Selasa, 12 Agustus 2025, Selasa Pekan Biasa XIX
Bacaan: Ul. 31:1-8; MT Ul. 32:3-4a,7,8,9,12; Mat. 18:1-5,10,12-14.
Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga.” [Mat 18: 1 – 4]
Tuhan berbicara tentang menjadi yang terbesar hari ini. Sebagai guru yang praktis dan bijaksana, Dia menggunakan lebih dari sekadar ilustrasi. Dia memilih seorang anak kecil sungguhan, menempatkannya di tengah-tengah mereka agar semua orang melihatnya, dan menekankan pelajaran sekaligus peringatan: “Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil…”
Jadi, apakah Dia berbicara tentang menjadi besar atau tentang jalan masuk ke dalam Kerajaan Sorga?
Di salah satu gerbang kota Yerusalem kuno, terdapat apa yang mereka sebut “lubang jarum”, sebuah pintu yang sangat kecil yang hanya memungkinkan satu orang masuk pada satu waktu. Yesus juga pernah mengatakan bahwa lebih mudah seekor unta memasuki “lubang jarum” daripada seorang kaya memasuki Kerajaan Allah. Gerbang besar umumnya ditutup pada malam hari, sementara pintu kecil itu dapat dibuka oleh penjaga. Orang yang menunggang kuda tidak dapat masuk. Orang yang membawa terlalu banyak barang, seperti barang bawaan yang menggembung, juga tidak dapat masuk. Seseorang harus melepaskan barang bawaanya, membungkuk, dan menyingkirkan segala macam beban dari tubuhnya sebelum ia dapat masuk. Seseorang harus benar-benar “ramping dan langsing” untuk dapat masuk. Orang yang sombong dengan membawa begitu banyak barang tidak akan dapat masuk.
Ya, Tuhan sedang berbicara tentang dua sifat yang tampaknya kontradiktif yang akan memungkinkan seseorang masuk ke dalam Kerajaan Surga: kerendahan hati, yang Ia kaitkan dengan kebesaran.
Orang dewasa seperti Anda dan saya bisa sangat rumit. Anak-anak tidak rumit. Mereka memiliki selera dan kebutuhan yang sederhana. Ketika seorang anak bahagia, seluruh dirinya bahagia; ketika seorang anak marah, seluruh dirinya juga marah. Tidak ada kepura-puraan, tidak ada yang mengatakan “ya” padahal sebenarnya bermaksud “tidak.” Apa yang Anda lihat itulah yang sesungguhnya. Apa yang Ia katakan adalah apa yang Ia maksudkan dan apa yang Ia maksudkan adalah apa yang Ia katakan. Ada sebuah cerita berjudul “The Emperor’s New Clothes” karya Hans Christian Andersen. Dalam cerita tersebut, seorang kaisar yang sombong tertipu oleh penenun palsu yang mengatakan bahwa mereka membuat pakaian yang hanya bisa dilihat oleh orang pintar dan yang layak untuk jabatannya. Semua orang berpura-pura melihat pakaian yang indah, termasuk para pejabat dan warga, karena takut dianggap bodoh. Namun, seorang anak kecil yang polos dan apa adanya berteriak, “Kaisar tidak memakai apa-apa!” Seorang anak, sederhana dan tidak rumit.
Tetapi di atas segalanya, seorang anak pada umumnya lemah lembut. Kesederhanaannya yang menawanlah yang memungkinkan ia masuk ke dalam hati setiap orang. Ia datang apa adanya, tanpa pedang dan pisau terhunus, dan jelas tanpa agenda tersembunyi. “Barangsiapa yang menjadi rendah hati seperti anak kecil itu, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.” Semoga itu adalah anda dan saya.
Ya Tuhan, bantulah aku untuk kembali memiliki kesederhanaan dan kepolosan seorang anak. Amin.

