Senin, 3 November 2025, Senin Pekan Biasa XXXI
Bacaan: Rm. 11:29-36; Mzm. 69:30-31,33-34,36-37; Luk. 14:12-14.
“Apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar." (Luk 14: 13 – 14)
Mengapa kita memberi? Mengapa kita berbuat baik terhadap orang lain? Sayangnya, motivasi kita tidak selalu baik dan jernih, dan sayangnya lagi, kita tidak selalu menyadari ketidakmurnian motif kita. Mengapa kita memberi dan mengapa kita berbuat baik terhadap orang lain?
Alasan pertama, tidak dinyatakan tetapi sering kali tidak diakui, adalah kepentingan diri sendiri. Kita memberi karena kita ingin mendapatkan sesuatu sebagai balasannya, yah…dapat dikatakan sebuah “investasi” gitu lho… Kita memberi sesuatu karena kita tahu bahwa kita akan mendapatkan sesuatu, bahkan lebih, sebagai balasannya. Itu terjadi dalam bisnis. Kadang-kadang, terjadi juga di Gereja, dalam doa. “Saya akan luangkan waktu 30 menit untuk Misa setiap hari, dan tentu saja, saya tahu bahwa saya akan menerima berkat-berkat lebih dari yang saya harapkan.”
Alasan yang lain untuk melakukan hal itu kepada orang lain adalah kewajiban. Kita melakukan sesuatu kepada orang lain karena itu adalah tugas, kewajiban, sehingga tidak jarang kita lakukan tanpa semangat atau bahkan kasar. Kita lakukan itu sekadar sebagai kewajiban, sebagai seorang yang digaji untuk itu.
Masih ada satu alasan lain untuk berbuat baik bagi orang lain yakni superioritas. Tentu ini merupakan alasan yang tidak baik karena si penerima kebaikan akhirnya justru direndahkan, sebab si pemberi ingin merasa lebih superior dari yang lain. Kita dapat saja memberi tetapi merendahkan kemanusiaan. Kita bisa saja memberi sambil mengumpat. Kita dapat memberi dan kita menanamkan begitu banyak hutang budi pada mereka yang menerima pemberian kita.
Mengapa kita memberi? Banyak alasan dan motif-motif yang buruk dan tidak murni yang tersembunyi dan sering kali sulit kita akui. Hari ini Tuhan mengajarkan agar kita menjadi murah hati tanpa menghitung-hitung. Murah hati, itulah kuncinya. Banyak dari kita dapat bemurah-hati tetapi masih dihitung-hitung, paling tidak impas lah… Tetapi kemurahan hati tanpa menghitung-hitung balasan yang dicontohkan oleh Yesus sendiri.
Dalam Injil hari ini Yesus mengundang kita untuk secara khusus menyambut mereka yang kurang beruntung: orang-orang miskin, lumpuh, buta dsb sebab dengan demikian kita memberi tanpa mengharapkan imbalan. Sebab hanya dengan memberi kita bertumbuh menuju kepenuhan. Memberi membutuhkan pengorbanan. Namun memberi tidak akan memiskinkan kita, malahan memperkaya. Memberi, meluap dari hati yang penuh kasih. Kasih sejati selalu mengalir dalam kemurahan hati yang tulus. Kasih hanya akan menjadi kasih jika dibagikan. Memberi, tanpa mengharapkan imbalan. Memang kita akui, itu lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. Namun kita berusaha untuk semakin mendekati ideal yang diharapkan oleh Tuhan bagi kita, sebab Tuhan sendiri telah memberikan diri-Nya bagi kita tanpa syarat.
Diceriterakan bahwa ada seorang relawan katolik yang suka membantu anak-anak jalanan yang dalam kesulitan. Anak-anak jalanan, yang kebanyakannya muslim atau tak beragama, sangat akrab dengannya. Ia mengasihi mereka dengan tulus dan tak membeda-bedakan. Karena namanya terlalu panjang, yaitu Yeremias Edwin Susanto Uli Siregar, maka anak-anak memanggil dia YESUS saja!
Anda pun dapat menjadi YESUS yang lain.
Doa berikut adalah doa St. Ignasius Loyola yang dapat menjadi doa kita, mohon kemurahan hati:
”Sang Sabda yang tercinta, ajarlah aku berhati luhur sebagaimana pantas bagiku. Ajarlah aku memberi tanpa pamrih, berjuang tanpa mengeluh kesakitan, dan bekerja tanpa mengharap upah. Ajarlah aku menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah, sebab satu-satunya yang kuharapkan ialah hasrat yang tulus untuk selalu melaksanakan kehendak–Nya di dalam segala-galanya. Amin.”

