holy famili expressionism painting

Meneladani Keluarga Kudus

Minggu, 28 Desember 2025, Pesta Keluarga Kudus: Yesus, Maria, Yusuf
Bacaan: Sir. 3:2-6,12-14Mzm. 128:1-2,3,4-5Kol. 3:12-21Mat. 2:13-15,19-23.

“Nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” …. Karena dinasihati dalam mimpi, pergilah Yusuf ke daerah Galilea. Setibanya di sana iapun tinggal di sebuah kota yang bernama Nazaret. Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi-nabi, bahwa Ia akan disebut: Orang Nazaret.” [Mat 2: 13 – 15; 22b – 23].

Sebagian besar dari kita mengetahui sinetron Keluarga Cemara yang ditayangkan mulai tanggal 6 Oktober 1996 hingga tamat pada tanggal 28 Februari 2005. Theme Song sinetron tersebut berbunyi:

Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
mutiara tiada tara adalah keluarga

Benarkah keluarga anda menjadi harta yang paling berharga? Apakah keluarga anda menjadi istana yang paling indah? Puisi yang paling bermakna? Mutiara tiada tara?

Jika keluarga anda adalah Keluarga Kudus, tentu ungkapan-ungkapan itu pasti benar!

Hari ini kita rayakan Hari Raya Keluarga Kudus. Apa yang membuat sebuah keluarga menjadi kudus? Kehadiran Tuhan yang membuat sebuah keluarga menjadi kudus. Apa yang membuat keluarga tidak kudus? Ketidakhadiran Tuhan. Ketika Tuhan tidak ada, kekosongan itu sering diisi dengan materialisme, keserakahan, kejahatan, ketidaksetiaan, yang semuanya tidak memberikan kedamaian sejati. Apakah Tuhan ada dalam keluarga Anda? Apakah keluarga anda adalah keluarga beriman? Apakah dengan beriman kita bebas dari permasalahan?

Tentunya tak seorang pun di antara kita yang tidak pernah mengalami masalah, cobaan dan kesulitan. Injil Hari ini menunjukkan kepada kita bahwa keluarga Yesus, Maria, dan Yusuf pun mengalami kesulitan yang sangat besar. Mereka harus meninggalkan negeri mereka sendiri untuk sementara waktu karena alasan yang tidak mudah dipahami: mereka harus melarikan diri ke negeri yang tidak dikenal karena seseorang ingin membunuh Bayi Yesus, karena ambisi dan egonya!

Dan bagaimana tanggapan St Yosef, kepala Keluarga Kudus, yang mendapat pesan dari malaikat tentang pengungsian itu? Dia bisa saja berkata, “Tuhan, Engkau bilang sebelumnya kalau anak yang akan lahir dari istri saya ini akan menjadi penyelamat bangsaNya. Sekarang sepertinya Dia tidak bisa menyelamatkan diri-Nya sendiri! Apa perlunya harus mengusi ke Mesir? Saya tidak mengerti!” Kita tahu, tentu saja, bahwa Yusuf tidak bereaksi dengan cara itu; dia hanya melakukan apa yang diperintahkan malaikat.

Dan itu adalah caranya bertindak dalam setiap keadaan: dia melakukan kehendak Tuhan tanpa protes, tanpa mengeluh! Ingat: meskipun Yesus adalah Anak Allah, ia menjadi anggota keluarga biasa, dan Ia berperilaku seperti anak kecil seperti biasa, saya rasa nakal juga! St Yusuf adalah kepala Keluarga Kudus. Kita menyembah Yesus sebagai Anak Allah, kita menghormati Maria sebagai Bunda Allah dan Yusuf sebagai penjaga dan pelindung Yesus dan Maria. Tetapi hari ini kita merayakan mereka sebagai sebuah keluarga, sebagai keluarga biasa seperti kita.

Tentunya keluarga itu tidak persis seperti keluarga kita; mereka lebih baik, lebih sempurna, lebih penuh kasih. Namun bukan tidak mungkin untuk ditiru dan diteladani. Tidak seperti keluarga kita. Namun bukan tidak mungkin untuk melihat keluarga mereka sebagai model keluarga kita. Seseorang pernah berkata kepada saya bahwa gagasan untuk menjadi serupa dengan Yesus adalah tidak masuk akal; itu jauh melampaui kemampuan manusia kita. Saya tidak setuju: meniru dalam arti sama dengan, jelas mustahil bagi kita. Tetapi untuk meniru, meneladani dalam arti mencoba, melakukan upaya yang tulus, untuk mencontoh perilaku Yesus bukanlah hal yang mustahil; memang, itu adalah sesuatu yang harus selalu kita coba lakukan.

Dalam bacaan kedua hari ini, kita mendengar kata-kata Paulus, “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan,” (Kol 3: 14). Dan itu menjelaskan cara hidup Keluarga Kudus: mereka saling mencintai dengan cinta yang penuh dan murah hati, tidak mencari apa pun untuk diri mereka sendiri. Paulus menyebutkan serangkaian kebajikan: kesabaran, belas kasih, kerendahan hati, dan lainnya. Daftar kebajikan yang sederhana biasanya tidak menarik. Tetapi jika kita dapat menjadikan kebajikan ini sebagai bagian dari hidup kita, kita pasti akan lebih bahagia! Dan tidak ada keraguan bahwa kualitas-kualitas ini terbukti dalam kehidupan Keluarga Kudus. Dan cinta itulah yang memungkinkan ini terjadi. Cinta tidak hanya ada di antara orang-orang ini, tetapi ia menyatukan semua kebajikan lainnya dan menjadikannya lebih besar dan lebih mulia; itu memperkaya kebajikan-kebajikan itu! Ingat apa yang dikatakan oleh St Paulus: Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna! (1Kor 13: 2).

Mungkin membosankan berbicara seperti ini tentang sesuatu yang begitu abstrak sebagai kebajikan. Mungkin Anda berpikir, “Coba kita bicara tentang yang lebih praktis, tentang apa yang mereka lakukan, misalnya.” Baiklah, apa yang mereka lakukan adalah menghidupi kebajikan-kebajikan ini, saling memperlakukan dengan kasih sayang, cinta, dan kebaikan. Untuk alasan ini mereka adalah model bagi kita. Karena alasan inilah Gereja memberi kita teladan sebagai untuk kita coba tiru.

Apa yang menjadi kekuatan dan kekhasan Keluarga Kudus Nazaret? Kekuatan dan kekhasan Keluarga Kudus Nazaret adalah iman, kesetiaan dan kepasrahan pada kuasa dan kehendak Allah. Kekhasannya adalah harmonis dan menjaga kesucian hidup keluarga sebagai panggilan suci yang mengandung sederet tanggung jawab.

Tantangan yang dialami Keluarga Kudus ternyata sangat kompleks. Mulai dari melahirkan Yesus di kandang, ramalan Simeon yang menyakitkan hati Maria dan Yosef, hingga menyingkir ke Mesir untuk menghindar dari ancaman Herodes. Menghadapi semua tantangan ini, Yosef dan Maria tetap beriman, pasrah, tenang dan setia. Mereka sungguh yakin dan percaya bahwa mereka dipanggil untuk bertanggung jawab membesarkan seorang anak bernama Yesus, yang adalah Sang Juru Selamat. Ungkapan tanggung jawab itu ditampakkan melalui kesetiaan Yosef dan Maria pada perintah Allah. Mereka juga tetap saling setia dan kompak dalam menghadapi tantangan dan kesulitan yang mereka hadapi. Kekompakan keluarga adalah syarat mutlak untuk memiliki kekuatan di saat menghadapi tantangan dan kesulitan dalam hidup dan perjuangan. Tanpa kekompakan tidak akan terjadi keharmonisan dalam keluarga.

Ada begitu banyak keluarga saat ini yang diklasifikasikan sebagai “disfungsional.” Mengapa seperti itu? Ada beberapa alasan, tetapi saya percaya bahwa di atas semua itu kasih tidak dihidupi sebagaimana mestinya. Kita masih mencari kepentingan sendiri; selalu berusaha menyenangkan diri sendiri. Alih-alih mencari kesejahteraan dan kebahagiaan anggota keluarga lainnya, kita mencari kepentingan sendiri. Dengan kata lain, tidak kompak! Keluarga kudus memberi kita contoh di atas segalanya dalam mencari dan bekerja untuk kesejahteraan orang lain. Dan yang terpenting, mereka berusaha melakukan kehendak Bapa; Kehendak Allah adalah hal terpenting bagi mereka.

Ada orang tua saat ini yang tidak pernah mengoreksi tindakan anak-anak mereka. Mereka tidak ingin menyinggung perasaan mereka; mereka selalu ingin menjadi “baik.” Tetapi sebenarnya tidak pernah mengoreksi adalah tidak mencintai! Ini berarti melalaikan instruksi dan formasi yang mereka butuhkan, yang akan membentuk mereka menjadi orang dewasa yang baik, menjadi anggota keluarga manusia yang baik dan terhormat. Jika orang tua sungguh-sungguh mencintai anak-anaknya, ingin membentuk anak-anak mereka menjadi warga negara yang baik, suatu hari anak-anak akan menyadari bahwa orangtua mereka benar-benar mencintai mereka dan bertindak seperti orang tua yang baik. Mungkin sulit membayangkan Yesus sebagai anak-anak membutuhkan teguran dan koreksi  … tetapi Dia benar-benar menjadi anak manusia, maka Dia tentu saja membutuhkan instruksi dan pembinaan. Dan tanpa ragu, kita dapat yakin bahwa Maria dan Yusuf melakukannya.

Di ekstrim yang lain, banyak dari anak-anak kita, kenyang dengan makian. Entah makian yang ditujukan kepada mereka atau mereka mendengar makian yang kita saling lontarkan dalam keluarga. Maka tidak mengherankan bahwa anak-anak dari kecil sudah pintar memaki. Pintar melakukan kekerasan!

Hidup sebagai salah satu dari kita, hidup sebagai anggota keluarga biasa, seperti semua keluarga normal, Yesus – Anak Allah – menguduskan kehidupan keluarga. “Allah hadir untuk menyelamatkan keluarga.” Karena alasan itulah kita rayakan hari ini Pesta Keluarga Kudus. Mari kita mohon rahmat agar dapat menjadikan Keluarga Kudus menjadi model kehidupan keluarga kita! Yosef dan Maria telah meletakkan dasar kehidupan keluarga yang baik. Setiap keluarga kristiani hendaknya meneladan Keluarga Kudus Nazaret yang beriman, setia, tabah menjaga kesucian hidup keluarga dan merawat keharmonisan. Modernisme yang penuh dengan tantangan ini, menuntut setiap keluarga untuk menghidupi sikap-sikap bijak ini.

Ya Allah, Engkau telah berkenan memberikan teladan yang cemerlang kepada kami dalam Keluarga Kudus Nazareth, berilah kami karunia agar kami dapat meneladaninya dengan mempraktekkan keutamaan-keutamaan hidup berkeluarga dan dalam ikatan cinta kasih, dan dengan demikian, kelak kami boleh bersukacita dalam rumah-Mu yang abadi. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *