roti yang kekal

Mencari Hidup Yang Kekal

Senin, 20 April 2026, Senin Pekan Paskah III
Bacaan: Kis. 6:8-15Mzm. 119:23-24,26-27,29-30Yoh. 6:22-29.

"Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu." (Yoh 6: 27)

Sesudah mukjizat penggandaan roti, orang banyak mencari-cari Yesus. Mereka melihat bahwa Yesus tidak naik perahu bersama murid-murid-Nya, kemudian mereka mencari Dia di tempat Ia membuat mukjizat penggandaan roti, tetapi Ia tidak ada juga di sana. Maka mereka “mengejar” Yesus ke Kapernaum. Ketika mereka menjumpai-Nya di Kapernaum, mereka bertanya: “Rabi bilamana Engkau tiba di sini?”

Terhadap pertanyaan itu Yesus menjawab: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu,” (Yoh 6: 26 – 27)

Apa yang dikatakan oleh Yesus ini menyentuh hati kita, bertanya soal prioritas hidup. Apa yang anda cari? Untuk apa anda bekerja? Apakah anda bekerja keras untuk “makanan yang dapat binasa”? Apakah anda mencari “makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal? Atau, “Ya… saya juga cari kehidupan yang kekal…. tapi tipis-tipis saja….”

Atas pelbagai alasan, kita dapat saja terobsesi untuk mencari yang sementara saja di dunia ini. Orang banyak itu mencari Yesus karena mereka telah diberi makan sampai kenyang dan mereka sudah lapar lagi. Mereka mencari “makan” secara harafiah. Yesus menegur mereka, mengarahkan mereka pada alasan yang sesungguhnya untuk mencari Dia. Alasan yang seharusnya ada untuk mencari Dia adalah karena Ia memberi “makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal.” Ia sendirilah yang akan memberikan makanan itu: Roti Hidup, diri-Nya sendiri.

Kita juga perlu bertanya kepada diri kita masing-masing. Apa orientasi hidup saya? Apa yang saya cari? Acap kali kita berorientasi pada pemuasan hasrat, nafsu, kuasa atau harta benda, dan hal-hal fana lainnya. Kita tidak sungguh-sungguh berjuang untuk hidup yang kekal. Atau, kita berjuang untuk hidup yang kekal, tapi “tipis-tipis saja”! Kita menjalani hidup dengan asal-asalan dan sembrono, untuk kenikmatan jasmani saja. Masalah-masalah yang kita hadapi timbul karena kita salah orientasi. Ada banyak contoh yang dapat kita sebutkan, seperti ketidaksetiaan dengan janji pernikahan, penipuan, pertengkaran karena hal-hal yang sebenarnya sepele, penyalahgunaan narkoba, mabuk-mabukan, dll.

Kita semua selalu diundang untuk berorientasi pada “makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal.” Kita diajak untuk memberi kualitas pada hidup kita.

Maka, luangkan waktu untuk menjawab pertanyaan ini: “Apa yang saya cari dalam hidup?” Luangkan waktu dan jawablah dengan jujur. Apa yang anda inginkan? Apa yang anda kejar? Apa kerinduan hati anda yang terdalam? Jika anda jujur anda akan menemukan bahwa banyak hal yang anda inginkan sebenarnya tidak diinginkan oleh Yesus untuk anda cari. Kesadaran akan hal ini merupakan langkah yang baik untuk menemukan “makanan yang sejati” yang ingin Yesus berikan kepada kita. Langkah yang sungguh-sungguh, bukan “tipis-tipis saja”!

Tuhan, semoga aku selalu dengan tekun mencari Engkau, Roti Hidup yang kekal. Amin.

Selamat beraktivitas di pekan yang baru. Carilah Yesus. Carilah yang kekal. Yang sungguh-sungguh bermakna bagi hidup anda. Cari dengan sungguh-sungguh, bukan “tipis-tipis saja”!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *