memikul beban bersamanya

Kupikul Beban Bersama-Nya

Sabda Hidup
Kamis, 16 Juli 2026, Kamis Pekan Biasa XV
Bacaan: Yes 26:7-9.12.16-19Mzm 102:13-14ab.15.16-18.19-21Mat 11:28-30.

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu,” [Mat 11: 28]

Mari kita mulai permenungan kita hari ini dengan sebuah pertanyaan sederhana: Kapan terakhir kali Anda merasa benar-benar lega dan segar?

Bukan sekadar setelah tidur selama delapan jam, tetapi lega dan segar dalam pikiran, hati, dan jiwa.

Banyak orang saat ini kelelahan secara fisik, tetapi lebih banyak lagi yang lelah secara emosional dan rohani. Para orang tua mengkhawatirkan anak-anak mereka. Kaum muda bergumul dengan kecemasan dan ketidakpastian. Para pekerja memikul tanggung jawab yang berat. Banyak yang terbebani oleh masalah keuangan, hubungan yang retak, penyakit, perpecahan politik, serta banjir berita yang kurang mengenakkan di TV, surat kabar dan postingan media sosial yang tak henti-hentinya.

Banyak orang nampak tersenyum, tetapi hati mereka berbeban berat.

Kepada orang-orang seperti kita inilah Yesus berbicara hari ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Perhatikan bahwa Yesus tidak berkata, “Marilah kepada-Ku hanya setelah kamu menyelesaikan semua masalahmu.” Ia hanya berkata, “Marilah kepada-Ku.”

Undangan Tuhan ini mengajak kita untuk melihat kembali beberapa hal.

Yang pertama, apa yang anda cari? Apa yang anda kejar?

Nabi Yesaya dalam bacaan pertama mengingatkan bahwa hendaknya, Tuhanlah yang kita cari. “Dengan segenap jiwa aku merindukan Engkau pada waktu malam, juga dengan sepenuh hati aku mencari Engkau pada waktu pagi.” Apa yang kita cari? Tak jarang ketika kita mengejar popularitas, mengejar follower, mengejar jabatan, mengejar materi duniawi secara berlebihan kita kehilangan damai. Kita merasa begitu terbebani. Lelah.

Yang kedua, berhentilah memikul beban yang tidak pernah diminta Tuhan untuk anda pikul.

Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku… Aku akan memberi kamu kelegaan.”

Ada beban yang memang tidak bisa dihindari. Beban untuk merawat orang tua yang sudah lanjut usia, membesarkan anak-anak, melayani keluarga, atau memulihkan diri dari penyakit.

Namun, ada banyak beban yang kita ciptakan sendiri. Kita menyimpan dendam dan kemarahan selama bertahun-tahun. Kita membandingkan diri kita dengan orang lain. Kita terus-menerus khawatir tentang hal-hal yang berada di luar kendali kita. Kita mencari pengakuan dari semua orang. Kita terus-menerus memikirkan kembali kesalahan-kesalahan di masa lalu. Kita membiarkan media sosial memenuhi pikiran kita dengan kemarahan dan kecemasan. Banyak di antaranya adalah beban yang tidak pernah diminta Tuhan untuk kita pikul.

Doa tidak selalu langsung menghilangkan beban kita, tetapi doa membantu kita menyadari bahwa kita tidak memikul beban itu sendirian.

Akhirnya, Yesus mengatakan sesuatu yang mengejutkan: “Pikullah kuk yang Kupasang… sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.”

Bagaimana mungkin sebuah kuk enak dan beban bisa ringan?

Karena ketika pada dua ekor hewan dipasangkan sebuah kuk, yang lebih kuatlah yang menanggung sebagian besar beban.

Yesus berkata, “Kamu tidak menarik beban kehidupan sendirian. Aku memikul beban bersamamu.”

Suatu ketika, seseorang berjumpa dengan seorang petani tua yang sedang menggunakan kuda untuk menarik gerobaknya.
Saat mereka melintasi jalan, orang itu memperhatikan hal yang tidak biasa. Dia perhatikan bahwa petani itu meletakkan sebuah karung berat di pundaknya sendiri sambil duduk di dalam gerobak.
Orang itu bertanya, “Bapak tua, mengapa engkau sendiri memikul karung itu? Kuda itu kan sudah menarik gerobak di mana engkau duduk?”
Petani itu menjawab, “Saya tidak ingin menambah beban pada kuda itu.”
Orang itu tersenyum dan berkata, “Tapi, entah karung itu ada di pundakmu atau di lantai gerobak, tetaplah si kuda itu yang menariknya.”

Betapa seringnya kita melakukan hal yang sama terhadap Tuhan. Kita datang ke Misa. Kita berdoa. Kita mendaraskan novena. Kita mengatakan bahwa kita percaya kepada-Nya. Namun, kita terus memikul beban yang sebenarnya dapat kita pikul bersama-Nya.

Hari ini Yesus dengan lembut berkata, “Letakkan beban itu.”

Bawalah kekhawatiranmu. Bawalah rasa bersalahmu. Bawalah ketakutanmu. Bawalah keluargamu. Bawalah masa depanmu. Jangan memikul sendirian apa yang Tuhan sendiri ingin memikulnya bersamamu.

Dan sepanjang hari ini, semoga kita mengingat kata-kata indah Yesus ini: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”

Tuhan, kami datang dengan beban kami masing-masing. Kami datang bersama-sama untuk saling membantu memikul kuk dan belajar pada-Mu. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *