Sabda Hidup
Kamis, 22 Oktober 2026, Kamis Pekan Biasa XXIX
Bacaan: Ef. 3:14-21; Mzm. 33:1-2.4-5.11-12.18-19; Luk. 12:49-53.
Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala!” (Luk 12: 49)
Hidup kita tidak dapat lepas dari api. Api memberi terang, kehangatan, dan pemurnian; api dapat melelehkan pelbgai macam logam untuk kemudian dibentuk. Api juga mempunyai pelbagai macam kegunaan dalam kehidupan sehari-hari untuk memasak, untuk menghangatkan diri, dan sebagainya.
Dalam Kitab Suci, Api sering kali dihubungkan dengan kehadiran Allah dan tindakan-Nya di bumi dalam hidup umat-Nya. Dalam Perjanjian Lama, misalnya, Allah seringkali menyatakan kehadiran-Nya dalam api, seperti semak-semak yang menyala saat Ia berbicara dengan Musa (Kel 3: 2). Api juga melambangkan kemuliaan Allah (Yeh 1: 4, 13), kehadiran-Nya yang melindungi (2 Raj 6: 7), kekudusan-Nya (Ul 4: 24), keputusan-Nya yang adil (Zak 13: 9), murka-Nya melawan kuasa dosa (Yes 66: 15 – 16) dan sabda-Nya juga digambarkan seperti api (Yer 23: 29). Pun dalam Perjanjian Baru pengaruh Roh Kudus-Nya juga digambarkan dengan api (Mat 3: 11) dan turun-Nya Roh Kudus nampak seperti lidah-lidah api (Kis 2: 3).
Injil hari ini mengatakan bahwa Yesus datang untuk melemparkan api ke bumi. Api yang mau dilemparkan oleh Yesus ke bumi adalah Roh Kudus, api yang menyala dalam diri kita sejak kita dibaptis. Api itu adalah daya kreatif yang memurnikan, membarui, yang membakar derita manusia, membakar segala cinta diri, segala dosa, yang mengubah kita dari dalam, melahirkan kita kembali dan memampukan kita mengasihi, memberi kita keberanian dan semangat, untuk mewartakan kepada setiap orang tentang Yesus dan warta kerahiman dan keselamatan-Nya.
“Gereja tidak memerlukan birokrat dan pejabat-pejabat saja, tetapi para misionaris yang penuh semangat, yang terbakar oleh api cinta, untuk membawa kepada setiap orang sabda Yesus yang menghibur serta rahmat-Nya. Itulah api Roh Kudus. Jika Gereja tidak menerima api ini, atau tidak mengijinkan-Nya membakar dirinya, ia menjadi dingin dan menjadi Gereja yang suam-suam kuku, tak mampu memberi hidup, karena ia dibangun dari orang-orang Kristen yang dingin dan suam-suam kuku,” kataPaus Fransiskus.
Pentinglah bila saat ini kita mengambil waktu untuk bertanya kepada diri kita sendiri: Bagaimanakah hatiku? Bagaimanakah imanku? Bagaimanakah aku hidup sebagai murid Kristus? Dingin? Suam-suam kuku?
Tuhan kobarkan api kasih-Mu dalam diri kami masing-masing. Amin.

