepausannya ia melawan tiga bidaah: Pelagianisme, Manicheisme, Pricillianisme dan Monofisitisme.

Pelagianisme adalan ajaran teologis Kristen yang meyakini bahwa manusia tidak tercemar oleh dosa asal dan memiliki kehendak bebas yang sepenuhnya untuk mencapai kesempurnaan tanpa bantuan rahmat Allah. Ajaran ini menekankan bahwa manusia mampu berbuat baik dan menghindari dosa dengan usaha sendiri, sehingga tidak memerlukan rahmat adikodrati secara fundamental.

Manikheisme adalah sebuah aliran keagamaan kuno yang bercirikan Gnostik dan didirikan oleh seorang nabi Persia bernama Mani (atau Manichaeus) pada abad ke-3 Masehi di Babilonia, Kekaisaran Sasaniyah.  Ajaran utama Manikheisme bersifat dualistik, yang menggambarkan adanya perjuangan abadi antara dua prinsip yang berlawanan: (1) Dunia spiritual terang yang baik Sn (2) dunia material gelap yang jahat. 

Pengikut Manikheisme percaya bahwa melalui proses yang berkelanjutan dalam sejarah manusia, “cahaya” (roh atau jiwa) secara bertahap disingkirkan dari dunia materi dan dikembalikan ke alam spiritual asalnya.

Priscillianisme didirikan pada abad keempat oleh Priscillian, seorang uskup Spanyol. Gerakan ini muncul di provinsi Romawi Hispania, yang sesuai dengan Spanyol dan Portugal modern. Ajaran Priscillianisme menggabungkan unsur-unsur asketisme, mistisisme, dan dualisme. Oleh karena itu, mereka dikutuk sebagai ajaran sesat. Priscillianisme menekankan asketisme, esoterisme, dan penafsiran Alkitab yang tidak konvensional. Para penganutnya mempraktikkan disiplin diri yang ekstrem, menjauhkan diri dari pernikahan dan semua kesenangan duniawi. Mereka juga percaya pada perjuangan kosmik antara kekuatan terang dan gelap, sebuah konsep yang dipinjam dari Manikheisme. Priscillian mengklaim memiliki kebijaksanaan yang hanya dapat diakses oleh segelintir orang; dalam hal ini, ia memanfaatkan tradisi Gnostik yang menghargai pengetahuan rahasia (gnosis) untuk keselamatan. Penafsiran kitab sucinya sering kali bersifat alegoris dan mistis dan sangat berbeda dengan kekristenan alkitabiah.

Monofisitisme adalah pandangan yang keliru atau sesat mengenai kodrat Yesus Kristus. Dua aliran pemikiran monofisitisme adalah Eutychianisme dan Apollinarianisme. Monofisitisme mengajarkan bahwa Kristus memiliki satu kodrat, yakni kodrat  ilahi – bukan dua. Eutychianisme secara khusus mengajarkan bahwa kodrat ilahi Kristus bercampur dengan kodrat manusiawi-Nya sehingga Ia, pada kenyataannya, tidak sepenuhnya manusiawi dan tidak sepenuhnya ilahi. Eutychianisme dan monofisitisme adalah penyangkalan terhadap ajaran Kitab Suci tentang kesatuan hipostatis, bahwa kedua kodrat Kristus adalah satu tetapi berbeda. Kaum Eutychianisme mengikuti ajaran Eutyches (378-452), seorang pemimpin biara di Konstantinopel pada abad ke-5; kata monofisitisme berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani yang berarti “satu kodrat”.

Hidup Paus Santo Leo Agung mengingatkan kita bahwa kesaksian kita — baik dalam kata, pengajaran, maupun teladan sehari-hari — harus selalu mengarahkan orang lain kepada Kristus. Hari ini, mari kita berdoa untuk Paus Leo XIV saat ia merayakan hari pelindungnya, agar Roh Kudus membimbingnya dalam memimpin Gereja melalui praktik rekonsiliasi yang tak kenal lelah. Kebesaran sejati, seperti yang diajarkan Santo Leo, terletak pada usaha kita mewujudkan belas kasih yang telah kita terima.

Akhirnya, Yesus menekankan kekuatan iman. Bahkan iman sebesar biji sesawi pun dapat mencabut kecenderungan berdosa yang mendalam dari hidup kita; itu adalah kepercayaan pada kuasa Allah yang bekerja melalui kita. Iman tidak berarti menolak kesulitan, tetapi menghadapinya bersama Allah. Jika kita mendekati hidup dengan mengatakan, “Ini tidak mungkin dilakukan,” maka tidak akan terjadi apa-apa. Tetapi jika kita berkata, “Ini harus dilakukan—dengan bantuan Allah,” maka yang mustahil menjadi mungkin.

Hari ini, Yesus memanggil kita untuk menjadi orang-orang yang tidak menyesatkan tetapi membimbing, yang mengampuni tanpa batas, dan yang hidup dengan iman yang mengubah kemustahilan menjadi harapan.

Tuhan, semoga hidup kami senantiasa mengarahkan sesama kepada-Mu, mencerminkan belas kasih-Mu dan senantiasa mempercayakan diri kepada-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *