loving beyond expected

Mengasihi Bahkan Mereka yang Menyakiti

Sabda Hidup

Kamis, 11 September 2025, Kamis Pekan Biasa XXIII
Bacaan: Kol. 3:12-17Mzm. 150:1-2,3-4,5-6Luk. 6:27- 38.

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Luk 6: 27 – 28)

Perintah untuk mengasihi musuh-musuh kita mungkin adalah kata-kata paling radikal dan menuntut yang diucapkan Yesus. Ini bukan sekadar saran; ini adalah inti Injil. Namun, untuk menaati perintah ini, kita harus terlebih dahulu memahami kasih seperti apa yang Ia ingin agar kita lakukan.

Kata bahasa Yunani yang digunakan di sini adalah agapē — bukan kasih yang didorong oleh nafsu, juga bukan kasih sayang yang secara alami kita rasakan terhadap keluarga dan teman-teman atau sahabat-sahabat. Agapē berarti memilih kebaikan bagi orang lain, bahkan ketika mereka menyakiti kita. Ini bukanlah kasih yang didasarkan pada perasaan, melainkan pada kehendak, yang dimungkinkan oleh anugerah. Kita tidak dapat memaksa hati kita untuk mengasihi mereka yang menyakiti kita, tetapi kita dapat memutuskan, dalam Kristus, untuk tidak pernah menginginkan mereka celaka dan selalu menginginkan kebaikan tertinggi bagi mereka. Inilah kasih ilahi.

Kasih Kristiani selalu aktif. Tidak cukup hanya berkata, “Aku tidak akan berbuat jahat kepadamu.” Tuhan memanggil kita lebih jauh: “Perbuatlah kepada orang lain seperti yang kamu inginkan mereka perbuat kepadamu.” Kebijaksanaan dunia akan mengajarkan prinsip moral — jangan menyakiti. Tetapi Yesus memerintahkan sesuatu yang lebih besar — berusahalah untuk memberkati, mengampuni, dan melayani. Inilah yang “ekstra” dalam kehidupan Kristen, langkah melebihi yang diharapkan, pilihan yang mengungkapkan hati yang telah diubah.

Dan mengapa kita hidup seperti itu? Karena inilah cara Allah. Dia menurunkan hujan-Nya bagi orang benar dan orang jahat. Dia memeluk baik orang suci dan maupun pendosa. Jika kita hanya mengasihi mereka yang mengasihi kita, apa istimewanya? Tetapi jika kita mengasihi bahkan musuh kita, kita menjadi anak-anak sejati Bapa.

Mengasihi dengan cara seperti itu sangatlah istimewa namun kadang-kadang menyakitkan. Namun pada akhirnya, hal itu akan memenuhi hati kita dengan sukacita Allah sendiri. Hal itu membuat kita bebas. Hal itu membuat kita seperti Dia.

Ada seorang pertapa tua yang melihat seekor kalajengking mengambang berputar-putar di air. Ia memutuskan untuk menolong kalajengking itu keluar dari air dengan mengulurkan jarinya, tetapi kalajengking itu menyengatnya. Orang itu masih tetap berusaha mengeluarkan kalajengking itu keluar dari air, tetapi binatang itu lagi-lagi menyengat dia.

Seorang pejalan kaki yang melihat kejadian itu mendekat dan pertapa tua: “Hei, orang tua, apa yang salah denganmu? Hanya orang bodoh yang mau mempertaruhkan nyawanya demi sebuah makhluk jahat jelek. Apakah Engkau tidak tahu bahwa Engkau bisa bunuh diri karena berusaha menyelamatkan kalajengking yang tidak tahu berterima kasih?”

Tetapi pertapa tua itu berkata, “Secara alamiah kalajengking itu menyengat. Secara alamiah saya ini mengasihi. Mengapa saya harus melepaskan naluri alamiah saya untuk mengasihi gara-gara kalajengking itu secara alamiah menyengat saya?”

Jangan berhenti mengasihi, jangan menghentikan kebaikan anda, Bahkan meskipun ketika orang-orang lain menyengat anda.

“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati,” [Luk 6: 36].

Bapa, semoga kami semakin serupa dengan Engkau. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *