yesus menyembuhkan dua orang buta

Kita Orang-Orang Buta

Jumat, 5 Desember 2025, Jumat Pekan Advent I
Bacaan: Yes 29:17-24Mzm 27:1.4.13-14Mat 9:27-31.

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." [Mat 9: 27]

Bacaan Injil hari ini mengisahkan penyembuhan dua orang buta di Galilea. Yesus sedang dalam perjalanan dan dua orang buta itu mengikuti-Nya sambil berseru: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud!” Bisa dibayangkan, bagaimana orang-orang buta itu tentu tidak mudah mengikuti Yesus di tengah orang banyak.

Permohonan kedua orang buta untuk disembuhkan mengajak kita untuk mencari kesembuhan dari kebutaan kita sendiri. “Buta hati” dan “tidak peduli” adalah bentuk kebutaan yang bisa lebih berbahaya daripada kebutaan fisik. Bacaan pertama dari Nubuat Yesaya menunjukkan bahwa kesembuhan adalah karya Allah. Sama seperti penglihatan adalah anugerah Allah, demikian pula anugerah pemahaman. Seperti kedua orang buta yang berseru meminta pertolongan, kita juga perlu menyadari bahwa kita membutuhkan kesembuhan dan berseru memohon agar Yesus menyembuhkan kita.

Sangatlah sulit untuk mengakui bahwa kita buta ketika mata kita terbuka lebar. Namun, ada orang-orang yang menderita karena kebutaan kita itu – mereka adalah orang-orang yang terpinggirkan, miskin, lapar, tunawisma, atau bisa jadi pasangan Anda, anak Anda, orang tua Anda, anggota keluarga atau komunitas Anda yang terdekat; semua orang yang nampak berada di luar jangkauan kita karena sikap hidup kita yang sempit. Sering kali orang-orang ini muncul dalam pandangan kita, tetapi mereka ada sebagai perpanjangan dari kebutuhan egois kita sendiri. Meminjam istilah dari psikologi-dinamis, orang-orang ini adalah objek diri kita; mereka ada untuk mendukung pandangan dan kebutuhan egois kita. Kebutuhan mereka tersembunyi di depan mata, karena tertutupi oleh apa yang kita inginkan, bukan apa yang mereka butuhkan.

Untuk dapat melihat atau memahami kita membutuhkan pengetahuan sebelumnya; kita menyebutnya intuisi, yang merupakan nama lain untuk anugerah. Intuisi adalah persepsi samar tentang kebenaran yang perlu dijernihkan, dikristalkan, dalam arti tertentu, dan diolah. Intuisi ini, jika diperhatikan dengan doa, fokus, dan disiplin, dapat membawa kita pada pengetahuan tentang hal yang masih belum kita lihat. Ini adalah cara kita sendiri untuk berseru, seperti orang buta yang memohon kepada Yesus agar mereka dapat melihat. Yesus mendengar seruan mereka dan mengajukan pertanyaan yang sangat tajam, “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Pertanyaan itu menyentuh hati kita, orang-orang buta ini. Hanya ketika kita benar-benar ingin melihat, mata kita akan dicelikkan. Jika tidak ada keinginan untuk melihat, kita akan tetap buta terhadap apa yang sebenarnya ada di depan mata kita.

Adakah blind-spots dalam hidup Anda yang menghalangi Anda untuk mengenali kuasa dan belas kasih Tuhan? Adakah yang menghalangi anda untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya dan taat melaksanakan perintah-Nya? Adakah hal-hal yang menghalangi Anda melihat sesama di sekitar anda apa adanya?

Ya Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami! Sembuhkanlah kami!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *