basuh tangan

Kasih di Balik Tradisi

Selasa, 10 Februari 2026, Peringatan Wajib St. Skolastika
Bacaan: 1Raj. 8:22-23,27-30Mzm. 84:3,4,5,10,11Mrk. 7:1-13.

“Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” [Mrk 7: 6]

Perikope Injil hari ini mengisahkan konfrontasi Yesus dengan para Ahli Taurat dan para Farisi yang datang dari Yerusalem. Rupanya mereka diutus oleh Mahkamah Agama (Sanhedrin), untuk menilai ajaran Yesus yang menurut mereka “menyimpang”. Pertanyaan pertama mereka kepada Yesus adalah, mengapa Yesus tidak memerintahkan murid-murid-Nya melakukan adat membasuh tangan sebelum makan. Kitab Keluaran 30: 17dst, telah menetapkan aturan bagaimana imam-imam harus membasuh tangan mereka sebelum menghunjukkan persembahan. Tradisi Yahudi telah memperluas aturan ini yaitu mencuci tangan setiap kali mereka makan, untuk memberi makna religius pada aktivitas makan. Bagi kita mencuci tangan sebelum makan adalah hal biasa, antara lain untuk alasan kesehatan. Tetapi bagi orang Yahudi, mencuci tangan adalah kewajiban agama.

Ritual pembasuhan adalah simbol dari kemurnian moral yang harus dimiliki seseorang saat ia hendak mendekati Allah. Seorang harus mempunyai pikiran dan hati yang bersih. Tetapi para Farisi telah menggesernya dengan lebih memperhatikan praktek-praktek dan ritual luaran ketimbang maknanya. Oleh sebab itu, Yesus hendak memulihkan makna asali dari ketentuan-ketentuan hukum, yang dimaksudkan untuk mengajarkan cara yang benar untuk menghormati Allah.

Yesus justru mengejutkan mereka dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang munafik yang hanya manis di bibir namun melalaikan ajaran-ajaran Allah, dan menggantikannya dengan penafsiran-penafsiran buatan manusia. Sebagai contoh, Yesus menunjukkan bagaimana mereka dengan lihainya menghindari perintah Allah untuk menghormati orang tua dengan memelencengkan penafsiran hukum tentang korban. Menurut penafsiran mereka, seseorang dapat dibebaskan dari kewajiban memelihara orang tua pada masa tua mereka jika uang atau harta bendanya sudah dipakai untuk korban atau persembahan. Yesus mengatakan bahwa sumber utama dari kecemaran adalah hati dan pikiran seseorang. Hidup beragama yang sejati bukanlah pelaksanaan ritual-ritual eksternal saja yang terpisah dari maksud hati dan pikiran.

Apa pesan-pesan Injil hari ini bagi hidup kita? Pertama, kita perlu mengingat bahwa esensi hidup beragama adalah relasi personal dengan Allah dan sesama, bukan hanya praktek-praktek luaran agama saja. Kedua, Allah mengharapkan kemurahan hati dan kehendak baik yang akan mendorong kita untuk lebih berbelaskasih, berbuat baik, lebih mampu mengampuni dan lebih siap sedia melayani sesama dengan kasih dan pengorbanan.

Sejauh manakah kita menghormati Allah? Apakah kita taat secara luaran namun hati kita jauh dari Tuhan? Semoga ibadah kita, bukan hanya menjadi tindakan luaran saja, tetapi mencerminkan isi hati kita. Semoga ibadah kita pun nyata dalam tindakan belas kasih. Yuuk, cuci tangan! Bersih di tangan, bersih di hati, dan tak lupa berbagi.

Tuhan, semoga kami belajar dari Yesus bahwa kasih adalah inti dari hukum dan ibadah kami menjadi nyata dalam tindakan belas kasih dan pelayanan kami. Amin.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *